Rabu, 23 Desember 2015

Gadis Berpayung


“ Selamat pagi Senta”. Sepasang mata bulat berbinar-binar setiap kali mengucapkan kata-kata itu. dan aku selalu membalasnya dengan mata menyipit. Kalau ada orang yang paling ingin aku hindari di dunia, itu adalah dia. Gadis bermata bulat, dengan rambut ikal pendek yang diikat sembarangan.
Dia selalu datang tepat pukul 6 pagi, dengan baju pendek selutut berwarna putih, tas kecil dan sepatu yang sama, setiap hari sambil membawa payung berwarna pelangi, padahal ini musim panas yang jarang hujan. Aku sempat berfikir, kalau dia memiliki sejenis gangguan mental. Aku rasa orang waras tidak akan melakukan apa yang sedang dia lakukan pada orang yang tidak dikenalnya. Seperti ini misalnya, muncul di depan rumahku dan menyapaku setiap pagi. Yang masih menjadi misteri, bagaimana dia tahu namaku?
Aku bergeser selangkah kekanan lalu mengambil ruang kosong untuk melewatinya, Pagi ini ada ulangan fisika, aku tidak cukup punya waktu untuk meladeni anak aneh yang lebih mirip pasien rumah sakit jiwa. Aku mempercepat langkah kakiku, aku tidak mau konsentrasiku buyar ketika aku belajar di dalam bus. Dari kejauhan, bus yang akan mengantarku datang, aku mempercepat langkahku dengan berlari, berharap gadis di belakangku tidak cukup cepat untuk mengejarku.
Hap!
Aku berhasil menapakkan kaki di atas bus tepat ketika bus mulai melaju, meninggalkan gadis aneh itu, di halte yang sedang menatapku kecewa di bawah payung. Sebelumnya, dia pernah mengikutiku sampai naik bus dan cukup menggangguku dengan menempeliku seperti koala. Dan terror ini, tentu tidak berakhir di sini.
Jovan celingukan ke belakangku, aku tau apa yang dia cari. Anak gadis aneh itu. “ dia nggak ikut?”. Tanya Jovan masih mencari-cari gadis berpayung, yang selalu mengikutiku sampai di sekolah, kurang mengerikan apa coba?. Jovan adalah teman baikku, teman sebangku. Dan jujur saja satu-satunya teman yang aku punya sekarang. Aku tidak suka bergaul, karena menurutku punya satu teman baik sudah lebih dari cukup. Aku tidak cukup punya banyak waktu untuk bergaul dengan yang lain, aku hanya ingin menghabiskan waktuku untuk belajar, ujian nasional sebentar lagi, aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku dan Andara. Hatiku berdesir mengingat nama itu.
“ besok seratus harinya Andara, kamu datang kan?”. Tanya Jovan, membuat aku kembali teringat gadis itu. Gadis manis pemilik senyum tercantik yang aku kenal. Andara Herdyta, dia juga temanku. Aku, dia dan Jovan adalah teman baik. Kami selalu kemana-mana bersama, Andara adalah sosok yang ceria, menyenangkan dan selalu ada buatku. Sandaran terbaik dan pendengar yang tak pernah bosan. Juga, pendukung yang setia.
“ lihat besok deh”. Sahutku sambil berjalan cepat menuju kelas, sengaja menghindari Jovan. “ aku masih belum menghafalkan rumus penerapan”.
“ Andara bakal sedih kalau kamu nggak datang lagi, empat puluh harinya kamu sudah tidak datang, masa sekarang kamu tidak datang lagi?”. Seloroh Jovan yang membuat jantungku seperti jatuh ke perut mendengar kata-katanya. Aku bukan tidak mau datang, aku hanya belum sanggup melepaskan gadis itu. Gadis yang saat ini memenuhi seluruh hidupku, hatiku dan otakku. “ Senta,...aku juga berat melepaskan Andara, tapi tolong,…untuk terakhir kalinya, biarkan dia pergi dengan tenang, jangan halangi dia seperti ini”. Cerocos Jovan. Aku tahu, mataku mulai berkaca-kaca, setengah mati aku berusaha untuk tidak menangis. Aku sudah berjanji untuk tidak akan menangis.
“ Van, aku harus belajar, jangan ganggu dulu, tolong”. Kataku untuk menghentikan Jovan yang terus nyerocos. Aku membuka buku fisika tebal yang penuh dengan coretan tangan Andara. “baiklah,..”. sahut Jovan pasrah. “anyway,.kamu sadar nggak sih? Kalau anak perempuan itu mirip Andara?”. Tanya Jovan yang berhasil mengalihkan perhatianku dari gambar kartunku yang di gambar oleh Andara.
“ Van, jangan ganggu konsentrasiku, tolong”. Pintaku. Aku tidak berfikir sama dengan Jovan. Andara bukan gadis sinting seperti anak perempuan itu.
“ oke baiklah,…”. Sahut Jovan akhirnya.
Jovan membuat konsentrasiku sukses pecah. Pikiranku jadi melayang pada gambar-gambar di tembok rumah yang digambar gadis itu dengan lancangnya. Beberapa kali aku mendapatinya sedang mencoret-coret tembok depan rumahku dan aku menghardiknya dengan kasar. Bukannya pergi, dia malah tersenyum. Gaya berjalannya, yang sedikit melompat-lompat sambil bersenandung, mirip seperti yang biasa dilakukan oleh Andara. Pernah di suatu pagi, hujan deras. Aku pikir dia tidak akan datang, dia malah menari di bawah hujan dengan payungnya, sama seperti yang dilakukan Andara, dia sangat menyukai hujan. Aku segera menggeleng, aku tidak mau menyamakan Andara dengan gadis aneh itu.
Aku menyipitkan mataku menatap gerbang, lagi-lagi gadis itu ada di sana. Sudah ku bilang teror ini tidak akan berhenti sampai halte, dan sudah aku bilang dia sangat mengerikan bukan?. Dia sedang duduk di lantai dengan cueknya sambil memegang payung, tidak peduli rok dari baju putih yang dia kenakan terkena lumpur. Aku mendengus sebal. Sampai kapan gadis itu akan terus melakukan hal ini. Menerorku seperti ini? Sampai detik ini aku tidak tahu alasan mengapa dia membuntutiku seperti ini.
aku ingin mengabaikannya saja, tapi pikiranku berubah begitu melihat beberapa anak mengganggunya. Wajahnya terlihat ketakutan ,tangannya memeluk payungnya erat. Kali ini aku mendengus sebal pada diriku sendiri, haruskah aku peduli tentang ini?
“ sorry, dia adikku”. Kataku di belakang empat anak laki-laki yang sedang mengganggunya. Aku menghela nafas pendek. Menyesal keputusanku untuk mendatangi gadis ini. Aku yakin setelah ini, dia akan memelukku gembira. Empat anak laki-laki itu tampak enggan padaku karena aku kakak kelas, lalu pergi setelah minta maaf. Benar, gadis itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“ tolong, jangan pernah datang kesini lagi, jangan menggangguku,…mungkin kamu pikir, kamu mengenalku, tapi sungguh aku tidak mengenalmu, sepertinya kamu salah orang”. Kataku panjang lebar, sepertinya aku harus mengatakan ini agar dia mau mendengarku dengan baik. Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Oh please, aku benci tatapan itu. Dia mengingatkanku pada tatapan Andara, ketika aku mengabulkan keinginannya.
“ terima kasih, senta…”. Ujarnya yang lebih terdengar seperti hembusan udara, tanganya meremas-remas payung. “ aku suka kamu”. Sambungnya. Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti. Seorang gadis asing yang tiba-tiba menyatakan ‘suka’ padaku.
“ sorry,…”. Lirihku pelan. Aku tidak mau repot-repot berfikir untuk menjaga perasaannya. “ mulai sekarang jangan ganggu aku lagi!, kamu aku tolak”. Hardikku. Aku segera melangkahkan kakiku menjauh, dan gadis itu berusaha membuntutiku. Aku mempercepat langkah kakiku, kemudian berlari. Berharap, besok aku tidak melihatnya lagi.
“ anak yang kemarin bawa payung nggak datang?”. Tanya mama, dia sedang mengintip jendela. Aku tidak tahu, mengapa dia menanyakan gadis itu.
“ mana aku tahu ma”. Aku menghendikan bahu dan bersiap mengenakan mantel hujan, karena di luar sedang hujan deras. Mama menatapku penuh arti. “ ada apa?”. Tanyaku heran dengan tatapan mama. Mama menoleh keluar dan aku bergantian.
“ kemarin, orang tuanya kesini”. Tutur mama hati-hati, ada kecemasan dari nada bicaranya. Aku mengerutkan dahi. Mama menghela nafas sebelum bercerita. Gadis itu bernama Tara. Dia kecelakaan tiga bulan lalu, dia mengalami pendarahan parah. Namun, gadis itu selamat berkat transplantasi sum-sum tulang belakang. Aku mendengarkan cerita mama dengan seksama. “…dan pendonor sum-sum tulang belakang itu adalah Andara, karena operasi itu, gadis itu jadi hilang ingatan, dan orang yang selalu dia sebut adalah kamu…Senta”. Jantungku sepertinya sudah jatuh ke perut. Lututku gemetar.
“ hah? Apa?”.  Aku melongo tak percaya.

“ makanya kemarin, orang tuanya datang untuk menjelaskan, agar kita tidak salah paham,…dan sekarang dia dalam masa penyembuhan”. Imbuh mama. Entahlah, aku sepertinya kehilangan isi kepalaku. Otakku terasa hampa. Aku berlari ke depan pintu, melihat coretan-coretan yang pernah digambar gadis itu di tembok. Potongan ingatan tentang Andara dan gadis bernama Tara bergantian muncul di kepalaku. Gambar-gambar  itu menunjukan hal-hal yang aku sukai dan gambar-gambar wajahku dalam berbagai ekspresi . Sekarang aku mulai tahu, bagaimana dia tahu namaku dan tahu alamatku, karena Andara hidup dalam tubuh gadis itu. Aku tersenyum di bawah Hujan. Dan tidak sabar ingin bertemu dengan gadis bernama tara.

Selasa, 22 Desember 2015

THANK YOU SO MUCH 2015, FOR INCREDIBLE YEAR



terima kasih banyak,...
tentang begitu banyak pelajaran yang kamu hadirkan, moment-moment berharga, moment-moment menyakitkan dan pendewasaan.

2015,..
aku belajar tentang bagaimana bertahan pada keputus asaan. Aku belajar untuk menyikapi apa yang tidak bisa aku hadapi. Aku belajar bagaimana untuk berani memilih jalanku sendiri,..bisa dibilang aku belajar menjadi egois. Darimu aku belajar, memikirkan orang lain itu perlu, namun memikirkan kebahagiaan orang lain dan mengorbankan perasaanmu adalah kesalahan. Karena pada akhirnya mereka akan tetap terluka,..
melukai orang lain itu perlu, lalu membiarkan mereka menangis kemudian bangkit menjadi pribadi mereka yang lebih baik,.begitupun denganku.
2015,..
aku belajar bahwa tidak ada manusia yang benar-benar ingin mejadi jahat, seperti aku yang tidak ingin menyakiti orang lain, namun aku membuat banyak orang terluka. Aku berlajar tentang, bahwa kadang tuhan menjadikanmu orang jahat sebagai perantara saja, sama seperti ketika kamu menjadi orang baik untuk membalas kebaikan orang tersebut yang pernah mereka lakukan untuk orang lain. Karma? anggap saja begitu. Bagaiman ketika kamu berusaha melawan, kamu semakin menyakiti dirimu sendiri..
2015,..
mengajarkan bahwa yang terpenting di dunia ini bukanlah Harta, Tapi ketenangan Jiwa. Memiliki semuanya tidak menjadin kamu bahagia seutuhnya. Ketenangan Jiwa dan kebahagiaan yang nyata, hanya bisa kamu peroleh ketika kamu ikhlas...
2015,..
aku belajar tentang arti melepaskan, Kadang jika beban dipundakmu sudah terlalu berat untuk tetap kamu pertahankan, Maka lepaskanlah..
2015,..
aku belajar tentang perpisahan, belajar tentang cinta...
2015,..
Aku belajar tentang syukur dengan sederhana, begitu banyak hal yang Tuhan beri dan kadang aku lupa mensyukurinya,..Salah Satunya, ketika Tuhan begitu banyak menghadirkan orang-orang baik dalam hidupku ketika aku harus sendiri. Tentang malaikat yang sengaja Tuhan kirim, seolah Dia takut aku kesepian..
2015,..
aku belajar tentang berbagi, bahwa apa yang kita punya tidak seharusnya disimpan sendiri, rezeki tidak melulu tentang Uang, tapi teman Baik juga Rezeki bukan?
2015,..
aku belajar tentang melihat Manusia, Mana yang tulus dan mana yang tidak. Aku yang terlalu kalut dengan diriku sendiri, dan akhirnya bingung membedakan malaikat berwajah Iblis atau iblis berwajah malaikat, lalu memutuskan menjadi manusia saja untuk manusia lainnya, tanpa perlu berfikir apakah mereka baik juga pada kita atau tidak.
2015,..
aku belajar tentang patah hati yang sesungguhnya,...
mempelajari tentang Gejala dan rasa sakitnya lalu merekam di otakku, bukan untuk membalas dendam, hanya untuk pelajaran agar aku tidak mematahkan hati orang lain.
2015,..
aku belajar tentang kerja keras, tentang usaha dan berjuang, agar aku tidak lagi mudah putus asa...
2015,..
Aku belajar tentang berteman, teman yang baik tidak melulu berkata baik, kadang mereka motivasi dengan melukai hati kita, itu bukan karena mereka ingin menyakiti kita, namun menjadikan kata-kata mereka sebagai cambukan agar kita lebih kuat.
2015,..
Ada phobia yang aku simpan, dan berharap aku bisa mengatasinya di tahun 2016..
2015,..
begitu banyak petualangan, hal-hal menakjubkan, seolah Tuhan sedang mengalihkan pikiranku dari hal buruk pada hal baik,..
2015
Terima kasih atas segala Tangis dan tawa..

2016,..aku menunggu petualangan selanjutnya dalam hidupku :)

Hai Nata, aku berharap 2016, petualanganku masih tentang kamu.

Rabu, 02 Desember 2015

Surat Untuk Nata : Mirror




Aku patah hati lagi, patah hati yang kesekian kalinya padamu. hey Nata, apa gerak-gerikku membuatmu ngeri padaku? Seperti aku yang selalu ngeri pada laki-laki baik yang menyukaiku. Apa aku terlalu baik untukmu dan kamu merasa tidak cocok untukmu yang tidak baik?

Nata, sama sepertimu, aku tidak bisa jatuh cinta pada orang baik, aku selalu jatuh cinta pada orang yang bermasalah. Pada  si Tito, seorang anak broken home. Pada si playboy Daren atau pada si anak kecil berandal Aris.

aku jadi teringat tentang temanku yang pernah jatuh cinta padaku. Dia anak yang baik dan manis. Sikapnya tidak pernah melenceng dari kebaikan. Tuturnya lembut dan lucu. Dia teman baikku yang selalu ada ketika aku butuh pertolongan, dan aku masih berteman dengannya sampai sekarang. Dia anak laki-laki yang tahu segala hal tentangku, bahkan tentang hal terburuk dalam hidupku, dia tempat curhat yang baik, yang tidak menghakimi dan pemberi solusi dengan cara yang lembut. Kamu tahu, aku adalah anak perempuan pertama yang diboncengnya naik motor. hahaha, Benar, dia anak laki-laki yang sangat lugu.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya dia menyukaiku. Dia bilang, dia jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Sama seperti aku jatuh cinta padamu di pandangan pertama. Yang aku ingat, awal aku berteman dengan dia ketika kita sama-sama tidak punya kelompok kerja. Dan kita satu kelompok. Dia bercerita tentang dirinya dan keluarga yang memiliki usaha Roti, dan aku salah satu pengagum roti buatan keluarganya, sejak saat itu kita menjadi teman. Hanya itu yang aku ingat.
Dia sangat tahu bagaimana jatuh dan bangunnya hidupku. Bagaimana aku bergaul dengan teman-teman yang dianggap cupu, dan bagaimana aku patah hati lalu bangkit dan kemudian patah hati lagi.

Aku tahu dia menyukaiku, ketika aku kuliah di pertengahan semester, sekitar semester 4. Ketika aku dekat dengan seseorang. Dia membuat sebuah pengakuan kalau dia jatuh cinta padaku sejak kelas satu SMA. Dia bercerita bagaimana dia selalu mencariku di sela-sela anak-anak lain. Dia bilang, cukup sulit menemukanku karena ukuran tubuhku yang pendek, dan betapa bahagianya dia ketika bisa menemukanku diantara kerumunan. Setiap hari, dia tidak pernah melewatkan untuk tidak melihatku di kelas yang berbeda dengan kelasnya. Dia bilang, kalau semua anak tahu kalau dia menyukaiku selain aku sendiri yang tidak sadar. Aku bertanya apa yang membuat dia jatuh cinta padaku, katanya mataku tersenyum setiap kali melihatnya. Dan kalau kamu bertanya apa yang membuatku jatuh cinta padamu, cari saja aku, aku akan menjawabnya langsung di depanmu. :p

Nata, aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki sebaik itu. Laki-laki yang bahkan rela berangkat ke jogja untuk menghampiri aku yang sedang berjalan-jalan sendirian di sana, dan akhirnya aku pulang duluan ketika dia baru sampai di Jogja, yang sampai detik ini dia ungkit sebagai kesalahan fatalku. Laki-laki yang datang malam-malam, karena aku ngambek, ke tempatku bekerja yang berjarak lebih dari 20 km dari  tempatnya , setelah dia selesai bekerja. Anak laki-laki yang selalu mengambil gambarku dengan lensanya, yang menjadikan aku modelnya.

ini seperti cermin bagiku, bagaimana aku mencintaimu dan bagaimana aku dicintai. Apakah kamu melihatku sama seperti aku melihat temanku yang sedang jatuh cinta padaku? 

Aku senang, karena sampai detik ini, setelah apapun yang terjadi padaku, meskipun aku menjadi wanita bermasalah yang di benci olah dunia, dia tetap menjadi temanku. Dia tetap menjadi orang yang selalu mendengarkanku, mendengarkan ocehanku, tempat aku melampiaskan amarah dan tempat aku ingin mengutuk. yang bahkan ada disaat aku kelaparan. Yang tidak rela meninggalkan aku sendirian naik bus. Dia masih temanku yang masih sangat baik.

Nata, haruskah aku membuka hatiku untuk dia saja? Atau haruskah aku tetap menunggumu?

Iya kamu, yang bilang mau mengajakku piknik, kamu yang ingin aku peluk erat.
haruskah Nata?

Selasa, 24 November 2015

FIKSI MINI : Di ujung Senja




Di ujung senja, matahari masih menampakkan dirinya. Namun matahari terbenam kali ini tidak sesempurna biasanya, bercak-bercak awan menutupi separuhnya, membuat sorotan cahaya jingga menyemburat keatas seperti sorotan lampu pijar.
Di sebuah dermaga kayu yang terpasang di sisi danau, shero mencelupkan kakinya  sampai di bawah lutut kedalam air, seraya menatap detik-detik perpisahannya dengan matahari. Menatap kosong semburat jingga itu dari balik gunung di seberang sana. kabut putih mulai menghiasi permukaan danau, dingin segera menyeruak ke dalam pori-porinya yang tak tertutup kain tebal.
Shero menarik nafas perlahan sambil menutup mata, lalu menghembuskan nafasnya lelah. Dia berusaha untuk melepas keluh dan sesak di paru-parunya. Dia ingin menangis, tapi dia seolah lupa caranya, jadinya dia hanya bisa merengek sebal pada dirinya sendiri.
“ apa yang harus aku lakukan?”. Shero memiringkan kepalanya dan menjatuhkannya pada bahu yang selalu ada di sampingnya. “ kenapa aku selalu membuat masalah, aku tidak bisa mempercayai kata hatiku sendiri”. Rengeknya lagi , masih dengan mata terpejam. Dia bisa merasakan bahu tegap nan hangat yang selalu dia gunakan untuk bersandar. 
“ kita cari tahu alasannya nanti”. Ujar suara lembut dari pemilik bahu tegap. “ mereka hanya tidak mengerti apa yang kamu rasakan dari sudut pandangmu”.
“ kenapa yang aku lakukan selalu salah?”. Tanya shero dengan rengekan yang lebih keras, tapi dia tetap tidak bisa menangis.
“ tidak ada yang salah sher, semua orang memiliki perannya masing-masing. Mungkin tuhan sedang menggunakanmu sebagai cobaan untuk orang lain”. sahutnya kalem, diiringi senyum kecil yang tak kasat mata tapi terdengar di telinga shero.
“ kenapa aku?”.
“ ya, karena kamu yang mampu melakukannya”. tuturnya kalem. Shero menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air. Merasakan sensasi dingin di telapak kakinya. “sudah, cepat pulang sana. mataharinya sudah habis”. Ujar suara renyah itu.
Shero memanyunkan bibirnya lalu mulai membuka mata, dan benar sang matahari sudah tinggal bercak jingga, menghilang bersama pemilik suara renyah barusan.

Shero mendesah pelan, lagi-lagi dia berhalusinasi. Halusinasi yang terasa nyata. Entah berapa kali sebulan terakhir semenjak shero mendatangi tempat ini shero mengalami kejadian serupa. Makanya dia sering datang kesini, setiap sore hari untuk sunset. Lalu berbicara dengan halusinasinya. Shero tersenyum melihat matahari yang sudah terbenam penuh meninggalkan berkas ungu, tanpa ada perintah, air matanya jatuh begitu saja.

Jumat, 20 November 2015

Cerpen : Good bye, Stranger.

“pagiiiiiiiiiiiiii….”. 
 Suara cempreng itu, selalu sukses menghancurkan pagiku setiap hari. Setiap kali mendengarnya, aku ingin lari secepatnya. Kalau bisa aku pengen punya kekuatan super yang bisa membuatku menghilang begitu saja. Tapi percuma saja, toh dia akan berlari mengejarku kemanapun aku pergi.
Sama seperti pagi ini. Gadis itu melambaikan tangannya padaku dengan ceria di jarak 5 langkah di depanku. Memekikan suara yang tidak merdu, malah mengganggu. Aku memilih pura-pura tidak melihatnya dan mengabaikannya sebisaku.                                                     
Namanya audrey, cewek ternorak yang aku ‘tau’ bukan aku ‘kenal’ selama 2 tahun ini di SMA. Aku tau namanya ,itupun saat teman-temanku menggodaku tentang tingkah lakunya yang selalu menempel padaku. Berkat dia semua anak mengira dia adalah pacarku, bahkan aku tidak bisa mendekati cewek-cewek yang aku suka gara-gara tingkahnya.
Aku masih mengabaikannya. Berjalan tenang seolah tidak mendengar apa-apa. Pura-pura tidak mendengar ucapan ‘selamat pagi’ yang dia teriakkan berulang-ulang. Aku bisa melihat anak-anak lain yang mencibirku dan menertawaiku berkat hal ini. Aku mendesis dalam hati.
Aku tidak menoleh sama sekali saat melewatinya. Agar dia sadar, aku mengbaikannya. Tapi, tentu saja tidak semudah itu. Sekarang dia malah melompat menghampiriku dan mengelilingiku dengan riangnya. Seolah aku adalah api unggun dan dia penari pengundang hujan. Aku meliriknya tak suka.
“selamat pagi! Selamat pagi! Selamat pagi!”. Serunya riang. Aku tidak tau dia sarapan apa setiap paginya, soalnya dia selalu tampak kelebihan nasi, melompat-lompat dengan riang, apa dia pikir dia kelinci? Dengan kuncir yang sudah mirip menara eiffel, dia lebih mirip anak sd dari pada anak SMA kelas dua. Dia selalu melakukan hal sama setiap pagi, meneriakiku, mengangguku, semacam itulah yang selalu aku abaikan. Tapi dia tidak juga berhenti melakukannya. 
Aku menghentikan langkahku lalu berbalik. Aku sudah tidak tahan lagi, dan dia nyaris terjengkang saat aku berhenti tiba-tiba. Dia terseyum dengan riang menatapku seperti anjing menatap tulang seandainya dia menjulurkan lidahnya. 
Entahlah apa yang dia harapkan dariku.
“ bisa nggak sih kamu jangan ganggu aku?!”. Pekikku dan melototinya kesal, melototinya lurus agar dia mengerti dengan cepat maksudku.
Dia melongo membekap mulutnya dengan matanya terbelalak menatapku. Aku mengernyit melihat tingkahnya itu. Mungkin dia pikir aku keterlaluan padanya. Biarlah aku tidak peduli. Aku bisa melihat air matanya yang mulai mengembung. Aku menahan diri agar tidak meredupkan tatapanku.
Aku lelah dengan terus mengabaikannya dan membiarkannya berkeliaran di sekelilingku. Selama ini aku diam karena aku malas meladeni dia, sepertinya dia pikir aku mau jadi temennya. Ogah. Aku membenci cewek norak yang mengerikan ini. Dia selalu menggangguku di segala hal dan dimanapun. Sekarang, aku harus bisa bersikap tegas.
Aku sudah muak dengan kelakuannya yang aneh, setiap pagi dia selalu sengaja menungguku di gerbang lalu mengangguku, di kelas dia selalu senyum-senyum nggak jelas kearahku yang membuatku risih, di lapangan saat jam olahraga, di lapangan saat upacara, di kantin, di semua lab. Dia selalu mengikutiku kemanapun dan aku tidak punya tempat bersembunyi. Makanya aku hanya bisa mengabaikannya tanpa bisa menghindar.
Hanya di kamar mandi saja dia tidak mengikutiku, tapi dia menunggu di depan kamar mandi. Kurang mengerikan apa coba? Dia selalu ada dimanapun .
Aku masih menekankan mata tajamku kearahnya, aku tidak peduli kalaupun dia akan menangis setelah ini, asal dia akan berhenti mengangguku. Tapi, aku mengernyit saat dia kembali melompat gembira.
“aaargh…Jonas ngomong sama aku..Jonas ngomong sama aku..horeeee!”. Dia bersorak dan melompat-lompat riang. Aku mendengus kesal, aku tak percaya dengan expresi gadis ini. Yang nyaris menangis bahagia setelah aku bentak. Dasar gila!
“hey!!”. Pekikku, menarik lengannya , membuatnya berhenti melompat. Memastikan dia menatapku dan memperhatikanku, aku yakin dia akan bersorak lagi setelah ini karena aku menyentuhnya. “mulai sekarang aku mohon sama kamu jangan ganggu aku lagi! Jangan deket-deket aku lagi! Jangan berkeliaran di sekitarku lagi! Kamu tuh berisik dan kamu itu penganggu. Aku nggak suka kamu deket-deket aku dengan suara cemprengmu dan sikap norakmu itu!”. Bentakku sebelum dia sempat bersorak lagi. Dia menatapku bingung. Mungkin dia sedang berfikir apa yang sedang aku katakan. Baguslah. Kalau dia mengerti semakin bagus.
Cewek itu membalas tatapanku.
“ tapi aku suka sama kamu”. Kata cewek itu polos, matanya besinar tulus. Gantian aku melongo. Aku memicingkan mataku. Sebisa mungkin aku tidak berteriak tapi tetap saja aku harus melakukannya.
“aku nggak suka sama kamu”. Tolakku sadis. Aku tidak akan memberikan harapan apapun pada gadis penganggu ini. Dia masih menatapku. Tangannya berusaha menyentuhku tapi aku berhasil menghindar.
“ kenapa?”. Tanyanya dengan nada bergetar yang sekuat tenaga dia samarkan.
“karena kamu itu mengerikan, jadi stop-berhenti ganggu aku lagi!”. Bentakku, dan berharap kali ini dia mengerti. Sekarang aku melihat matanya mengembung air yang ditahan sekuat tenaga untuk tidak jatuh. Aku sedikit merasa bersalah. Tapi aku juga tidak mau hingga masa-masa SMA-ku habis, gadis ini masih saja menggangguku, tepatnya menerorku.
Matanya tampak sedih, mata yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
“ oke”. Dia menyeka air matanya yang memaksa jatuh tapi bibirnya menyeringai. Entahlah, kali ini aku sungguh merasa bersalah. Tapi aku tidak boleh terkecoh dengan sikapnya itu atau aku akan terjebak lagi selamanya.
“ aku nggak mau lagi melihat kamu berkeliaran di sekitarku lagi, ingaat itu!”. Bentakku lagi dengan tegas tepat di depan wajahnya yang tertunduk. Lalu secepat mungkin aku berlalu meninggalkannya tanpa menoleh sekalipun.
Besoknya, dia benar-benar tidak muncul. Dia tidak ada di depan pintu gerbang dengan senyumnya dan kuncirnya yang menggelikan seperti anak kecil. Baguslah dia mengerti. Aku juga tidak berharap dia menggangguku lagi. Sama sekali enggak.
Di kelas, dia juga tidak muncul. Aku tidak melihatnya dimanapun, mungkin dia tidak masuk sekolah. Mungkin karena dia sakit pilek atau apa. Aku tidak peduli. Hari ini terasa…menenangkan.
Besoknya lagi dia tidak muncul, besoknya lagi. Besok besoknya lagi, besok besok besoknya lagi, dan ini berlangsung hingga seminggu.
Aneh, ada yang aneh.
Perasaanku terasa aneh. Seharusnya aku bahagia karena aku tidak perlu repot-repot mendengarkan suaranya yang cempreng dan tingkahnya yang norak. Tapi, kenapa terasa sepi, sekolah ini terasa sunyi meski banyak anak-anak yang berkeliaran disekitarku. Aneh.
Jangan-jangan saat aku memarahinya, dia meletakkan sesuatu di matanya yang membuatku terpikat padanya. Tapi aku menepis pikiran itu. Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku merindukannya. Rindu, sampai dadaku terasa sesak. Hari-hari yang menenangkan ini begitu menyesakkan. Ada apa dengan ku?.
“ kamu tau nggak audrey?”. Aku menoleh ke belakang saat ada suara cewek yang menyebut nama cewek itu. Sebenarnya aku tidak mau peduli tapi aku penasaran. Jadi aku menguping saja.
“ tau, anak yang aneh itu kan?”. Sahut temannya. Ternyata bukan hanya aku yang menyebutnya aneh.” Kenapa memang?”.
“ aku denger kalau dia meninggal kemarin”. Kata cewek pertama yang membuat jantungku serasa jatuh ke perut. Aku menajamkan pendengaranku. Mungkin aku salah dengar.
“ kasihan ya dia,..”.
“ katanya sih dia sakit, nggak tau sakit apa. Masa nggak ada yang tau sih kalau dia meninggal?”. Suara anak kedua terdengar heran.
“ dia kan jarang bergaul, tiap hari dia kan nempel sama si Jonas mana sempet dia punya temen”.
Aku tertunduk mendengar percakapan mereka. Lututku terasa ngilu, sekuat tenaga aku tidak membiarkan tubuhku terjatuh. Aku memang tidak tau apa-apa tentang dia sama sekali, aku hanya sibuk mengabaikannya tanpa berniat mencari tau siapa dia. Saat tau dia selalu sendirian selama ini aku merasa jahat. Aku satu-satunya orang yang dia ikuti dan dia berharap aku mau menjadi temannya. Dan aku mengabaikannya.
Rasanya ada sesuatu yang mencengkeram hatiku saat ini dan memukul seluruh keegoisanku hingga ke titik terbawah. Aku merasa bersalah dan menyesal telah mengusir gadis itu terakhir kali. Bahkan aku membuatnya menangis di detik-detik terakhir hidupnya.
Tepat di saat aku mengangkat wajahku, aku melihat mading tepat di depanku. Dan tepat di depan mataku aku membaca sebuah nama ‘Audrey Anindita’ di bawah sebuah puisi.
Hallo, orang asing.
Kamu yang tidak tau siapa aku membantuku berjalan saat aku terluka. Saat orang lain pura-pura tidak melihatku kamu mengangkatku dan membantuku berdiri.
Hallo, orang asing.
Kamu yang tidak tau mengapa aku terluka, membantuku berjalan pelan-pelan. Membuatku sadar bahwa aku harus bangkit dari keterpurukanku bukan mengeluh karena tidak ada yang mengerti aku.
Tahukan kamu orang asing?
Kamu adalah kekuatanku untuk berdiri dan kamu alasan aku ingin hidup lebih lama. Belum pernah aku bahagia saat kamu datang mengangkatku waktu itu. Sehingga aku ingin terus bersamamu merasakan kebahagiaan yang sama setiap hari.
Audrey anindita

Aku baru sadar alasan kenapa dia menempel padaku setiap hari, menggangguku setiap hari, menyapaku setiap pagi. Dia hanya ingin bahagia di akhir hidupnya, dia ingin berteman denganku. Dan aku mengabaikannya. Aku merasa jahat, sangat jahat. Aku mencengkeram dadaku yang tiba-tiba terasa sakit.
Tanpa aku sadar, satu tetes air mata mengalir di pipiku. Aku menyekanya cepat-cepat. Tapi aku tidak bisa menghentikan sesak di dadaku. Pikiranku terbang di saat aku pertama masuk MOS, saat aku melihat seorang anak kecil terjatuh di pinggir lapangan karena dihukum senior dengan kaki berdarah, saat itu aku tidak melihat dia siapa, aku hanya membantunya berdiri mengantarnya ke UKS tanpa berkata-kata lalu pergi. Aku bahkan lupa tentang peristiwa itu. Aku tertunduk di depan puisi yang ditulis audrey untukku, kertasnya sudah kumal dan kecoklatan, aku menyesal tidak pernah membaca mading selama ini.
“maaf ya drey…”. Gumamku penuh sesal.
Untuk menebus kesalahanku, aku hanya bisa berdoa agar dia tenang dialam sana. seharusnya aku tidak mengabaikan siapapun yang datang dalam hidupku, karena mereka pasti mempunyai arti dalam hidupku. Mereka akan terasa berharga saat mereka sudah tiada, jangan menunggu menyesal untuk menghargai keberadaan seseorang, karena penyesalan muncul belakangan dan mungkin mereka tidak akan kembali saat penyesalan itu muncul. Sekarang aku benar-benar sangat menyesal karena sudah mengabaikan dia, Gadis cempreng pengganggu bernama Audrey Anindita.



Kamis, 12 November 2015

Surat Untuk Nata : HUJAN hari ini.

Hai, Nata apa kamu merindukan Hujan? kamu pasti merindukan Hujan, karena waktu itu kamu sering bertanya padaku apakah di rumahku sudah turun Hujan? dan waktu itu cuaca masih panas-panasnya.

Hari ini berita gembira untukmu Nata, hari ini biji-biji awan sudah memenuhi langit di atas kepalaku, pertanda kalau Hujan akan turun. Semua orang tersenyum menatap langit, sama sepertiku, karena hawa dingin akan kembali mampir, musim panas segera berlalu. Apakah kamu juga tersenyum menatap langit? Bukankah kita masih berdiri di bawah langit yang sama. Kamu, juga pasti bisa merasakan hujan pertama yang akan hadir hari ini, bukan?
Sentuhkanlah jemarimu, pada tetes-tetes hujan yang hari ini akan turun, karena aku menitipkan segala macam Rindu untukmu. Coba dengarkan dari Hujan, seberapa banyak aku merindukanmu?

Aku tau apa yang kamu tunggu dari Hujan, bukan milyaran tetes air yang menyenyakkan tidur siangmu, atau hawa dingin yang menyelamatkanmu dari kepanasan, Tapi Kabut. Iya, Bias Uap putih tipis-tipis yang kamu sukai.
kamu pernah bilang, kalau kamu jatuh cinta pada kabut. lalu, jatuh cinta sama aku kapan? *maintusukgigidipojokan

Kamu menyukai Kabut, Kabut membuatmu Jatuh cinta, nanti, aku akan belajar dari Kabut bagaimana membuatmu jatuh cinta. Hahaha.
Katamu, waktu itu kamu ingin memotretku di saat kabut, kamu ingin aku menjadi modelmu, setengah bertanya setengahnya tak percaya, aku bertanya, apakah kamu sedang bercanda? Dengan lugas kamu bilang, kalau kamu tidak bercanda. Kamu ingin memotretku dengan hadiah darimu, sebuah scarf.
Aku tersenyum tanpa bisa mengontrol diri, Kamu tidak akan tahu bagaimana aku merasa bahagia, sekaligus bingung, apa yang harus aku lakukan nanti untuk bergaya, kamu tahu persis aku bukan orang yang bisa bergaya, dan belum apa-apa aku sudah deg-degan. Bagaimana tidak, di saat kamu jatuh cinta, kamu ingin aku berada di sana. Baiklah aku baper dan ke-GR-an lagi untuk kesekian kalinya.

Nata, Hujan sudah turun!. Mengguyur deras. Membasahi seluruh bumi yang aku pijak, membawa aroma tanah masuk rumah, membuat kodok bernyanyi keras dan menghantarkan hawa dingin. Semua orang bahagia, terlihat dari PM yang mereka tulis. Apakah kamu juga bahagia?
Hujan deras hari ini, pertanda musim hujan baru saja dimulai, yang katamu kabut juga akan datang.Sama sepertimu yang sedang menunggu kabut karena kamu menyukainya, aku juga menunggu kabut, karena di saat itu kamu pernah berjanji untuk datang untuk memotretku dengan scraft darimu.

Tuhan, Jitak kepalanya kalau dia lupa, pliss.




Sabtu, 07 November 2015

Surat Untuk Nata : Cerita Sore




Hei Nata, Selamat kepada kamu yang sudah tidak lagi merasa sepi.
Jika kamu kesepian, cari saja aku, aku masih di sini, belum kemana-mana.

Sore ini aku melihat rumput hijau membentang, dengan pohon beringin berdiri di tengah-tengah. Cukup begini saja aku sudah mengingatmu dan merindukanmu. haha. Aku tersenyum kecut.
Sore-sore begini dengan kondisi lelah seperti ini setelah seharian dibius dengan hiruk pikuknya pekerjaan sepertinya akan menyenangkan kalau aku pergi piknik. Dan mengajakmu.
Sore ini aku ingin bercerita tentang aku dan impianku tentang kamu, tentang harapan yang tak pernah berhenti aku minta pada Tuhan, bersamamu sepanjang waktu.
Sore begini, tepat sebelum senja, ketika angin masih semilir membawa hawa segar dengan cuaca panas dan langit masih biru.
Aku membayangkan kita berada di bawah beringin di tengah rerumputan itu. sedang menikmati sore di atas tikar bermotif kotak-Kotak.
Aku duduk sambil membaca buku karangan Andrea Hirata yang berjudul Padang Bulan sambil bersandar pada lututmu yang sengaja kamu tekuk untuk punggungku dan kamu terbaring di sebelahku, setengah terlelap. Kamu mengenakan kaus putih polos favoritmu yang pernah kamu tunjukan padaku, dan celana jeans belel yang sering kamu pakai. Rambutmu yang sudah sebahu kamu ikat rapi ke Belakang, dengan karet hitam yang pernah aku berikan untukmu.
kamu terbaring dengan posisi terlentang, Lenganmu sebelah kiri kamu jadikan bantal, lengan kanan menutupi kedua mata. Karena matahari yang menembus ruam-ruam daun membuatmu silau. Kamu tahu, melihatmu terlelap tanpa sekat pasti akan menjadi hal favoritku.
hey Nata, melihatmu terlelap membuatku ingin ikut berbaring di sebelahmu yang tertidur, lalu diam-diam memandangimu terlelap dan kemudian membisikkan sesuatu di telingamu. Membisikkan pengakuanku padamu. Semua tentang perasaanku,bahwa di sisimu adalah tempat yang menakjubkan.
aku pasti akan terkikik sendiri, dengan wajah masam karena terganggu, kamu akan membuka setengah matamu, lalu tersenyum melihatku sedang menggodamu. Kamu membiarkan aku berbaring di sebelahmu dan kita bercerita tentang banyak hal. Tentang kita. Atau kita akan sama-sama terlelap di bawah senja dan terbangun untuk melihat matahari tenggelam bersama.

ya, itu hanya bayangan, bukankah aku terlalu berimajinasi?
tinggal di dunia imajinasi terasa menarik bagiku, karena di dunia nyata, kamu melupakan aku. Kamu yang sering membuatku merasa berarti, kemudian merasa bodoh.
Aku masih ingat Nata, kamu yang selalu bertanya aku sedang dimana lalu mengajakku melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Bagaimana kamu menatapku diam-diam dan aku mendapatimu sedang menatapku. Anggap saja aku Ke-GR-an, faktanya aku memang sedang keGRan, lalu aku Jatuh cinta padamu, kemudian patah hati.

Sama seperti ketika kamu memintaku menunggumu di Garis finish di Lomba lari pertamamu, Bisakah kamu memintaku untuk menunggumu di Garis Finish kesendirianmu? Dan aku akan menunggumu, entah dengan sabar atau sebal, yang pasti aku akan menunggumu, menunggumu berhenti berlari-lari dari hati ke Hati.


Kamis, 05 November 2015

Surat untuk Nata

kepada Nata yang tak pernah lelah namanya aku ceritakan pada Tuhan.

Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?
merindukanku? Hahaha, i am kidding. Itu salah satu harapan yang aku titipkan pada Tuhan, kamu akan merindkukanku setiap hari.
Hai Nata,
carilah aku kalau kamu kesepian, aku masih disini, di tempat yang sama terakhir kali kamu meninggalkan aku. Iya, di Hari terakhir musim Hujan.

Hai Nata, kalau kamu sedang bertanya apa yang sedang aku lakukan, aku sedang merindukanmu,
Seperti palangkaraya merindukan Hujan, Riau yang merindukan langit biru dan seperti kalimantan yang merindukan Udara bersih. Mungkin, Rinduku lebih dari itu. Mereka masih punya harapan, sedangkan aku?

Hai Nata,akhir-akhir ini aku sering memimpikanmu, apa kamu baik-baik saja? aku bercerita pada sahabatku tentang mimpi yang ada kamu di dalamnya. Temanku bilang, itu hanya godaan Jin. apa kamu percaya? apa kamu pernah mendengar tentang sesosok makhluk yang menjadi penunggu rumah atau kamarmu yang sering menatapmu kala kamu sedang terlelap, jika kamu percaya, sungguh aku iri pada makhluk yang ada di kamarmu. Bisakah aku menggantikannya agar aku bisa menatapmu lekat ketika kamu sedang terpejam. baiklah, aku ngelantur.
Temanku bilang, aku sedang disukai oleh sesosok Jin, dan Jin itu yang sering datang kedalam mimpiku dan menggodaku di sana. Jujur aku lebih suka hidup dalam mimpiku karena ada kamu disana. Baiklah aku neglantur lagi.
aku takut?
iya aku sangat takut. Sekaligus sebal. jika benar itu Jin, mengapa dia harus menggunakan sosokmu untuk menggodaku? tentu saja aku tergoda mentah-mentah, efeknya? aku gagal move on. Iya move on dari kamu. Aku semakin merindukan kamu. Jin itu tidak tahu bagaimana beratnya aku berusaha melupakanmu dan bagaimana lamanya aku menunggu aku bisa bernafas tanpamu. Dia membuat cerita yang begitu aku inginkan menjadi nyata.

Nata, temanku bilang aku harus banyak berdoa, sering membaca Al-quran di kamar agar Jin itu tidak menggangguku lagi, tapi, entah kenapa aku malah takut kehilanganmu untuk kedua kalinya di mimpiku. Jika di mimpiku aku bisa bertemu denganmu, haruskah aku membiarkan Jin bersosok dirimu itu berkeliaran saja di mimpku agar aku tetap bisa melihatmu dan menghancurkan Rindu yang semakin menggunung perlahan-lahan? Dan membuatku tidak ingin bangun selama-lamanya. Bagaimana mungkin aku ingin Bangun, jika di dalam mimpiku aku bisa memelukmu erat?
hahaha, tidak, aku hanya bercanda.
Tapi, Rinduku ini tidak pernah bercanda. Rinduku ini Nyata, seperti kamu yang nyata-nyata sudah pergi tapi aku masih berharap. Kamu pasti lupa Nata, kamu pernah bilang akan mengajakku pergi, iya kamu pasti lupa membawaku pergi. Kalau kamu sudah ingat janji itu, aku masih di sini, di tempat yang sama persis ketika terakhir kamu meninggalkan aku. iya, di sini. Masih ingat kan dimana? :'










Senin, 21 September 2015

kepada kamu yang tidak pernah lupa aku Rindukan



kepada kamu yang Rindu ini tidak pernah sampai,

hai kamu sedang apa?
merindukanku?
kadang aku merasa terjebak dalam sebuah permainan yang tidak pernah berakhir,mungkin akan berakhir tapi aku tidak tau kapan akan berakhir.
sebuah permainan yang bernama Jatuh Cinta. pemainnya adalah waktu dan perasaan.
kamu dan aku, hanya Pion yang sedang mereka mainkan. atau hanya aku yang sedang dimainkan?
Jatuh cinta, Ketika waktu mempertemukan kita dan perasaan menangkap ku untuk jatuh cinta padamu. Dimana waktu kadang menempatkanku pada masa aku sangat bahagia hanya melihatmu. Lalu perasaan mulai memainkan tombolnya.
 Hanya melihatmu,tanpa harus bicara apalagi menyentuhmu aku sudah merasa bahagia. Lalu,waktu menghancurkan perasaan dan membuatku patah. Ketika waktu menghilangkanmu begitu saja.
Lalu waktu mempertemukan aku dan kamu,membuat perasaan tumbuh kembali,membuatku merasa bahagia ketika waktu membiarkan kita bicara tanpa sekat dan tertawa tanpa batas. Perasaan mulai tumbuh dan tumbuh, namun tidak butuh waktu lama,dia menunmbangkan perasaan dan membuatku hancur. seterusnya begitu. aku tidak tau kapan waktu akan berhenti mempermainkan kita. aku bisa mati kalau waktu terus saja menumbuhkan perasaan lalu membunuhnya begitu saja.
hai kamu, pernahkah kamu bertanya pada sang waktu kenapa dia memilihmu sebagai pionnya?
kadang, waktu membuatku ingin menyerah,begitu sulitnya untuk Jatuh cinta padamu. Perasaan tidak begitu kuat untuk melawan sang waktu,tapi dia sangat kuat untuk menghadapimu. Dia membuatku terlihat bodoh di depanmu, karena sesering apapun waktu menghancurkannya dia tidak pernah membiarkan aku menyerah. Dia tetap membuatku harus bermain denganmu. sekeras apapun aku memberontak,perasaan semakin kuat mendorongku,dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya lemah.
kadang sang waktu,membuatnya berfikir bahwa dia harus berjuang untuk membuatmu jatuh cinta,lalu mengorbankan aku. Dia tidak tahu bahwa aku lelah, dia hanya berfikir tanpamu dia bisa mati dan aku juga akan mati tanpa perasaan.
hei kamu, bisakah kamu meminta sang waktu untuk bermain sejenak? atau biarkan sang waktu membuatku bersatu denganmu,agar sang perasaan tidak trus-trusan terluka.
hai kamu, Jatuh Cinta padamu adalah hal paling bahagia yang aku lakukan, dan melupakanmu adalah cara membunuhku diam2. Begitu hebatnya sang waktu membuat perasaan terbang lalu menjatuhkannya lalu membantunya bangkit melalui dirimu.
hei kamu,aku ingin waktu membantuku menyampaikan Rinduku padamu,sekali saja,apa kamu akan merasa senang? bisakah perasaan tumbuh di hatimu juga? agar kamu juga merasakan bagaimana waktu sedang bahagia bermain dengan perasaan kita.
tapi sayang,waktu hanya bermain dengan perasaanku. aku hanya bisa berharap sang waktu tidak pernah mengambilmu,tetap menjadikanmu pionnya yang akan terus bermain denganku,sampai aku benar lelah dan membuat perasaan menyerah, setidaknya tidak akan ada penyesalan meskipun waktu tidak mengijinkan kita bersama.
Hai waktu, bisakah kamu ijinkan aku memeluknya sekali saja? s



Sabtu, 05 September 2015

cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi #Ending

Semenjak Cris memeluknya-tepatnya membagi jaketnya pada Bali, Bali jadi sering merasa canggung dekat-dekat cowok ini. sekarang mereka turun dari kawah menuju lembah Paltuding dengan kecanggungan luar biasa. Bali jadi sering gagap mendadak setiap ditanya oleh Cris, selama perjalanan Bali hanya diam, cris sibuk memotret sekitarnya. Cris sangat terpesona saat matahari muncul tadi, dia bisa melihat bentangan danau berwarna biru di hadapannya.
“mas Angga?Vka?”. langkah Bali terhenti,Cris yang tidak tau Bali berhenti tiba-tiba , nyaris menabrak Bali.
“hey!”. Bentak Cris. Tapi niat mengomelnya diurungkan setelah melihat Bali tertegun di hadapan dua anak yang sedang mendaki dan sama kagetnya dengan Bali.
Vika dan Angga tampak salah tingkah, tadinya mereka berpelukan tapi langsung dilepaskan ketika Bali menyebut nama meraka.
“sorry Bali,aku nggak bermaksud buat…”. Vika tampak bingung dengan apa yang harus dia jelaskan.
“udahlah vika”. Angga menepuk bahu Vika. “sorry ya Bali, kita berdua udah jadian, dan sorry aku nggak suka sama kamu, aku sukanya sama Vika”, jelas Angga yang membuat Bali menatap mereka benci. Semudah itu?. Tapi sebelum air matanya mengembung,sebelum Bali melanjutkan langkahnya ke bawah. Bali tersenyum lebar..
“aku juga gak suka sama kalian”.
Sekali lagi Bali tersenyum, menguatkan hati, lalu pergi meninggalkan Vika yang tampak merasa bersalah dan Angga.
Cris memang tidak mengerti dengan peristiwa itu, tapi mengingat cerita Bali semalam tentang gebetannya yang bernama Angga dan sahabatnya yang bernama Cika. Cris sepertinya mengerti. Cris mendengus kearah dua anak itu lalu berlalu mengikuti Bali.
“lo nggak apa-apa?”. Tanya Cris saat mereka memasuki mobil. Bali masih tertegun lalu menggeleng.
“aku nggak apa-apa”. ujarnya datar, tapi tidak bisa menahan bendungan air di matanya. Cris mengulurkan sekotak tissue dari Dasbor.
“kalau mau nangis, nangis aja, gue akan pura-pura nggak denger dan gue nggak akan lapor ke manager lo”. tukas Cris, tidak lama, Bali meledak dia menangis sejadi-jadinya. Cris menghela nafas, lalu menghidupkan mesin mobil. tanpa berminat bertanya lebih lanjut, walau sebenarnya Cris ingin menghibur gadis ini, tapi dia tidak tau caranya.
Sampai Cris mengambil barang-barangnya di Hotel, sampai mereka ada di perjalanan menuju stasiun Bali masih diam. Dia masih berusaha menenangkan dirinya. Dia juga tidak tau kenapa dia bisa sesedih ini. Nino, sopir mereka menatap Bali bingung. Dia melirik Cris yang juga tampak diam duduk di belakang menatap keluar jendela.
“cowok kayak gitu nggak pantes lo pikirin”. Ujar Cris saat mereka turun di Stasiun. Aneh , dia merasa kesal melihat gadis itu diam, karena patah hati. Bali menoleh padanya dengan sisa air mata yang mongering di bawah kelopak mata.
“aku tau”. Sahut Bali datar. Cris mengigit bibir bawahnya tidak tau harus mengatakan apa lagi.
“lo kan cewek, cantik, menarik. Pasti banyak lah yang suka sama lo, dibanding siapa tadi? Gue yakin banyak yang lebih baik dari dia”. Cris tertawa kecil agar gadis ini ikut tertawa tapi ternyata nggak berhasil.
Bali tidak mengerti apa yang membuatnya sedih sebenarnya?. Sahabatnya yang menghianatinya? Gebetan yang menolaknya terang-terangan? Atau kepergian Cris?. Bali menatap Cris lurus-lurus.
“Thankz”. Sahut Bali singkat, dia juga tidak berminat mengatakan banyak hal apalagi salam perpisahan. Dia merasa tidak ingin berpisah dengan cowok ini.
“baiklah, waktunya gue pergi. Harus gue akui,…”. Cris mencoba menata kata-kata yang tepat yang ingin dia katakan. “gue nggak suka lihat lo nangis, gue lebih suka lihat lo marah, jadi sebelum pergi gue pengen bikin lo marah”. Cris nyengir, Bali tidak mengerti maksud Cris, hingga Cris memajukan tubuhnya dan mencium kening Bali cepat. Bali tertegun merasakan sesuatu yang menyentuh keningnya barusan. Butuh beberapa detik untuk menyadarinya.
“HEY!!”. Pekik Bali melotot pada Cris. Apa yang barusan dia lakukan?. Tapi sebelum Bali berniat memukul cowok itu, Cris sudah memasangkan topi miliknya pada Bali. Cris terkekeh merasa berhasil.
“gue akan kembali, jadi tunggu gue ya, dan jangan melirik cowok lain apalagi menangisi Angga, karena saat gue kembali gue mau lo jadi pacar gue”. Cerocos Cris cepat yang sulit ditangkap oleh Bali. Bali melongo. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar.
“heh?ap-paa? pac..ar??”.
“dasar lemot”. Cris mencubit pipi Bali yang masih terbengong, gemas. “dagh!”. Dia melambaikan tangannya, tersenyum sebentar lalu berlari kearah peron. Keretanya sudah menunggu di sana.
Bali terbengong, menyaksikan kejadian yang sangat cepat itu, Cris mencium keningnya, Cris mengenakan topi miliknya pada Bali, mengatakan hal-hal yang menyenangkan dan mencubit pipinya dan sekarang dia sudah berada di dalam kereta. Bali tersadar, senyum cowok itu begitu cantik. Bali senyum-senyum sendiri.
“woy! Sampe kapan berdiri disitu?”. Teriak Nino yang mengaburkan kebahagiaan Bali. baru sadar kalau Bali berdiri di tengah jalan.  Bali berhambur kearah Nino dengan tersenyum lebar, sudah lupa sama patah hatinya yang tadi, sudah lupa sama penghianatan yang tadi, berkat Cristopher.
Bali kembali menatap stasiun, keretanya sudah bergerak. Dan dia berjanji akan menunggu Cris sampai dia datang lagi. semoga secepatnya. Bali ingin segera menatap lagi mata coklat dan Rambut yang kemerah-merahan.
The end.


Jumat, 04 September 2015

cerbung : Ada cinta di Banyuwangi #PART VII

Menit berikutnya, Cris menceritakan bagaimana saat dia dan Melisa bermain air di sungai. Melisa terjatuh dan kepalanya terbentur batu. Seketika Melisa meninggal di tempat. Cris shock berat melihat gadis yang disayanginya meninggal di pangkuannya. Sejak saat itu cris mengalami phobia pada sungai. Setiap melihat sungai, dia teringat kejadian saat itu.
“ so sorry to hear that”. Bali benar-benar merasa bersalah sekarang.
Cris mengangguk singkat lalu melanjutkan ceritanya, Bali hanya mendengarkan tanpa menyela sama sekali, membuat cris terus mengeluarkan uneg-unegnya tentang masa lalunya. Sepertinya, ini baru pertama kali Cris menceritakan bebannya pada orang lain.
Bali merasa tidak enak mendengar semua kejadian sedih itu. ngomongin soal pacar, Bali jadi teringat dengan mas Angga. Seharusnya malam ini adalah hari jadiannya dengan mas Angga. Berkat ?Vika, yah mungkin tidak bisa hari ini.
“sorry”. Gumam cris lagi, tidak menyangka bisa menceritakan hal yang paling ditutupinya selama ini pada gadis yang baru dikenal. Cris merasa sesak nafas, dia tidak sadar selama bercerita dia menaiki tanjakan. Sehingga nggak sadar kalau dia merasa lelah.
“minum dulu”. suurh Bali . “aku nggak bawa minum tapi,hehe”. Bali nyengir. Melihat cengiran itu cris merasa sedikit lebih tenang. Aneh.
“makasih, sorry tadi gue malah curhat”. Sesal Cris, merasa takut kalau cewek ini menilai dia cowok mellowdrama.
“nggak apa-apa, nggak baik juga di pendem sendiri, kamu harus menceritakannya juga ke orang lain”. ujarnya membuat Cris merasa semakin canggung. Ada yang aneh.
Setelah agak baikan mereka melanjutkan perjalanan di tengah gelap di antara banyak orang yang juga melakukan pendakian. Setelah mendengar keluh kesah cris yang kelelahan dan sikapnya jauh lebih lembut dari sebelumnya, Bali merasa nyaman dengan cowok ini. dia juga bisa menceritakan tentang gebetannya, mas Angga pada cris.
 seperti ada sihir yang menyentuh mereka. hingga mereka sampai di puncak.
Cris berdecak kagum melihat bentangan api biru di hadapannya. Bali bercerita tentang mengapa Api Biru itu muncul dan Cris memotretnya dengan lincah. Cris ingin turun tapi Bali menolak karena resiko yang besar. Bali melirik arlojinya yang menunjuk pukul 3 pagi.
“apa kita nunggu sunrise juga?”. Tanya Bali pada cris dengan suara decikan gigi yang tidak terlalu kentara, tubuhnya mulai gemetar, kedinginan. Cris mengangguk tanpa menoleh.
Bali mendesah lalu menggosok-gosokan kedua tangannya yang kedinginan. Melakukan gerakan-gerakan kecil untuk menghangatkan diri. Jadinya, Bali lebih mirip senam.
“lo kedinginan?”. Tanya Cris dengan dahi mengerut. Bali melongo. Menurut mu? Sahut Bali dalam hati. Apa dia nggak ngecek ponsel berapa derajat suhu udara saat ini disini? Jusf for info, 6 derajat celcius. 
“eh? Ngg-ak ter-lalu sih”. Ujarnya dengan nada gemetar yang tidak bisa dia sembunyikan. Kentara banget kalau bibirnya nyaris beku.  Tubuhnya menggigil. Cris menatap Bali cemas.
“ummm, jangan salah paham ya, tapi gue nggak mau lo mati kedinginan dalam tugas lo”. Cris mendekap tubuh Bali dari belakang, memberikan sedikit rasa hangat dari jaket tebalnya. Bali spontan terdiam, cowok ini memeluknya dan membuat seluruh tubuhnya malah terasa panas. Bali tidak bisa beranjak, dia seolah terpaku. Menikmati kehangatan yang dia rasakan saat ini, rasanya seperti mimpi. Dia malah bisa merasakan detak cowok itu di punggungnya, dan wangi gula dari tubuhnya.
“nanti setelah melihat matahari terbit, gue langsung Balik ke Jakarta. Jadi gue butuh istirahat sebentar. Nanti bangunin gue”. ujar cris tepat di sebelah telinga Bali, membuat tengkuknya terasa hangat. Bali mengangguk seperti robot karena grogi parah, dia baru sadar kalau hari ini hari terakhir Cris. Kenapa rasanya jadi nggak mau dia pergi?.

Cris menyandarkan tubuhnya di punggung Bali dan menaruh kepalanya di atas kepala Bali. tangannya melingkar di leher Bali. Rasanya benar-benar hangat. Bali berdiri sekuat tenaga agar cowok itu tidak terjatuh. Baru pertama kali Bali sedekat ini dengan cowok. Jantungnya berdetak begitu cepat, ada apa ini?. Sekarang Bali merasa dia tidak ingin matahari terbit selamanya. (bersambung)

Kamis, 03 September 2015

Cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi #partVI

Sejak siang tadi cris tidak keluar dari kamarnya.  setelah kejadian di sungai tadi, cris tidak lagi galak atau bawel. Dia tidak bicara sama sekali tatapannya datar mengerikan. Bali tidak tau alasannya. Yang jelas Bali merasa takut juga merasa penasaran sekaligus. Terus mendakinya gimana?
Bali menatap resah ponselnya, Vika dan mas Angga dengan kompak memberitahu kalau mereka batal nonton kembang api bersama dengan alasan mas Angga bertugas dan Vika tiba-tiba meriang. Padahal dia sudah bersiap untuk pergi,  karena melihat tamunya tidak turun sedari tadi kemungkinan pendakian batal malam ini dan dia bisa menonton kembang api bersama mas Angga. Tapi,sudahlah.
Bali mendesis putus asa, sekali lagi dia menatap baju terbaiknya yang sengaja dia gunakan khusus untuk malam ini. Dia geletakkan lagi tas selempangnya asal dan duduk di balik meja resepsionis dengan lesu. Kenapa malam tahun baru dia sekacau ini? huuft.
Tepat ketika dia menggerutu, Bali terlonjak kaget begitu melihat cris tiba-tiba muncul dan sudah siap dengan jaket tebal, topi hangat dan ransel, berdiri tepat di depan resepsionist. Sejak kapan cowok ini ada disini?
“ayo, bukannya lo harus nganter gue?”. Tanya cowok itu tajam.
Bali gelagapan, “ini masih terlalu dini mas bro” sambil menunjuk jam dinding. “seenggaknya habis kembang api baru kita jalan”. kata Bali penuh emosi, yang hanya mendapat respon berupa dengusan singkat.
Cowok itu benar-benar tidak mengindahkan kata-kata Bali, dia tetap memilih melangkah kearah tropper seenaknya. Itu artinya tidak ada negosiasi. Bali tidak punya pilian selain mendesis dan menuruti tamunya, Bali mengambil jaket seadanya, sepatu boots juga tas kecilnya tadi. bukan tas ransel yang biasa dia gunakan untuk memandu tamu ke Kawah Ijen. Biasanya dia isi tasnya dengan air minum dan roti, tapi kali ini nggak sempat. Bali berlari buru-buru kearah tropper yang sudah dihidupkan mesinnya oleh Cris, sebelum cowok itu meninggalkannya, tanpa bayaran.
 “kamu baik-baik saja?”. Tanya Bali berhati-hati, wajah cowok ini dua kali lebih menakutkan dibanding saat pertama mereka bertemu. Cris tidak menjawab. cowok itu sepertinya terlalu focus mengemudi , Bali tidak mau mengganggu dan memilih diam juga menahan dingin.
Cris memarkir mobilnya di antara puluhan tropper lainnya, Paltuding benar-benar ramai malam ini. banyak tenda-tenda yang berdiri di area lapangan. Bali memeluk tubunya sendiri dan menahan diri agar giginya tidak bergesekan. “ kita harus menunggu sampai jam 2 baru kita bisa mulai mendaki” ujar Bali pada Cris yang sudah berdiri di sampingnya. Seperti biasa, Cris tidak menyahut dan neloyor pergi. Huft.
“tahu kan artinya kita harus nunggu empat jam-an lagi”. kata Bali gemetar, sambil berusaha mengikuti langkah Cris yang berjalan ke arah lapangan. “by the way, kamu mau kemana?”.
“ boleh gabung?” Cris berdiri di antara grombolan anak-anak camping yang sedang menyalakan api unggun. Seorang anak mengangguk lalu mengijinkan Cris duduk di tikar sebelahnya. Cowok itu menoleh pada Bali “ mau berdiri selama empat jam-an?”. Cris menepuk tempat kosong  di sebelahnya.
Bali langsung duduk di sebelah Cris. Pemandangan luar biasa ketika Cris cowok pemarah dan moody itu langsung akrab dengan orang baru, bahkan mereka bisa ngobrol banyak dan membuat Bali seolah Arca. Yang paling mengagumkan cowok itu bisa main gitar dan menyanyikan sebuah lagu Hero dari Family of the year dengan wajah ceria. Setelah itu dia tidak mengingat apapun.
Duarrrrr…..duaarrrrr…..
Bali merasakan kepalanya sakit terbentur tanah, sepertinya barusan dia terjatuh tapi entah darimana. Bali meringis kesakitan, begitu membuka mata semua orang menatap kearah langit yang sudah penuh dengan kembang api. Bali terkagum sesaat, segera dia mencari Cris. Cowok itu tidak jauh darinya sedang menatap langit sambil memutar sendi lengannya, seolah dia baru saja mengangkat beban berat.
“ happy new year!”. Sorak Bali pada Cris dengan mata mengantuk.
“ sudah terlambat lima menit”. Sahut Cris datar, Bali mengecek jam tangannya dan Cris benar. “ Gue pikir lo bakalan ngelewatin tahun baru tanpa kembang api”
Bali mendesis sebal, cowok jahat ini tidak membangunkannya ketika dia tau kembang api sudah mulai. Sekali lagi, untung dia tamu.
Pukul 2 tepat, mereka memulai pendakian berbekal senter kecil bersama puluhan orang lainnya. Bali berjalan sambil memeluk tubuhnya karena dingin.
“ lo nggak pake jaket naik gunung? Bener-bener pemandu tangguh” pujian yang lebih tepatnya sindiran dari Cris. Bali yakin cowok ini sedang tertawa mengejek.
“berkat orang moody yang aku pikir nggak jadi naik gunung dan tiba-tiba muncul jam 8, sorry for unwell preparation”. Bali berusaha tidak berkata dengan sinis. Tapi, memang benar salah dia kan?
Cris tidak segera membela diri, dia diam sejenak, mengatur nafas dan mulai bicara.
“gue cuma nggak suka ngeliat sungai”. Ujarnya lebih lembut, tatapan matanya yang tajam tadi terlihat sedih. Bali jadi merasa bersalah.
“hahahaha,…orang Jakarta gak suka main di sungai ya”. Bali memaksakan diri melucu, tapi malah garing. Cris diam lagi beberapa saat, menimbang antara dia ingin bicara dan tidak. Bali tidak ingin memaksanya bercerita, hanya rasanya ada yang mengganjal pada dirinya kalau tidak mendengarkan apapun yang membuat Cris sedih. Tapi lebih baik tidak mendengar apa-apa. "eng,..enggak usah ceri....".
 “pacar gue meninggal di sungai gara-gara gue,namanya melisa”. Kata Cris dengan pelan dan berat sebelum Bali menyelesaikan kata-katanya. Bali mendelik lalu mendekap mulutnya. Bali menyesal sudah mendengarnya.(bersambung)

Senin, 24 Agustus 2015

cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi (part V)

“oh itu?!" Bali menunjuk taman di tengah kota, "... namanya taman Sritanjung. Biasanya orang-orang nongkrong di sini sore-sore, dari anak-anak sampai orang tua”. Cerocos Bali, Meskipun ramai, tempat itu terlihat asri dan bersih.
 Cris memperhatikan yang ditunjuk Bali. “keistimewaan tempat ini, tempat ini dekat pasar tradisional, jadi kalau si ibu-ibu belanja bapak-bapak dan anak-anak bisa bermain di sini. Selain itu juga deket masjid besar, masjid terbesar di kota ini”. jelas Bali membuat Cris berdecak melihat bangunan masjid yang indah itu. lagi-lagi cris memotretnya.
“gue pengen sarapan di situ”. Cris memarkir mobilnya di sisi taman. Menunjuk warung berderet di samping taman. Bali menyetujui, soalnya dia belum sarapan juga. Setelah berkeliling-keliling Bali menunjuk nasi tempong, sempat mengernyit sebentar dengan nama aneh yang dipesan Bali, tapi akhirnya Cris memesan yang sama karena kelihatannya enak. 
“huaaaaaa…pedessssss”. Cris mengipasi mulutnya yang kepedesan, wajahnya yang putih seperti bayi sudah memerah karena kepedesan, keringat di dahinya mengalir seperti air dari shower. Wajahnya nyaris semerah rambutnya. Bali melirik cris yang sudah seperti monster sambal.
“siapa suruh ikut-ikutan aku”. Cibirnya sambil memberikan segelas air dingin. Cris meminumnya seperti orang kalap. 
“mana gue tau kalau sambelnya pedes”.gerutunya. Bali hanya mendesah. Namanya juga sambel.
Berkat Nasi Tempong itu Cris menghabiskan sebotol besar air mineral yang sudah dia beli di Roxy tadi. Dan ngomel-ngomel setelahnya. Bali sama sekali tidak mau membantah, kalau dia membantah cowok ini bakal semakin mengomel. Bali hanya mendengus geli, ngomel-ngomel karena kepedesan tapi sambelnya dihabisin. Salah sendiri.
Karena waktu masih siang, cris tidak mau Balik ke Guest House padahal kan mereka harus banyak istirahat buat pendakian nanti malam. Semalam Bali juga kurang tidur, jadi dia sering menguap karena ngantuk. Walau harus kena jitak dari Cris setiap kai Bali menguap, Cris bilang menguap itu nggak sopan. Kalau bukan tamu, Bali sudah menjitaknya balik.
“kamu bilang pengen yang adem-adem kan?”. Tanya Bali pada cris, sisa merah di wajahnya sudah mulai hilang. Cris mengangguk. Heran, padahal nggak ada panas sedari tadi. Cuma mendung yang sudah siap menyiram mereka dengan air hujan. “ini namanya KALIBENDO, daerah perkebunan, kamu bisa lihat banyak perkebunan disini”. jelas Bali, yang sepertinya barusan diabaikan karena cris sudah berjalan lima langkah di depannya. Iyuuuh.
Cris tampak senang melihat pohon-pohon besar, sesekali dia memotret pohon-pohon besar yang bernama BENDO , menghiasi sisi jalan setapak menuju sungai besar. Pohon cengkeh di sekeliling dia juga, dia memotret bunga cengkeh yang wangi. Juga lapangan penuh rumput hijau yang indah. Hingga sampai jembatan  di atas sungai. Cris terdiam. Seolah kakinya terpaku. Wajahnya pucat menatap sungai berbatu itu. Bali mengernyit. Anak laki-laki itu seperti ketakutan. Bali bisa melihat lututnya gemetar.
“kamu nggak apa-apa?”. Tanya Bali cemas melihat tamunya yang seperti mayat hidup. Tubuhnya nyaris tumbang ke Belakang kalau aja tangannya tidak sigap menahan di Jembatan.  “kamu kenapa?”. Tanya Bali semakin cemas. Nafasnya terdengar patah-patah, Bali mulai panik. Gawat kalau sampai dia pingsan atau kenapa-napa, dia sendirian disini.

“gue mau pulang aja, gue nggak suka disini”. ujarnya gemetar yang berusaha ditutupi. Cris nyaris terjatuh saat melangkahkan kakinya. Namun dia menolak saat Bali ingin membantunya. Bali menatap punggung cowok yang berjalan terhuyung kembali ke mobil itu bingung. Ada apa? (bersambung)

Jumat, 21 Agustus 2015

Review Koala Kumal : Patah Hati ?



Patah hati : Kisah Hidup

Setelah membaca KOALA KUMAL, aku jadi kepikiran tentang patah hati – patah hati yang pernah aku rasain. Kata bang Radith, patah hati melatih kekuatan kita dalam menahan sakit hati, patah hati membuat kita semakin bertumbuh dewasa, tapi bagiku patah hati membuatku tahu tentang apa yang orang lain pikirkan terutama pikiran para cowok . sama halnya dengan Raditya Dika yang mengamati tentang tingkah laku serta kode-kode cewek sampai dia paham tentang apa yang cewek pikirkan, ternyata patah hati benar-benar bisa membuat kita tahu beberapa hal.
1. kita akan tahu apakah cowok itu beneran suka sama kita atau hanya sekedar PHP. Memberikan peluang dan harapan seolah-olah menyukai kita balik , nyatanya dia melakukan hal itu ke banyak cewek yang dikenalnya. Mendengarkan kita seolah-olah hanya kita yang didengarkan, melihat kita seolah-olah hanya kita yang dia lihat dan merayu seolah kita adalah special.

2. kita akan tahu mana cowok yang serius dan pura-pura serius. semua cowok pasti akan melakukan yang terbaik kepada cewek saat pedekate. Menunjukan yang baik-baik dan melakukan yang baik-baik pokoknya nggak ada cacatnya deh, hanya saja. itu karena dia ingin memilikimu, tepatnya memiliki pacar, setelah dia putus dia tidak bisa menjalani hidup sendiri jadi dia akan melancarkan aksinya merayu beberapa cewek dan berusaha sebaik mungkin untuk (asal) mendapatkan cewek. Dengan kata lain : sebagai pelarian. Dia akan berusaha maksimal untuk merayu beberapa cewek dan berharap ada satu atau lebih yang nyantol sebagai pacarnya. Cowok seperti ini tidak akan pernah serius menjalin hubungan. Bisa di bilang dia hanya berambisi memiliki pacar, bukan mencintai.

3. Cowok yang akan memanfaatkanmu melalui kata-kata mutiaranya yang akan menerbangkanmu hingga ke langit ke tujuh dan akhirnya kamu akan menuruti apapun yang bisa kamu lakukan untuknya. Jika kamu menolaknya kamu akan kehilangannya. Karena dia akan mencari wanita lain yang bisa di manfaatkan dan menuruti kata-katanya setelah membuatnya bertekuk lutut.

4. cowok yang tidak menyukaimu dan berteman denganmu karena tidak ingin menyakitimu. Dia jelas-jelas tidak menyukaimu, hanya karena dia takut di bilang jahat dia akan tetap menjadi temanmu. Namun, kita harus tahu secara detail bahwa kadang-kadang kita sedang di tolak secara halus hanya kita tidak menyadarinya. Seperti ketika kamu curhat dia hanya akan berkata ‘sabar,semangat!’ tanpa ingin tahu lebih lanjut masalahmu. Atau saat kamu menulis status tentang masalahmu di media social dia sama sekali tidak terpengaruh dengan itu. bisa jadi, dia tidak menyukaimu hanya sebatas teman.

5. cowok yang menyukaimu tapi karena beberapa hal dia tidak berani mengungkapkan. Biasanya dia adalah teman terbaikmu, atau teman yang berusaha menjadi terbaik untukmu. Yang selalu ada, mendengar cerita-ceritamu, mendengar keluh kesahmu, dan menjadi tong sampah apapun masalahmu. Dia akan diam-diam menyukaimu meski sekali-kali dia akan berkata kasar untuk kebaikanmu.

6. cowok yang selingkuh, entah kenapa, ini perasaanku saja atau semua orang merasakannya, cowok yang suka selingkuh adalah cowok yang mudah kita cintai. Dia pemilik kata-kata manis sejagad raya, cowok paling romantic sedunia, cowok ternyaman di muka bumi. Mungkin keahlian-keahlian itu yang membuat mereka di terima di semua sisi perempuan. Bahkan, di balik perempuan baik-baik dan polos sepertiku, aku lupa. Perempuan sepertiku adalah yang paling membosankan dan paling mudah di selingkuhi.

7. cowok-cowok yang mendekatimu, menatap ke arahmu, memandangmu, bicara denganmu dan mengobrol, yang kamu sukai. Tapi, dia menyukai temanmu. Kita bisa melihat ketika dia lebih bahagia saat mengobrol dengan teman kita dan kita hanya akan menjadi basa-basi atau pintu pembuka kearah obrolan mereka.

8. cowok-cowok yang cinta mati padamu, yang tidak bisa melupakanmu bertahun-tahun, yang sungguh-sungguh memikirkanmu, tapi kamu tidak memikirkannya. Mungkin karena dia terlalu mencintaimu membuatmu tidak khawatir akan kehilangan dia, jadi kamu merasa tidak perlu mempertahankannya dengan perhatianmu karena tanpa melakukan itu mereka akan tetap mencintaimu.

9. cowok yang kamu sukai, dan dia juga menyukaimu. Tapi ada sesuatu yang membuat kalian tidak bisa bersama. Ketika kalian berdua bersama orang-lain : pacar masing-masing.

10. cowok yang akan datang di saat merindukanmu dan pergi saat merindukan yang lain, tipe cowok baik-baik yang akan pergi dan datang sesukanya. Tipe cowok yang tidak mempertahankanmu namun juga tidak mau melepasmu.

jangan tanya berapa kali aku patah hati, aku juga menulis tentang pengalaman orang lain kok.