Monday, October 23, 2017

DECEMBER WISH : Raka Datang


           

Kara sedang duduk memeluk lutut di depan kue Tart ber-angka dua puluh lima. Dia menatap lilin itu sejak tiga jam lalu. Dia sengaja membeli kue beserta lilinnya untuk merayakan hari ulang tahunnya sendirian. Ini adalah Desember yang ke Tujuh tanpa Raka.
            Raka pernah berjanji akan kembali di bulan Desember. Sudah tujuh tahun Kara menunggu,. 
Haruskah dia menunggu lebih lama? Tidak, Kara tidak mau menunggu lagi. Dia harus segera move on dari janji Raka, seharusnya dia mengabaikan saja janji Raka itu. Karena nyatanya, dia tidak pernah kembali bahkan dia tidak pernah muncul, meskipun hanya sekedar bertanya kabar di facebook. Raka benar-benar menghilang. Menghilang dari hidup Kara.
            Kara sudah memutuskan untuk berhenti menunggu, dan berdoa semoga Raka baik – baik saja dimanapun dia berada. Lalu ditiup lilin berangka dua dan lima yang nyaris habis dan meleleh diatas kue tart berwarna putih dengan hiasan bunga lily diatasnya. 
             Kara menangis sekancang – kencangnya dalam gelap, sendirian. Sekuat tenaga menguasai diri, namun sia-sia. 

              “Kar” Raka mengalihkan pandangan Kara dari manik – manik yang sedang asik dia susun .
         “apa?” Kara berusaha memfokuskan diri antara manik – manik dan Raka. Dia sedang merangkai manik – manik menjadi gelang.
            “Apa kamu gak mau les tae kwon do atau silat gitu?” Tanya Raka, Kara pikir ini adalah cara Raka mengejeknya namun tidak ada raut jahil di wajahnya. Kara berusaha menjawab dengan raut wajah datar.
            “Nggak. Kenapa?”
           "habis ini kamu kuliah kan? Kamu harus bisa jaga diri Kar, jangan kenalan sama cowok asing sembarangan, cari temen cewek yang bisa dipercaya, nggak popular nggak apa-apa yang penting tulus, jangan ikut – ikutan pergaulan yang aneh-aneh selama kuliah, soalnya di kampus bakal ada kegiatan macem – macem, demo lah, konser lah,dan…”
            “Kan ada kamu Ka..kita bakal satu kampus kan?” Kara menyela, Kara merasa aneh dengan kecerewetan Raka. Mereka bersahabat sejak SMP,Raka memang cerewet sejak dulu, tapi tidak pernah se-cerewet ini seolah – olah dia akan per,,,
            “Tunggu. Kamu nggak akan kemana –mana kan Ka?” tembak Kara begitu menyadari makna dari kata – kata Raka. Kara menatap mata Raka yang spontan melebar, lurus-lurus. Seketika Raka gugup, bibirnya bergerak – gerak tidak jelas, bingung harus ngomong apa. Kara mengeraskan rahangnya begitu menyadari jawaban dari ekspresi itu. “Mau pergi kemana?” Tanya Kara berusaha untuk tetap biasa saja.
            “Manhattan” sahut Raka membuat Kara menelan ludah. Manhattan, bukan salah satu kota kecil di Indonesia, tapi Amerika. Kara tidak menimpali, dia menunggu Raka mengatakan kelanjutannya “Ayah dipindah tugaskan disana” Raka mengalihkan pandangan dari mata Kara yang sudah berkaca – kaca.
            Lutut Kara lemas. Tangannya yang tak lagi fokus, tertusuk jarum dari tangannya sendiri. Kara berjingkat kesakitan. “Awwh”
            “ceroboh banget sih” dengan panic Raka menarik tangan Kara dan menghisap darah dari jari Kara. Kara meraung kesakitan.
            “Sakiiit..” jeritnya membuat Raka semakin panik. Padahal hatinya jauh lebih sakit dari jarinya.
            “Iya..iya..maaf” kata Raka, “Aku janji, Desember aku balik dan nemuin kamu”
            “Desember kapan?”
            “pokoknya Desember”
            Tangis Kara mereda, dia kembali menatap Raka. Dia ingin bilang ‘jangan pergi Raka’, namun sebagai anak Diplomat yang memang sering pindah – pindah negara, Kara tidak bisa mencegahnya.
              Akhirnya semua lilin mati, mengahiri doa dan harapan Kara soal Raka akan datang. Kali ini doanya berbeda, dia tidak ingin mengharapkan Raka, dia meminta pada Tuhan agar diberikan hati yang sangat luas untuk menerima kenyataannya bahwa hidupnya kedepan tidak akan lagi ada Raka.

#
            “ Selamat Ulang Tahun Kara!” Suara Tami, sahabat Kara sejak kuliah. Kara menatap Tami sekilas. Dia teringat janjinya pada Raka yang masih disimpannya baik-baik. Dia tidak berkenalan dengan lelaki asing dan hanya berteman dengan perempuan yang tulus.
            “ Thank you Tam” Kara tersenyum, dia meletakan tas pada kursi. Banyak pesanan bunga hari ini. Kara membuka usaha Toko Bunga dengan Tami sebagai karyawannya. Melihat bunga bisa menenangkan hatinya terlebih ketika dia sangat merindukan Raka. Tidak. Kara sudah berjanji untuk menyerah.
            “Lihat tuh, di pojokan banyak bunga ucapan selamat ulang tahun”
            “iya”
            “Cuma iya doang?”
            “terus?” Kara mengambil beberapa bunga yang akan dia rangkai.
            “Ya tanggepin kek mereka, Apa doamu tahun ini? Masih mengharap Raka datang?” Tanya Tami skeptis,’Raka datang’ adalah doa yang sangat keras diucapkan oleh Kara dulu saat ulang tahun yang ke 19.
            “Kepo,” rutuk Kara. Dia berusaha keras untuk tidak salah gunting bunga mawar putih di tangannya. “Udahlah Tam, jangan ngobrol terus, pemesan hari ini harus dikirim lebih pagi soalnya jalanan macet ada pawai budaya”
            “Siap Bos!” sahut Tami yang langsung pindah posisi.

            Kara menghela nafas pendek. Benar, jauh dari lubuk hatinya dia masih berharap Raka kembali. Dia hanya ingin mengatakan kalau Kara sangat mencintainya dan merindukannya.
            Pandangan Kara teralih ke arah bucket bunga Lily di pojokan. Lily? Lily adalah bunga favorit Kara dan tidak ada yang tahu selain Raka. Segera Kara mendekatinya dan membaca kartu kecil di bawahnya ‘ Hi, My Kara’. Kara mendekap mulutnya dengan tangan kanan. Mungkinkah Raka datang?

Thursday, October 12, 2017

#4 BESTENEMY : Last or Forever




Sudah sepuluh hari, Pandu tidak masuk sekolah. Tidak ada temannya yang tahu mengapa dia tidak bersekolah. Rana ingin mengabaikan cowok itu, bodo amat dia sekolah atau tidak, namun sisi dirinya yang lain merindukan Pandu. Aneh.
“Kenapa sih Ran, kamu ngelamun terus? Ayah kamu sakit lagi? Kosan belum bayar? PR belum selesai?” cerocos Tama yang khawatir sahabatnya satu itu sering tiba-tiba tak bernyawa.
“Nggak.” Sahut Rana tak bertenaga. Seharusnya dia senang, tidak ada cowok iseng dan menyebalkan lagi di hidupnya, tapi mengapa malah sebaliknya? Hidupnya terasa sepi. Bukankah, Rana ingin membunuh Pandu kalau Tuhan mengijinkan pembunuhan? Tapi kenapa sekarang dia ingin Pandu di sini?
Setiap hari, lebih dari dua puluh kali Rana menoleh ke arah jendela di saat jam pelajaran. Dia berharap melihat Pandu sedang mengejeknya di sana atau menatap anak itu penuh kemarahan karena keisengan Pandu. Entahlah,..
#
“Hai Ran,” Sapa Tinus, teman sekelas Pandu. Rana menatapnya curiga, ngapain anak laki-laki itu menghampirinya di kantin? “Hai, Tam.” Rana langsung mengerti begitu melihat tatapan penuh cinta Tinus pada Tama.
“Jadi kalian pacaran?” Tanya Rana to the point begitu Tinus menempelkan pantat di bangku kantin. Karena kaget mendengar pertanyaan Rana, Tinus melepas pegangan mangkoknya tiba-tiba, dan terbanting di atas meja. Rana memperhatikan gerakan Tinus aneh.
“Ummmmm,” gumam mereka sama salah tingkahnya.
“Selamat.” Rana tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum. Setengah mati dia berusaha untuk tidak bertanya tentang Pandu pada Tinus. Meskipun pada kenyataannya, jemarinya tidak berhenti bergerak dan bibirnya buka tutup seperti ikan mujair.
“Pandu nggak ada kabar Ran?” Tanya Tinus. Kepala Rana memutar cepat kearah Tinus. apakah dia ketahuan sedang memikirkan Pandu? namun dirinya yang lain berharap, anak laki-laki ini memberinya kunci jawaban 'dimana Pandu'. Rana menggeleng. 
“Ngapain dia harus ngabarin aku?” Sungut Rana, emang dia siapanya Pandu?
“Kan kamu cewek kecengannya Pandu.” Tinus terkekeh.
“Sok Tahu,” Rana meneguk teh manis miliknya, “Anak laki-laki nggak akan bertindak kejam pada perempuan yang dianggap kecengannya.”
“Tapi beneran kok,” Tinus memperjelas. “Lagian, dia ngerjain kamu soalnya kan cuma pengen cari perhatian doang. Dia cuma ingin berinteraksi sama kamu Ran, ah kamu nggak peka.” Ejek Tinus.
“Dengan mengunci aku di kamar mandi dan gagal ikut Audisi? dengan memberi kue ulang tahun kadaluarsa? Dengan membuat aku pingsan gara-gara kodok?” Rana tersenyum sinis, “Gila aja ada cewek yang bakal mau kalau digituin, aku yakin sih kalau bukan aku, mungkin dia sudah dilaporin ke Polisi kali.” Rana memutar bola matanya.
“Hahahaha iya, Rana juga harus mendekam seharian di perpustakaan gara-gara bukunya diambil Pandu.” Tambah Tama.
Tinus menjentikan ujung telunjuknya ke dahi Tama. “Itu bukan Pandu kali, tapi Gaby”
Dahi Rana mengerut, “Maksudnya? Jelas-jelas aku lihat buku ku di tangan Pandu. Pasti dia sengaja ngambil biar aku dihukum kan?”
Tinus menggeleng datar, “Waktu kamu di marahin pak Nyoto, Pandu ngeliatin dari jauh, terus nyari siapa yang ngambil buku kamu, dia ke kelas kamu untuk ngubek-ngubek isi tas anak sekelas. Tama waktu itu kan nemenin kamu di Perpus, makanya dia nggak tahu,” Tinus melirik ke arah Tama. “Ternyata Gaby yang ambil, soalnya dia takut dihukum gara-gara lupa bawa buku. Jadi, karena Pandu takut kamu bertengkar dengan Gaby dia yang ambil alih kesalahan Gaby.”
“Huuh??” seketika, kepala Rana seperti berisi udara.
“Lagipula, saat kue ulang tahun itu, cuma Pandu aja yang nyuruh kita bilang itu Kadaluarsa, padahal dia beli khusus buat kamu Ran,” Imbuh Tinus yang membuat dada Rana terasa ngilu mendadak. Ternyata, Pandu nggak bohong malam itu.
“Yah, tahu gitu aku abisin waktu itu, enak sih” seloroh Tama.
“Terus, soal aku dikunci di kamar mandi itu?” Rana menatap Tinus dengan wajah menyelidik.
“Itu si Pandu ada di luar pas kamu teriak-teriak, dia cuma nggak mau kamu malu karena ikut Audisi, suara kamu kan pas-pasan,”
“Thanks.” Rana menatap Pandu dengan tatapan segaris.
“Makanya, Pandu berusaha nyegah biar kamu nggak ikut Audisi. Kan Audisinya Outdoor, di depan Umum lagi. Lagian, Pandu ada di luar kamar mandi waktu itu, katanya biar kamu nggak sendirian. Menurutmu, Masa iya si Nata tahu kamu ada di kamar mandi Osis sore-sore? Itu bukan kebetulan Ran, Pandu yang telepon Nata suruh jemput kamu.”
“Eeh?” Seketika Rana merasa ada langit runtuh di atas kepalanya.
“Masalah kodok itu juga, dia cuma iseng sih, tapi dia takut banget waktu kamu pingsan. Dia kan yang bawa kamu ke UKS?”
“Kata Tama, si Nata?” Rana menoleh ke arah Tama.
“Pandu bilang jalang bilang dia, bilang Nata aja.” Tama nyengir merasa bersalah.
Namun, rasa bersalah di dada Rana lebih lebih besar lagi. Rana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata, selama ini dia salah menduga. Pandu tidak sejahat yang dia kira selama ini.
“Ya kalau kamu nggak percaya, coba inget-inget sendiri deh Ran, bener nggak Pandu suka sama kamu?” Tantang Tinus.
 Seketika potongan-potongan ingatan tentang Pandu kembali bermunculan di benak Rana. Pandu yang tiba-tiba muncul di depan kosannya dan mengantarnya pulang, Pandu yang membawakan kue ulang tahun untuknya meski dia bilang itu kadaluarsa, Pandu yang tersenyum padanya, Pandu yang membiarkannya menjadi pen..de..ngar..per..tama..
Tiba-tiba Rana teringat soal CD.
“Tinus, Pandu pernah ngasih CD berisi lagu ciptaan dia.”
“Nah, itu dia, terbukti kan kalau selama ini Pandu suka sama kamu Ran?”
Mata Rana berkaca-kaca, entah dia menangis untuk apa. Karena dia bahagia kah? Karena dia merindukan Pandu kah? Atau hal yang lain? Mengapa rasanya sedih Pandu tidak di sini ketika Rana menyadari perasaan Pandu? Setelah Rana sudah mengutuknya sekian lama, dan baru tahu kalau dia...Salah.
Ambil aja Ran, kalau nggak mau nanti kamu nyesel..
Rana bergegas menuju ruang guru dan mencari wali kelas Pandu. Dia tidak tahan lagi untuk tidak mencari tahu soal Pandu. Namun, pandangan wali kelas itu berubah sendu setelah Rana bertanya,
 “Bu, Pandu kemana? Kenapa dia tidak pernah masuk?”
#

Suara Pandu  mengalun melalui speaker laptop milik Rana.  Namun, pikirannya tidak bisa fokus pada lagunya. Suara petikan gitar yang mengalun syahdu dengan suara Pandu yang berusaha dimasukan ke dalam nada. Pikiran Rana masih terpaku pada kejadian siang tadi di kantin dan saat dia menemui bu Murni, Wali kelas Pandu.
‘Pandu nggak sekolah lagi, sudah lama dia keluar dari sekolah’
‘Ibu pasti bohong kan?’
‘Untuk apa Ibu berbohong Rana?’

Rana seperti kehilangan dirinya semenjak bertemu dengan Bu Murni. Dengan jawaban yang Rana tidak mau meyakini gurunya jujur, Rana masih berharap Pandu sedang mengerjainnya kali ini, dengan menyuruh bu Murni berkata demikian. Sama seperti dia menyuruh teman-temannya bilang kalau kue yang diberikan pada Rana Kadaluarsa.
‘Pandu sedang ke luar negeri, lagi berobat kata orang tuanya, tapi masih belum tahu kapan balik ke Indonesia’
‘Sakit?Pandu Sakit?’
‘Iya, dulu sempet Orang tua Pandu minta Ibu untuk membujuk Pandu agar mau berobat, tapi dia menolak. Sekarang Ibu bersyukur Pandu sudah mau mengikuti permintaan orang tuanya untuk berobat’
‘Sakit apa?’
Dada Rana terasa nyeri begitu membayangkan dia tidak bisa melihat Pandu lagi. Ditambah, kelebat tentang Pandu berputar-putar di kepalanya. Senyum harta karun yang baru ditemukannya, sikap lembut Pandu yang membuatnya berdebar pertama kali dan kebenaran jika Pandu menyukainya membuat ruang kosan Rana terasa menyempit. Seperti ada yang memenuhi pencernaannya, membuat perutnya terasa tidak karuan.
RANA?
Rana langsung terkesiap menoleh  ke arah laptop begitu terdengar suara Pandu memanggilnya.
Uhuk,uhuk,” Berlanjut dengan suara Pandu yang terdengar pura-pura batuk. “Apa sudah merindukanku?” Rana mendekap mulutnya dengan kedua tangan, air matanya yang sedari tadi tertahan di balik bola mata, sukses mengucur hingga ke pipi. “Aku tahu, rekaman ini akan terdengar saat kamu mulai mencariku, hehe,..aku juga merindukanmu.
Ran, salam untuk ibu bapak kamu, maaf karena aku masih belum bisa menjagamu. Jika suatu hari aku bisa kembali, aku akan menepati janjiku.
Rana mengerang sekeras-kerasnya di ranjang miliknya. Seolah langit merasakan kesedihannya, hujan turun begitu deras mengiringi tangis Rana yang semakin kencang. Rana berjanji pada Tuhan, kalaupun Tuhan mengijinkan umatnya membunuh sesama, dia tidak akan membunuh Pandu, karena dia tahu kehilangan Pandu bisa sesesak ini.
Musik kembali mengalun, dan suara Pandu kembali memenuhi sisa ruang kosong diantara Rana yang masih menangis. Dada Rana semakin terasa sesak, begitu dia menyadari, kalau sepertinya dia juga mencintai Pandu, sangat.