Senin, 24 Agustus 2015

cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi (part V)

“oh itu?!" Bali menunjuk taman di tengah kota, "... namanya taman Sritanjung. Biasanya orang-orang nongkrong di sini sore-sore, dari anak-anak sampai orang tua”. Cerocos Bali, Meskipun ramai, tempat itu terlihat asri dan bersih.
 Cris memperhatikan yang ditunjuk Bali. “keistimewaan tempat ini, tempat ini dekat pasar tradisional, jadi kalau si ibu-ibu belanja bapak-bapak dan anak-anak bisa bermain di sini. Selain itu juga deket masjid besar, masjid terbesar di kota ini”. jelas Bali membuat Cris berdecak melihat bangunan masjid yang indah itu. lagi-lagi cris memotretnya.
“gue pengen sarapan di situ”. Cris memarkir mobilnya di sisi taman. Menunjuk warung berderet di samping taman. Bali menyetujui, soalnya dia belum sarapan juga. Setelah berkeliling-keliling Bali menunjuk nasi tempong, sempat mengernyit sebentar dengan nama aneh yang dipesan Bali, tapi akhirnya Cris memesan yang sama karena kelihatannya enak. 
“huaaaaaa…pedessssss”. Cris mengipasi mulutnya yang kepedesan, wajahnya yang putih seperti bayi sudah memerah karena kepedesan, keringat di dahinya mengalir seperti air dari shower. Wajahnya nyaris semerah rambutnya. Bali melirik cris yang sudah seperti monster sambal.
“siapa suruh ikut-ikutan aku”. Cibirnya sambil memberikan segelas air dingin. Cris meminumnya seperti orang kalap. 
“mana gue tau kalau sambelnya pedes”.gerutunya. Bali hanya mendesah. Namanya juga sambel.
Berkat Nasi Tempong itu Cris menghabiskan sebotol besar air mineral yang sudah dia beli di Roxy tadi. Dan ngomel-ngomel setelahnya. Bali sama sekali tidak mau membantah, kalau dia membantah cowok ini bakal semakin mengomel. Bali hanya mendengus geli, ngomel-ngomel karena kepedesan tapi sambelnya dihabisin. Salah sendiri.
Karena waktu masih siang, cris tidak mau Balik ke Guest House padahal kan mereka harus banyak istirahat buat pendakian nanti malam. Semalam Bali juga kurang tidur, jadi dia sering menguap karena ngantuk. Walau harus kena jitak dari Cris setiap kai Bali menguap, Cris bilang menguap itu nggak sopan. Kalau bukan tamu, Bali sudah menjitaknya balik.
“kamu bilang pengen yang adem-adem kan?”. Tanya Bali pada cris, sisa merah di wajahnya sudah mulai hilang. Cris mengangguk. Heran, padahal nggak ada panas sedari tadi. Cuma mendung yang sudah siap menyiram mereka dengan air hujan. “ini namanya KALIBENDO, daerah perkebunan, kamu bisa lihat banyak perkebunan disini”. jelas Bali, yang sepertinya barusan diabaikan karena cris sudah berjalan lima langkah di depannya. Iyuuuh.
Cris tampak senang melihat pohon-pohon besar, sesekali dia memotret pohon-pohon besar yang bernama BENDO , menghiasi sisi jalan setapak menuju sungai besar. Pohon cengkeh di sekeliling dia juga, dia memotret bunga cengkeh yang wangi. Juga lapangan penuh rumput hijau yang indah. Hingga sampai jembatan  di atas sungai. Cris terdiam. Seolah kakinya terpaku. Wajahnya pucat menatap sungai berbatu itu. Bali mengernyit. Anak laki-laki itu seperti ketakutan. Bali bisa melihat lututnya gemetar.
“kamu nggak apa-apa?”. Tanya Bali cemas melihat tamunya yang seperti mayat hidup. Tubuhnya nyaris tumbang ke Belakang kalau aja tangannya tidak sigap menahan di Jembatan.  “kamu kenapa?”. Tanya Bali semakin cemas. Nafasnya terdengar patah-patah, Bali mulai panik. Gawat kalau sampai dia pingsan atau kenapa-napa, dia sendirian disini.

“gue mau pulang aja, gue nggak suka disini”. ujarnya gemetar yang berusaha ditutupi. Cris nyaris terjatuh saat melangkahkan kakinya. Namun dia menolak saat Bali ingin membantunya. Bali menatap punggung cowok yang berjalan terhuyung kembali ke mobil itu bingung. Ada apa? (bersambung)

Jumat, 21 Agustus 2015

Review Koala Kumal : Patah Hati ?



Patah hati : Kisah Hidup

Setelah membaca KOALA KUMAL, aku jadi kepikiran tentang patah hati – patah hati yang pernah aku rasain. Kata bang Radith, patah hati melatih kekuatan kita dalam menahan sakit hati, patah hati membuat kita semakin bertumbuh dewasa, tapi bagiku patah hati membuatku tahu tentang apa yang orang lain pikirkan terutama pikiran para cowok . sama halnya dengan Raditya Dika yang mengamati tentang tingkah laku serta kode-kode cewek sampai dia paham tentang apa yang cewek pikirkan, ternyata patah hati benar-benar bisa membuat kita tahu beberapa hal.
1. kita akan tahu apakah cowok itu beneran suka sama kita atau hanya sekedar PHP. Memberikan peluang dan harapan seolah-olah menyukai kita balik , nyatanya dia melakukan hal itu ke banyak cewek yang dikenalnya. Mendengarkan kita seolah-olah hanya kita yang didengarkan, melihat kita seolah-olah hanya kita yang dia lihat dan merayu seolah kita adalah special.

2. kita akan tahu mana cowok yang serius dan pura-pura serius. semua cowok pasti akan melakukan yang terbaik kepada cewek saat pedekate. Menunjukan yang baik-baik dan melakukan yang baik-baik pokoknya nggak ada cacatnya deh, hanya saja. itu karena dia ingin memilikimu, tepatnya memiliki pacar, setelah dia putus dia tidak bisa menjalani hidup sendiri jadi dia akan melancarkan aksinya merayu beberapa cewek dan berusaha sebaik mungkin untuk (asal) mendapatkan cewek. Dengan kata lain : sebagai pelarian. Dia akan berusaha maksimal untuk merayu beberapa cewek dan berharap ada satu atau lebih yang nyantol sebagai pacarnya. Cowok seperti ini tidak akan pernah serius menjalin hubungan. Bisa di bilang dia hanya berambisi memiliki pacar, bukan mencintai.

3. Cowok yang akan memanfaatkanmu melalui kata-kata mutiaranya yang akan menerbangkanmu hingga ke langit ke tujuh dan akhirnya kamu akan menuruti apapun yang bisa kamu lakukan untuknya. Jika kamu menolaknya kamu akan kehilangannya. Karena dia akan mencari wanita lain yang bisa di manfaatkan dan menuruti kata-katanya setelah membuatnya bertekuk lutut.

4. cowok yang tidak menyukaimu dan berteman denganmu karena tidak ingin menyakitimu. Dia jelas-jelas tidak menyukaimu, hanya karena dia takut di bilang jahat dia akan tetap menjadi temanmu. Namun, kita harus tahu secara detail bahwa kadang-kadang kita sedang di tolak secara halus hanya kita tidak menyadarinya. Seperti ketika kamu curhat dia hanya akan berkata ‘sabar,semangat!’ tanpa ingin tahu lebih lanjut masalahmu. Atau saat kamu menulis status tentang masalahmu di media social dia sama sekali tidak terpengaruh dengan itu. bisa jadi, dia tidak menyukaimu hanya sebatas teman.

5. cowok yang menyukaimu tapi karena beberapa hal dia tidak berani mengungkapkan. Biasanya dia adalah teman terbaikmu, atau teman yang berusaha menjadi terbaik untukmu. Yang selalu ada, mendengar cerita-ceritamu, mendengar keluh kesahmu, dan menjadi tong sampah apapun masalahmu. Dia akan diam-diam menyukaimu meski sekali-kali dia akan berkata kasar untuk kebaikanmu.

6. cowok yang selingkuh, entah kenapa, ini perasaanku saja atau semua orang merasakannya, cowok yang suka selingkuh adalah cowok yang mudah kita cintai. Dia pemilik kata-kata manis sejagad raya, cowok paling romantic sedunia, cowok ternyaman di muka bumi. Mungkin keahlian-keahlian itu yang membuat mereka di terima di semua sisi perempuan. Bahkan, di balik perempuan baik-baik dan polos sepertiku, aku lupa. Perempuan sepertiku adalah yang paling membosankan dan paling mudah di selingkuhi.

7. cowok-cowok yang mendekatimu, menatap ke arahmu, memandangmu, bicara denganmu dan mengobrol, yang kamu sukai. Tapi, dia menyukai temanmu. Kita bisa melihat ketika dia lebih bahagia saat mengobrol dengan teman kita dan kita hanya akan menjadi basa-basi atau pintu pembuka kearah obrolan mereka.

8. cowok-cowok yang cinta mati padamu, yang tidak bisa melupakanmu bertahun-tahun, yang sungguh-sungguh memikirkanmu, tapi kamu tidak memikirkannya. Mungkin karena dia terlalu mencintaimu membuatmu tidak khawatir akan kehilangan dia, jadi kamu merasa tidak perlu mempertahankannya dengan perhatianmu karena tanpa melakukan itu mereka akan tetap mencintaimu.

9. cowok yang kamu sukai, dan dia juga menyukaimu. Tapi ada sesuatu yang membuat kalian tidak bisa bersama. Ketika kalian berdua bersama orang-lain : pacar masing-masing.

10. cowok yang akan datang di saat merindukanmu dan pergi saat merindukan yang lain, tipe cowok baik-baik yang akan pergi dan datang sesukanya. Tipe cowok yang tidak mempertahankanmu namun juga tidak mau melepasmu.

jangan tanya berapa kali aku patah hati, aku juga menulis tentang pengalaman orang lain kok. 

Cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi (part IV)

Bali mengantarkan cowok itu sampai di kota Banyuwangi yang berjarak 17km dari guest house . Walau sedikit menahan ngeri karena Bali nggak yakin cowok ini punya SIM A. dan selalu berdoa kalau nyawanya akan baik-baik saja. Sesekali Bali bercerita tentang kota tempat kelahirannya ini, tentang bagaimana nama Banyuwangi muncul. Banyu yang berarti air dan wangi yang berarti harum.
Cris sempat bertanya, kenapa namanya Banyuwangi?. Bali bercerita tentang seorang wanita bernama Sritanjung dan laki-laki bernama Sidopekso. Mereka adalah pasangan suami istri, namun mereka tinggal bersama ibu Sidopekso. Ibu Sidopekso membenci Sritanjung sehingga memfitnah Sritanjung selingkuh. Sritanjung bunuh diri dengan menceburkan diri ke sungai, sebelum meninggal dia mengatakan kalau air sungai harum berarti dia benar namun jika ternyata dia bersalah dan sesuai dengan apa yang dituduhkan ibu mertuanya, air itu berubah keruh dan bau busuk. Dan teryata air sungai berubah wangi sepererti bunga.
“emang masih ada air wanginya?”. Tanya Cris sambil menyetir. Bali mengagguk.
“masih ada, tapi aku nggak yakin tepatnya dimana”. Bali menggaruk tengkuknya bingung. Cris mendesis, Bali yakin cowok ini sedang mengejek dirinya.
“kenapa sepanjang jalan gue kayak lihat gambar penari-penari aneh?”. Cris mencermati baleho-baleho yang memasang gambar-gambar penari-penari yang berbeda-beda.
“oooh, itu banner B-fest. Banyuwangi festival kemaren”. Ujar Bali. Bali menjelaskan kalau bulan Desember tepatnya di tanggal 18 adalah hari jadi kota ini. Makanya di bulan Desember selalu di selenggarakan banyak festival budaya, seperti Paju Gandrung (penari laki-laki dan perempuan), Kuwung, Seblang, dsb. Cris tampak tertarik dengan cerita-cerita Bali sampai tanpa sadar mereka sudah akrab satu sama lain. tidak ada kecanggungan seperti pertama kali mereka se-mobil. cris selalu melempar pertanyaan dan Bali menjelaskan dengan penuh expressi yang membuat cerita-ceritanya menjadi menarik tentang kota ini. Belum satu hari cris merasa akrab dengan kota ini.
“dan kenapa nama lo Bali?”. Tanya Cris akhirnya, Bali melongo. Bingung kenapa pertanyaan itu bisa muncul dari mulut cowok itu. Dasar kepo!
“ katanya ayah sih karena dia suka nama itu”. jelasnya tidak yakin.
“lo penghianat kota lo sendiri”. Cecar cowok itu dan membuat Bali memutar bola matanya.
“ dan lo kenapa nama lo cristopher?, aku pikir kamu bule”. Balas Bali. cris bergumam tidak jelas sebelum akhirnya dia menjawab.
“mungkin karena ibu gue suka nama itu”. kilahnya.
“dan lo penghianat bangsa lo sendiri”. Ejek Bali, cris mendengus geli.
“dimana supermarketnya??”. Tanya cris mengalihkan topik. Bali menunjuk supermarket yang bertuliskan ‘ROXY’ besar-besar.
“tuh”. Tunjuk Bali yang nyaris menutupi hidung cris. Cris berdehem. Bali menarik kembali tangannya. Cris memutar setir untuk berbelok.
“disini nggak ada mall ya? kecil banget”. cibirnya. Bali lagi-lagi harus mendengus kesal mendengar cibiran anak ini. sabar Bali… sabar…
“nggak ada”. sahutnya. Cowok itu mendengus mengejek, Bali hanya bisa meliriknya dengan tatapan listrik , berharap mulut cowok itu tersambar kilatan dari matanya.
Baguslah supermarket tidak terlalu ramai karena masih pagi. Bali malas antri soalnya. Bali hanya mengikuti Cris yang tampak berputar-putar di area minuman dan camilan. Setelah selesai, ke Kasir lalu membayarnya. Bali pikir setelah belanja mereka akan pulang, ternyata tidak. Cris bilang dia mau lihat pantai. Bali memutar bola matanya lalu mengajaknya ke pantai ‘BOOM’ yang hanya berjarak sepuluh menit dari ROXY.
Bali bisa melihat kilatan bahagia saat cris menatap laut. Seolah dia ingin berlari kesana dan menceburkan diri seandainya Bali tidak berdiri disampingnya. Bali berani bertaruh, selama hidup di Jakarta dia tidak pernah melihat pantai, lihat aja caranya menatap laut, norak banget.
“suka ya?”. Tanya Bali sedikit menyindir. Tampang norak cowok ini saat melihat laut benar-benar membuat Bali geli. Cris tersenyum miring, sok cool. 
“kalau  pagi, kita bisa lihat Sunrise dari sini. Makanya kota ini di sebut Sunrise of Java”. Bali membentangkan tangannya dengan bangga kearah laut. Mereka berdiri di tepi paling ujung. Makanya mereka bisa melihat laut lebih luas dan pulau Bali di seberang sana.
Cris tidak menyahut, dia berlari ke mobil. Bali mengedikan bahu tidak mengerti. Beberapa detik kemudian Cris kembali dengan membawa kamera mirrorless miliknya, lalu memotret pemandangan yang terbentang di hadapannya.

 Cris terlihat kagum dengan laut. Sedangkan Bali menikmati angin yang lembut sedang menerpa wajahnya dengan mata terpejam. Cris melirik Bali yang tampak menikmati angin membelai rambut panjangnya. Iseng, cris memotretnya. Click. 
Cris tersenyum tipis yang tidak diketahui oleh siapapun disana, termasuk Bali. (bersambung)

Kamis, 20 Agustus 2015

Surat untuk Nata : kamu adalah cobaan.




Hey Nata, Aku sedang bersama teman-temanku. Tapi aku tidak sekalipun bisa berbaur dengan mereka karena pikiranku tidak pada tempatnya.  Dua anak menemani perjalananku ke kota sebelah, padahal aku berharap kamu yang bersamaku. Tapi, ah sudahlah…kamu punya urusan lain yang lebih penting di tempat lain. Mereka mengajakku berjalan-jalan di Mall, menemaniku berkeliling menikmati gemerlapnya kota besar. Tapi, aku seolah tak bernyawa. Pikiranku tidak focus. Aku berkali-kali mengecek ponsel, berharap kamu akan menghubungiku. Tapi, aku hanya berharap.

Mereka mengajakku berjalan di trotoar, menikmati jalanan kota besar yang ramai. Aku berusaha menghargai mereka yang menyempatkan waktu menemaniku berkeliling dan tinggal semalam lagi hanya karena khwatir aku kenapa-napa. Bagaimana denganmu? Aku pasti bercanda mengharapmu khawatir padaku. Aku berusaha terlihat menikmati perjalanan bersama mereka. ya, aku bersyukur ada mereka yang menemaniku di kota besar yang jauh dari rumah. Tanpa mereka aku tidak akan tahu mau kemana dan harus kemana. mungkin aku akan tersesat.

Di dalam Bus, aku melihat matahari terbit dan aku masih saja memikirkanmu. Hey, Nata apa yang telah kamu lakukan padaku? Kamu terus saja ada dipikiranku dimanapun aku berada. Sekeras apapun aku berusaha tidak memikirkanmu tubuhku menolak untuk berkonspirasi. Jantungku akan berdetak lebih cepat, setiap kali aku menolak untuk memikirkanmu. Aku merasa ada yang salah. Aku tidak sedang jatuh cinta kan?

Butuh waktu beberapa minggu, aku sudah bisa melupakanmu. Kehidupanku mulai normal. Aku sudah tidak sering deg-degan karena memikirkanmu. Setelah berhasil melewati hari-hari tanpamu dengan kegalauan, seperti menunggumu muncul di timeline atau PM. Akhirnya, aku tidak lagi melakukan hal seperti itu, menunggumu tidak jelas seperti orang kelebihan kafein. Kamu sudah menghilang dari pikiranku. Aku bisa makan dengan baik dan bekerja dengan baik tanpa memikirkanmu. Ya, memikirkan orang asing yang aku temui hanya dalam dua hari, seperti orang gila, dan mengganggu kehidupan normalku, aku harus menghentikannya. aku harus segera mengembalikan akal sehatku.

Aku mendapatkan job  keluar kota. Senang? Tentu saja. Aku bisa mengalihkan semua perhatianku full pada pekerjaan. Tidak ada waktu untuk memikirkanmu dan aku senang. Bagaimana sempat aku memikirkanmu, aku harus tidur sebelum jam 9, dan bangun jam setengah 3 pagi dengan shubuh yang membekukan. Mandi dengan air es, dan bersiap naik gunung. Aku bersama tamuku bergegas ke bukit untuk menyaksikan Sunrise. Dengan suhu sekitar 5 derajat, aku berdiri diantara orang yang menunggu sunrise. Di saat itu, lagi-lagi aku memikirkanmu, aku membayangkan aku bisa melihat sunrise ini bersamamu. Aku tersenyum geli, lalu mengutuk diriku sendiri yang suka berkhayal. untuk apa aku memikirkan itu? sejenak akal sehatku nyaris goyah.

Matahari mulai memamerkan gradasi warna jingga. Cantik. Semua orang tak terkecuali aku terpesona pada Sunrise. Tahukan, setiap pagi adalah awal yang baru  dan semangat baru, Aku tersenyum, menguatkan hatiku agar aku tidak banyak memikirkanmu lagi.

Tamuku menghilang, aku tidak tau kemana dia pergi. Ah, pasti gara-gara aku terlalu banyak melamun. Aku mencarinya di sela-sela puluhan orang dengan panik dengan matahari masih belum muncul sepenuhnya . Panikku pudar ketika aku mendengar suara yang membuat kembali jantungku berdegub kencang. Mungkin aku sudah gila, mendengar suara yang mirippun aku kembali berdebar, seolah usaha yang aku lakukan selama ini untuk melupakanmu sia-sia. Sekuat hati aku mengabaikan suara yang terdengar samar-samar itu. Mungkin aku hanya berhalusinasi, mungkin aku terlalu memikirkanmu sehingga aku mulai menciptakan suara-suara sendiri. pikirku. Sekuat hati aku tidak mau memikirkan kalau suara itu memang milikmu, aku takut berharap kamu benar-benar ada di sini. 

Matahari sudah mulai tinggi dan menyinari orang-orang disekelilingku. Dan hal pertama yang aku lihat ketika matahari mulai benar-benar bersinar pagi ini adalah, ...kamu. Aku melihat kamu diantara puluhan orang. Cahaya matahari menyorot kearahmu, Seolah sang matahari menunjukanku keberadaanmu di sana. Kamu sedang bersama 3 orang temanmu sedang berbincang. melalui celah diantara dua turis yang berdiri di depanku aku melihatmu. Aku melihatmu beberapa detik, masih mencerna apa benar anak laki-laki yang menggunakan topi itu kamu? Yang sedang berbincang dengan bahasa inggris, Berjaket coklat. 
Benar, itu kamu.
Disaat aku sudah mulai melupakanmu, kamu muncul dihadapanku, bersama matahari.

Aku masih terpaku menatapmu dan bertanya pada Tuhan, “ Tuhan, ini cobaan macam apa?”

Hei Nata, sepertinya Tuhan sedang bercanda denganku sekarang. 

usaha yang aku lakukan sudah sia-sia, dinding yang susah payah aku bangun runtuh dalam hitungan detik. Tanpa instruksi bibirku sudah tersungging melihatmu ada di tempat yang sama denganku sekarang. iya. aku bahagia. Nata, apa aku berdosa?

Selasa, 18 Agustus 2015

Cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi (part III)

Setelah Bali sukses mabuk kendaraan, karena tamunya lancang duduk di depan, duduk di tempatnya dan memaksanya untuk duduk di belakang selama setengah jam di perjalanan. Sekarang seperti ada konstraksi aneh di perutnya. Mual. Ditambah sekarang Bali disuruh membawakan ransel cowok itu yang super berat, yang lebih mirip kulkas. Uuuh. Nino, supir mereka, hanya menatap Bali prihatin.
“ sini aku bantu Bal”. Ujarnya sambil mengulurkan tangannya. Bali menurunkan tas berat itu dan tersenyum penuh rasa terima kasih pada Nino. Nino hanya membalasnya dengan hendikan bahunya.
“ dimana kamar gue?”. Tanya cowok itu setelah memperhatikan sebuah restoran di depannya malas, dia ingin buru-buru masuk kekamar dan istirahat. Perjalanan yang  berjam-jam ini cukup melelahkan baginya.
“ kamar anggrek, yang paling atas mas”. Sahut Bali dibuat sopan.
Cowok itu menoleh pada Bali sebentar, seolah keberatan dipanggil Mas. Namun, memilih untuk melangkah menuju tangga-tangga kecil jalan menuju kamarnya, daripada protes.
Bali mengelus dada, lega. akhirnya urusan dengan cowok itu berakhir, tinggal mengantarkannya ke Kawah Ijen besok pagi, malamnya dia bisa pergi ke Banyuwangi bersama teman-temannya untuk merayakan tahun baru. Horeeeeee…..Bali bersorak dalam hati. Tanpa sadar dia melompat-lompat gembira.
 “oh iya”. Kata cowok itu berbalik, menghentikan aksi lompat-lompat Bali.
“iya?”. Sahut Bali tenang.
“kapan kita naik kekawah?”. Tanya cowok itu berhenti di tengah-tengah tangga.
“pagi jam 6”. Jawab Bali. Cowok itu tampak berfikir sejenak. Lalu melirik arlojinya.
“ini sudah jam setengah 3, gue butuh istirahat, gue nggak bisa bangun jam segitu. Gue denger kalau di kawah ijen itu ada Bluefire. Gue mau lihat itu. jadi kekawahnya besok malam saja”. tukasnya. Jelas. Dan reflek membuat Bali menganga.
Hey! Aku udah punya rencana besok malam. Gerutunya dalam hati. Masa dibatalin sih?, ini kan acara malam tahun baru perdananya bersama teman-temannya dan gebetannya, Mas Angga. Masa dihancurin sihhh..???
“tapi..”. Bali berniat protes, tapi cowok itu sudah keburu pergi kekamarnya tanpa peduli apa yang sedang Bali rasakan. Bali menghentak-hentakan kakinya kesal. Uuuhhh…
#
Bali sudah berniat untuk mundur dari tugas ini, dia mencoba konsultasi sama pak bos-nya. Berunding. Bernegosias. Dari cara halus sampai merengek. Tapi jawabannya adalah tidak bisa. Katanya tidak ada pemandu wisata lain yang bisa menggantikan Bali dengan alasan fullbook. Guide-guide di sini sudah punya jadwal semua. Kasihan sekali, mereka juga tidak bisa merayakan malam tahun baru bersama pacar atau keluarga mereka. Bali merasa nasib mereka sama.
Dan baru saja dia menelepon sohibnya sekaligus makcomblangnya, vika, untuk memberitahu kalau dia gagal datang. Vika terdengar kecewa berat, Padahal gadis itu sudah mengatur sedemikian rupa acara buat nanti malam untuk ketemuan sama mas Angga. Sial. Bali hanya bisa manyun sepagi ini.
“di sini nggak ada penyewaan mobil?”. entah sejak kapan, cowok itu sudah berdiri di depan meja resepsionis. Mengagetkan Bali yang sedang melamun. Bali tersentak. Dia melirik arlojinya yang menunjuk pukul 8 pagi.
“heh?”. Tanya Bali bingung. Sepertinya ada kata-kata mobil barusan. Cowok itu menatapnya dengan tangan terlipat di depan dada dan alis terangkat, mengisyaratkan kalau dia tidak ada mengulang kata-katanya. “ada”. sahut Bali segera.
“gue butuh mobil sekarang”. Ujarnya. Bali mengangguk lalu segera membuka laci dan mengambil kunci mobil dari sana.
 “nih”. Bali mengulurkan kuncinya pada cowok yang kelihatan banget baru mandi itu. wangi lemon menyeruak dari jaketnya. Bali baru tau kalau rambut cowok ini merah kecoklatan dan matanya berwarna coklat tua. Sekarang rambut merah yang basah itu terlihat keren di mata Bali. Eh, Bali menggeleng cepat mengaburkan apa yang sedang dia pikirkan barusan.
“lo ngapain bengong, bukannya lo harus ikut gue?”. Ujarnya, Bali mengernyit tidak mengerti. Cowok itu menatapnya penuh arti. “bukannya lo pemandu  gue?”. Tambahnya.
“eh?”. Bali bengong. Cowok itu memutar bola matanya kesal, kenapa dia harus mendapatkan pemandu super lemot kayak dia?. Cristopher mendengus sebal.
 “aku?”. Dan Bali masih bertanya.
“emang ada guide lagi disini? gue kan nggak tau daerah ini. Gue butuh belanja, stok makanan gue habis”. Imbuhnya. Bali mendengus menatap tampang sok cowok itu, lalu meraih tas kecilnya di sebelah komputer.
“iya,iya”. Sungutnya, lalu mengikuti tamunya yang sudah ada di sebelah tropper.

“nggak ada mobil yang lebih bagus ya?”. cibirnya saat menghidupkan mobil dengan sedikit susah payah. Bali tidak menjawab, dia hanya mendengus pasrah. harus sampe kapan dia bersabar?. Oh iya, sampe cowok ini Balik ke kandangnya. (bersambung)

Senin, 17 Agustus 2015

Review film : you are the apple in my eyes



Awalnya ingin menonton film ini dari review-review yang pernah aku baca, berkisah tentang seorang anak laki-laki yang diawasi oleh anak perempuan paling pintar. Sering ditusuk dengan pulpen hingga sampai ada bercak biru di punggungnya. hari ini aku ingin mereview film tersebut.

The opening :
-        dibuka dengan adegan anak laki-laki (ko teng)memakan apel sambil menatap seragam dengan coretan biru di punggung. Dibuka dengan sebuah cerita saat tahun mereka memasuki tahun pertama sekolah SMU. Memperkenalkan tokoh utama dan teman-temannya satu persatu. Mengenalkan setting tempatnya dengan ringkas dan jelas.

The catalyst  :
-        dua anak laki-laki yang bosan dengan pelajaran lalu melakukan sesuatu yang dilarang dilakukan di dalam kelas. Kedua anak itu dihukum karena perbuatannya. Tempat duduk mereka dipindah. ko teng dipindah di depan shian ay gadis paling pintar di sekolah. Karena nilai ko  teng paling bawah shian ay ditugaskan untuk membimbing ko teng belajar. Koteng menolak karena dia tidak menyukai gadis pintar dan sombong. Shian ay menolak karena dia tidak menyukai anak bandel seperti ko teng.

The big event :
-        muncul guru bahasa inggris yang sangat galak, shian ay lupa membawa buku bahasa inggris. Ko teng tidak tega dan memberikan buku bahasa inggrisnya pada shian ay. Shian ay tersentuh dan dia bertekad untuk membantu ko teng belajar.

The pinch  :
ko teng mulai menyukai shian ay, namun shian ay masih memberi jeda apakah mau menerima atau tidak, meskipun shian ay menyadari perasaannya pada ko teng. Waktu berlalu hingga mereka sama-sama kuliah ko teng menyatakan perasaannya pada shian ay, tapi shian ay berkelit dia khawatir jika mereka pacaran perasaan mereka akan berubah, ko teng menganggap kalau shian ay tidak menyukainya jadi ko teng menyatakan perasaannya dan berharap shian ay tidak menjawabnya hanya membiarkan ko teng tetap bisa menyukainya, karena dia takut ditolak. Padahal shian ay berniat untuk menerima ungkapan ko teng tapi karena ketegasan ko teng melarangnya memberikan jawaban, shian ay hanya bisa diam dan menyimpan perasaannya rapat-rapat.

The crisis :
-        karena ketakutannya ditolak, ko teng mengadakan lomba boxing. Dia menantang seluruh penghuni asrama. Dan terjadilah perlombaan yang menegangkan. Ko teng ambruk, shian ay muncul di tempat perlombaan. Shian ay kecewa pada ko teng karena kelakukannya yang kekanak-kanakan. Mereka bertengkar hebat, antara ko teng dan shian ay. Pertengkaran yang berakhir dengan perpisahan mereka.
-        shian ay berpacaran dengan sahabat ko teng sehingga membuat jarak mereka semakin jauh.

the showdown :
-        terjadi gempa bumi di pusat kota, ko teng khawatir pada shian ay dan menelpon gadis itu, ternyata gadis itu juga mengkhawatirkan ko teng. Akhirnya mereka berbaikan.

The realization :
-        ko teng datang ke pernikahan shian ay, shian ay menikah dengan orang lain. Tanpa shian ay sempat menyampaikan perasaan yang sesungguhnya pada ko teng. Sebelum ko teng tahu perasaan shian ay. (Tapi penonton tahu persis perasaan mereka masing-masing melalui montage). Ko teng datang dengan wajah bahagia dan mendoakan shian ay bahagia.

Kata – kata yang paling diingat :
-        Ko teng : orang paling pintar selalu semena-mena dan suka memerintah seenaknya. Mentang-mentang paling pintar suka merendahkan orang bodoh.
Shian ay : aku tidak merendahkan orang bodoh tapi aku merendahkan orang yang tidak suka belajar, dan jangan pernah merendahkan orang pintar yang giat belajar.
-        Ko teng : untuk apa kamu belajar giat kalau kamu tahu tidak akan ada gunanya?
Shian ay : ada beberapa hal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh meskipun kita tahu tidak akan ada hasilnya.
-        Ko teng : titik tertinggi kamu sangat-sangat mencintai seseorang adalah ketika ada orang lain yang mencintainya dan menyayanginya dari hati yang paling dalam kamu akan benar-benar mendoakannya bahagia selamanya.

Adegan yang paling diingat :
-        Shian ay lupa membawa buku bahasa inggris, ko teng memberikan miliknya dan rela dihukum oleh gurunya.
-        Shian ay menusuk punggung ko teng dengan pulpen biru, hingga ada bercak biru di punggungnya.
-        Shian ay menangis di tengah hujan, ko teng kembali dengan melawan ego nya sendiri dan menyeka air mata shian ay.

Pesan :
-        Jika kita ingin bersama dengan orang yang kita cintai, kita harus memperjuangkan dia melawan kegoisan kita.
-        Berubah menjadi dewasa itu butuh proses, untuk menjadi pintar harus belajar keras, untuk menjadi sukses harus bekerja keras.

NB : ini film yang bikin galau tanpa alasan. 


CERBUNG : Ada Cinta di Banyuwangi (part II)




“owwwch”. Bali mengelus lengannya yang sakit dan lututnya yang terasa perih. 
Dia mengutuk untuk apapun itu yang menyandungnya barusan. Bali segera berbalik, mencari tau apa yang membuatnya tersandung tadi. 
Bali melihat sepasang kaki yang memalang di tengah koridor. Kaki. Hah? Ada kaki. Jangan-jangan kaki hantu. Hiiii…Bali mulai merinding ngeri.
“ jalan hati-hati dong! lo ngga punya mata?”. Suara serak  dan lelah itu muncul dari sosok yang baru saja terbangun. Dia mengucek-ucek matanya dan mengintip Bali yang terjatuh dari atas jok tempat duduknya. Bali meringis bersalah.
“ kamu manusia?”. Tanya Bali. Bulu kuduknya sudah merinding hebat. Jangan-jangan setelah ini, hantu ini akan menghisap darahnya. Pikiran Bali melayang pada film twilight. Sepertinya, Bali terlalu banyak nonton film horor.
“ bukan!, genderuwo”. Sahut cowok itu kesal seraya mengucek matanya.
Anak laki-laki itu memperhatikan sekelilingnya yang sepi dan gelap. seperti baru tersadar akan sesuatu. cepat-cepat dia bangkit dari kursinya kemudian mengambil tas di rak atas kursi, kemudian mencantolkannya di bahu. Dia melihat Bali sebentar yang masih tertegun ngeri kearahnya, seperti orang yang melihat hantu saja. cowok itu mendengus geli lalu melirik Bali serius. 
“genderuwo, mana ada yang pake tas?”. Tukasnya, kemudian berjalan kearah pintu keluar. Membuat Bali tersadar akan kebodohannya barusan. Memalukan. Rintihnya dalam hati. Kelemahan Bali, dia terlalu mudah percaya omongan orang.
“oh iya”. Bali garuk-garuk kepala.
Bali memperhatikan cowok yang bergerak keluar itu, tanpa menoleh padanya apalagi membantunya berdiri.
 “ ada apa dek?”. Tanya mas Angga yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya, Bali sampai tidak sadar mas Angga sudah ada di sampingnya. Apa yang sedang dia pikirkan barusan?
“ nggak apa-apa mas, Cuma karena gelap aku kesandung”. Bali nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mas Angga membantunya berdiri. Lutut Bali masih terasa ngilu, tapi dia tidak berani mengeluh. Seorang pemandu wisata masa ngeluh sih?.
“ iya tadi mas lupa ngasih kamu senter, udah ketemu tamunya?”. Tanya mas Angga. Bali menggeleng.
“ ummm,sepertinya belum, mungkin dia nggak datang”. Sahutnya ragu.
“ ya udah kamu cari sampai gerbong lima dulu, mungkin saja masih orang di sana kayak anak barusan”. Timpal mas Angga. Bali mengangguk setuju sekaligus senang Angga memperhatikannya, sampai diantarkan senter segala.
“ iya,baiklah, makasih senternya mas”. Bali mengacungkan senter yang diberikan Angga.
“ hmm”. Angga mengangguk. Kemudian, Bali memulai pencariannya lagi ke setiap gerbong. Oh Tuhan, dia dimana sih?
Tidak ada. tidak ada. Tidak ada.
Sampai di gerbong terakhir Bali tidak menemukan ada bule ketiduran di dalam kereta, bahkan tidak ada orang satupun. Dia sudah menyusuri koridor kereta dua kali tapi tidak ada orang satupun. Bagaimana ini? dia harus bilang apa pada bosnya???apa jangan-jangan dia berhenti di stasiun KARANG ASEM? Dua stasiun sebelum Stasiun  Banyuwangi Baru. “ gawat,..”.
Bali langsung mencari ponselnya untuk menghubungi bosnya. Dengan panik Bali mencari nomer kontak bosnya. Dan ketika ketemu Bali langsung memencet 'Dial'. Beberapa kali tidak ada jawaban sampai Bali mendengar ada suara sapaan di seberang sana.
“ya hallo bos,…”. Bali  mulai mengatakan apa yang mau dia sampaikan, bahwa kemungkinan tamunya tidak datang atau turun di stasiun lain. Bali menceritakan bagaimana perjuangan dia mencari tamunya setelah kereta berhenti.
Dan ternyata, tamunya sudah menelpon bosnya dan bilang penjemputnya nggak tepat waktu, membuat dia menunggu lama di stasiun.
Bali hanya bisa menganga mendengar cecaran bosnya itu. tapi, saat Bali berkata, tidak ada bule di stasiun ini, sebelum bos-nya sempat menjawab, kertas di tangan Bali sudat direbut paksa oleh seseorang.
Spontan, Bali berteriak.
“ Hey!”. Pekiknya sebal, dia melotot kearah anak laki-laki yang sedang membaca tulisan itu dengan dahi berkerut. Lalu mendengus.
“ lo dari Ijen Guest House?”. Tanya cowok itu santai sebelum Bali sempat mencacinya, karena mengambil barang orang tanpa ijin. Bali melongo, memperhatikannya sebentar. Tunggu!. bertopi, kemeja kotak-kotak, jeans dan boots. Bali nyaris memekik, ini kan cowok yang ketiduran tadi. Bali mendekap mulutnya sendiri tak percaya.
“ kok kamu tau, emang ada tulisannya di situ?”. Tanya Bali polos, menarik kembali kertas miliknya, seingatnya dia hanya menuliskan nama tamunya. Bali membolak-blikkan kertasnya yang-benar hanya tertera nama Cristopher. Cowok itu memutar bola matanya gemas.
“ itu nama gue”. Cowok itu menunjuk namanya di papan kertas dengan sinis. Bali menatap cowok itu ragu. “cris-toph-er”.
“ nama kamu bule, kok kamu nggak bule?”. Tanya Bali lagi dengan wajah bego. Mata cowok itu memicing.
“ masalah buat lo?”. cowok itu menghela nafas kesal.
“ aku Bali”. kata Bali akhirnya, kalau benar dia tamunya dia harus mengenalkan diri kan? seenggaknya ini sikap dasar sopan santun pada orang asing.
“ lo nggak kelihatan kayak orang Bali”. komentar cowok itu mengejek.
 Bali menatap lurus cowok itu dan terkesan horor.
masalah buat lo?. sahut Bali tentu hanya dalam hati, coba aja kalau bukan tamunya udah dia sambit, tingkahnya songong maksimal.
“ ehm, saya…”. Bali menunjuk dirinya dengan baik-baik, detik berikutnya dia mendelik sadis ketika cowok itu dengan cepat mengalihkan pandangannya darinya. Nggak sopan banget sih ada orang mau ngomong juga.
“ dimana mobilnya??”. tanya cowok itu malas, sudah tidak berminat mendengar penjelasan Bali mengenai namanya.
“ di parkiran”. Sahutnya berusaha dibuat kalem, lalu mengumpat begitu cowok itu memunggunginya. menjadi seorang pemandu wisata, dia harus extra sabar menghadapi berbagai macam tamu, termasuk yang menyebalkan ini. Oh noo. (bersambung)

Jumat, 14 Agustus 2015

cerbung : Ada Cinta Di Banyuwangi #part 1


Wuuusssh,...Bulan Desember itu bulannya hujan dan angin. Di kota ini pun juga mengalaminya, suhu udara yang biasanya hangat kini menurun sampai 10 angka. Hari ini pun begitu, langit mendung. Tidak ada bintang satupun malam ini. Gerimis kecil-kecil sudah membasahi stasiun BANYUWANGI BARU sejak siang tadi. Stasiun terakhir ujung timur pulau jawa. Nama kota ini adalah Banyuwangi.Yep, The Sunrise of java. Kota matahari terbitnya pulau jawa.
seorang cewek yang sedang duduk menggigil kedinginan sambil memeluk lututnya di kursi panjang stasiun itu bernama Bali. Jaket tebal dan syal tidak mampu menyelamatkannya dari dingin yang membekukan malam ini. sungguh.
Bali, seorang guide muda yang baru saja menerima lisensi nya 2 bulan lalu, tapi dia sudah lumayan terkenal di daerahnya karena dia satu-satunya guide cewek di lingkungannya. Dia bekerja di bidang perhotelan, uuhm…nggak bisa disebut hotel sih mungkin bisa dibilang guest house, atau cottage atau penginapan. Bali bekerja freelance disana di samping menjadi guide. Itung-itung tambahan untuk biaya kuliah.
Sekarang dia sedang menunggu  datangnya kereta, dia bertugas menjemput tamu yang akan menginap di guest house malam ini. Bali melirik jam tangannya lagi yang menunjuk 00:35. Menurut jadwal yang dia baca, seharusnya kereta datang lima belas menit yang lalu, tapi beberapa saat lalu Bali menguping pembicaraan petugas kereta api entah bagian apa bilang kepada temannya kalau kereta mengalami keterlambatan waktu karena ada salah satu roda yang bermasalah dan tidak bisa memastikan sampai kapan. Bali mendengus kesal mendengarnya, dia merasa rugi sudah datang setengah jam lebih awal. Huuft.
Bali memeluk lututnya lagi yang mulai gemetaran, matanya mulai perih dan dia menguap karena mengantuk. Bali berusaha keras untuk tidak tertidur. lalu Bali mengahadap kearah hujan yang turun kecil-kecil melewati cahaya lampu kota. Dia jadi membayangkan salah satu adegan di film korea favoritnya. Seharusnya gerimis adalah saat-saat yang romantis bukan menyiksa seperti ini. Apa korea juga sedingin ini? lusa udah tahun baru, besok malam malam perayaan tahun baru, sedikit berharap akan ada hal yang menyenangkan di malam tahun baru nanti. Gimana rasanya merayakan tahun baru di korea? Ahhh Pikirnya meracau.
Teettttttttttttttttttttttttttttttttttttt……….
Oh thanks God. Finally!. Bali bersorak penuh syukur. Lampu sorot dari kereta mulai kelihatan. Bali berdiri mempersiapkan diri. Bermodalkan papan kertas selebar 20 kali 30 centimeter, Bali bangkit dari duduknya kemudian berlari ke tepi pembatas agar bisa menemukan tamunya lebih cepat. Minimal tamunya menemukan dirinya lebih cepat.
bosnya hanya membekalinya dengan nama tanpa memberi tahu asalnya dan nomer telepon tamunya. bisa dibilang ini cukup sulit untuk Bali. Bisa saja ada yang namanya kebetulan-sama di stasiun kan?. Bali mendengus.
Sekali lagi Bali mengecek papan kertas yang dia bawa untuk memastikan nama yang dia tulis, tertulis dengan cukup bagus dan bisa dibaca oleh orang manapun, maksudnya dari bangsa manapun. Tulisan yang bertuliskan “CHRISTOPHER” itu sudah siap. Dilihat dari namanya dia pasti Bule. Bali tersenyum, dia senang bisa berbicara dengan bahasa inggris yang ala kadarnya itu.
Kereta berhenti tepat di depan Bali. Bali segera mengangkat papan itu tinggi-tinggi karena tubuhnya yang mungil itu, dia nyaris tidak terlihat diantara kerumunan penjemput lainnya. Heran. biasanya yang naik kereta malam tak sebanyak ini. mungkin efek libur menyambut tahun baru. Makanya banyak yang pulang kampung.
 walau harus terlempar kesana-kemari Bali terus berusaha agar kertas -yang dia bawa bisa dilihat Tamunya,tidak terjatuh atau ikut orang lain. Penumpang kereta sudah turun satu-persatu. Tapi belum juga ada yang menghampirinya. Apa namanya sulit dibaca? Bali mengecek lagi dan ternyata bisa dibaca kok. Meski agak miring-miring dan besar kecilnya nggak rata.
“mana nih tamunya?”. Gumam Bali mulai cemas. Dia sudah menjijit-njijit untuk melihat sosok bule yang turun dari kereta. Sampai jari-jari kakinya terasa mau patah.
 Beberapa detik kemudian, dia tidak perlu berdesakan karena penumpang dan penjemputnya sudah banyak yang pulang dengan teratur. Tapi kenapa belum juga ada yang menghampirinya?.
Bali memutuskan memasuki kereta untuk memastikan, mungkin saja tamunya itu ketiduran dan tidak tau kalau kereta sudah berhenti. Bisa saja kan?
“ngapain dek?”. Tanya mas Angga, petugas kereta api yang dikenal Bali sekaligus gebetan, ketika Bali hendak menaiki gerbong satu. Bali melongo melihat Angga datang menghampirinya. Berdoa, semoga dia tidak tampak berantakan di depan gebetan.
“ nyari tamu saya mas, kok nggak ada ya, mungkin aja ketiduran di dalam”. Katanya berusaha untuk tidak gemetar dan salah tingkah. Angga mengernyit. “soalnya kan udah malem, bisa aja kan dia ngantuk berat terus nggak sadar kalau udah berhenti”. Lanjutnya sambil nyengir ketika melihat angga tampak bingung. Angga mengedikan bahu lalu tersenyum geli melihat wajah polos Bali kebingungan.
“ ya coba aja cek di dalam dek, apa perlu aku temenin?”. tawar mas angga. Bali menggeleng pelan. Cowok tinggi tegap dan keren mengenakan seragamnya itu tersenyum manis. Membuat Bali terpesona sebentar. Tapi dia tidak punya cukup waktu untuk melakukan lebih banyak. Oh sayang sekali. Padahal jarang-jarang mereka bisa bertemu seperti ini.
“ nggak usah, aku berani sendiri kok”. Kata Bali, dia tidak mau dianggap sebagai pemandu wisata yang manja apalagi penakut. Mas Angga mengangguk mengerti.
 Bali yang sudah naik, kemudian memulai pencarian. Lorong kereta sudah sepi dan gelap. Karena lampu kereta sudah dimatikan. Bali jadi merasa ngeri sendiri, terasa sedang berada di film Lawang Sewu. Tapi demi pekerjaannya dia harus berani.
Bruughkkk!!!

Bali memekik ketika terjatuh ke lantai dengan posisi lutut yang terjun duluan, tangannya untung sigap menahan tubuhnya di lantai. sepertinya dia baru saja tersandung sesuatu. Bali meringis kesakitan.(bersambung)