Kamis, 28 April 2016

#REVIEW : MAGIC HOUR


MAGIC HOUR, sebuah film yang gagal aku tonton bersama Nata. Selama dua minggu film ini diputar aku belum punya kesempatan untuk nonton, yah melihat film ini diputar selama 2 minggu artinya film ini cukup diminati banyak orang, dan membuatku cukup penasaran.

sekilas tahu tentang desas-desusnya, cerita ini berkisah tentang Cinta (yaiyalah...), tentang sahabat yang mencintai diam-diam , bisa bikin nangis, dan pemainnya kece-kece. Terus, beli bukunya karena penasaran, baru nyampe bab 7, Okeh, dan akhirnya saya nonton. maksudnya baru nonton di Youtube. *nangis...
berikut adalah Review saya yang agak nyeleneh, ya namanya juga pendapat kan yaa..boleh dong...hahaha *Plak
Ceritanya masih sama dengan desas-desusnya, berawal dari persahabatan dua anak perempuan bernama Gwenny dan Raina sang pemeran utama. Raina yang kecelakaan ketika mengantar bunga (kenapa Raina harus lebih memperhatikan foto dibanding jalanan yang notabenenya jalan besar dan lampu merah?), Raina baik-baik saja dan pulang dari rumah sakit setelah menanda-tangani surat yang anehnya sudah ada namanya.
Lanjut Gwenny yang meminta Raina berpura-pura menjadi dirinya untuk menemui cowok bernama Dimas. Raina menunggu Dimas dengan berdebar-debar, dan ketika melihat Raina, Dimas langsung buru-buru pergi, Raina mengejar Dimas, Dimas naik mobil dan Raina mengejarnya dengan sepedah ontelnya sambil hujan-hujanan. Penglihatan Raina tiba-tiba kabur dan membuatnya terjatuh. Dimas melihat Raina terjatuh dan menghentikan mobilnya lalu menolong Raina. (kenapa harus lari kalau akhirnya Raina ditolong?) .
Raina bertemu dengan Toby, sahabat yang mencintainya diam-diam, Toby sangat menyayangi Raina namun ada yang juga menyukai Toby, Anisa. ada cinta segitiga disini.
Raina bertemu dengan Dimas di rumah sakit, lalu bilang kalau dia ingin menyelidiki Dimas sebelum mengenal Gwenny, Dimas setuju dan menyuruh Raina lebih mengenalnya lagi. Dimas dan Raina saling mengobrol dan bercerita, mereka jadi sering bertemu dan saling mengenal . Menari dibawah Hujan, membaca buku dan menceritakan keinginan Raina untuk menerbitkan buku. Mereka menonton Magic Hour bersama di dermaga. Pertemuan-pertemuan mereka membuat mereka semakin dekat,  yang akhirnya membuat mereka saling jatuh cinta.
Raina meminta Gwenny untuk menemui Dimas, namun Gwenny menolak.
Raina semakin dekat dengan Dimas, mereka janjian untuk bertemu di pasar malam, Dimas tidak datang , di waktu yang bersamaan Gwenny datang menemui Dimas, dan ternyata Gwenny langsung menyukai Dimas. Raina menunggu, hingga hujan turun dia memutuskan untuk pulang.
sesampainya dirumah, Gwenny bercerita kalau dia baru saja bertemu Dimas, Raina yang kecewa menangis mendengar cerita Gwenny yang akan bertunangan dengan Dimas seminggu lagi.
Toby datang menemui Raina, menyatakan perasaannya, namun Raina menolaknya dengan halus, Raina hanya ingin bersahabat dengan Toby sedangkan Toby sangat menyayangi Raina dan berharap lebih.
saat makan malam, Dimas datang bersama ibunya di rumah Gwenny, saat itu Dimas menolak untuk dijodohkan dengan Gwenny karena dia telah jatuh cinta pada Raina, Gwenny marah dan mendorong Raina hingga terjatuh dan pingsan. (entah kenapa Gwenny marah padahal dia yang nyuruh).
Raina terbangun di rumah sakit dan Buta, (hanya dokter dan penulis yang tahu tentang dampak terjatuh dengan kebutaan, iya emang ada efeknya sih). Raina menjalani kehidupan dengan kebutaan, Dimas yang melihat Toby di rumah sakit langsung memukul Toby, karena Toby-lah penyebab kecelakaan Raina waktu itu. (kenapa Toby kabur setelah melihat orang kecelakaan, Toby benar-benar nggak gantle). Toby merasa bersalah.
Dimas di Vonis hidupnya tidak panjang lagi (ya Heran sekali masih ada yang menggunakan cerita begini di tahun 2015 lalu). Dimas mendonorkan matanya untuk Raina. dan ketika Raina selesai Operasi dia melihat Dimas. another Dimas. Raina awalnya percaya kalau dia Dimas, namun akhirnya dia sadar kalau laki-laki itu bukan Dimas. ya, kembarannya Dimas yang entah siapa namanya.
Dimas meninggal, dan menyuruh sodara kembarnya untuk menjaga Raina, Toby yang tidak kunjung mendapat tempat di hati Raina setelah Dimas meninggal akhirnya melirik Gwenny ( di novelnya mereka akan menikah). (Toby, kalau kamu mencintai Raina kamu tidak akan bisa semudah itu berpaling pada Gwenny -_-", tapi lagi-lagi tergantung penulis skenario sih dan sutradara). lalu, anisa yang di awal, tidak ada lagi di scene-scene berikutnya. lalu untuk apa karakter Anisa dibuat?entahlah.
di ending, kembaran Dimas membocorkan semuanya termasuk tentang Dimas disaat-saat terakhirnya, adegan ini tidak bisa membuatku menangis, maaf nggak peka. Lalu mereka ke Kawah Ijen (scene favorite soalnya deket rumah). Tidak tahu kenapa, mereka terasa sangat dekat, lalu kembaran Dimas menobatkan diri ingin menjadi cinta terakhir Raina, sepertinya Raina senang, semudah itu Raina melupakan Dimas dan memilih kembarannya? ya, aku tahu ini hanya agar pemain utamanya tidak tergeser saja atau hilang, jadi dia tetap digunakan dengan peran yang berbeda. lalu terbit novel Raina, yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan dia menulisnya.

prok-prok-prok...Tamat...dan aku merasa sedang menonton FTV yang dilayar-lebarkan. * MAAF

overall, cuma suka pemainnya aja, kurang tertarik dengan ide ceritanya yang menurutku biasa saja *ditendang pembaca, iya cerita seperti ini terjadi di banyak FTV-FTV, menurutku pengemasannya masih kurang halus. Saya sebagai penonton tidak terbawa suasana sebut saja Baper, saya tidak tertawa ketika lucu atau sedih ketika adegan tragis, ya..tidak ada emosi yang ditunjukan. Kedekatan Raina dan Dimas pun sangat dangkal, proses kedekatan mereka hanya dipaksakan karena durasi tanpa melibatkan emosi, tidak ada tangga dramatisasi yang menarik dan layer-layer yang membuat mereka bisa dekat tidak otomatis, umm bahasa sederhananya Proses yang membuat mereka dekat. Too much telling story with no support good acting.

adegan yang paling diingat dan berkesan :
-Raina Kecelakaan 2 kali.
-Raina menari di bawah hujan
-ketika Toby menyatakan cinta di Jalan Raya
-Scene terakhir di kawah Ijen

kata-kata yang paling diingat :
- " siapa yang paling sayang sama kamu?" "aku", "siapa yang paling sayang sama aku?". "kamu"
- " Tobyy, suatu hari akan ada yang mematahkan hatiku, dan saat itu aku membutuhkanmu untuk memelukku, makanya aku nggak mau kehilangan kamu"
- " ketika kamu bahagia mata itu bercahaya"

oke cukup : Baiklah, maaf kalau ada pihak yang tidak suka dengan tulisan saya dan itu sah-sah aja. Saya bukan penulis buku best seller atau penulis skenario 'kok berani mengkritik sih?', ya saya kan berpendapat bukan memfitnah kan ya, karena ini masalah selera men dan sudut pandang. 
:D
enjoy ajalah ya...

Senin, 25 April 2016

Cerbung : 12 jam #part2

(Lanjutan )


“ Nara? Kok kamu di sini?”. Dahi Tobi berkerut, Nara tidak memiliki jawaban cadangan dan hanya bisa menjawab dengan cengiran.
            Nara tidak bisa hidup normal setelah Tobi bilang dia akan pergi ke Penang. Nara sering melamun dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan Tobi bertemu gadis penang, Tobi melupakannya, Tobi kembali ke Indonesia dengan seorang istri, Tobi tidak akan kembali dan mungkin tidak pernah ingat kalau punya teman seperti Nara. Nara tidak bisa tidur nyeyak, membayangkan hari-harinya di kampus akan sepi tanpa ada kehadiran Tobi, sahabat satu-satunya.                    Nara selalu bermimpi buruk, membayangkan kalau dia tidak akan mendengar kebawelan cowok itu lagi, tidak akan mendengar protesannya lagi kalau Nara ceroboh, tidak ada suara tertawanya lagi. Memikirkan hal-hal buruk yang mengerikan baginya itu, Nara tidak bisa berfikir dengan benar. Andai saja, Nara berani mengungkapkan perasaannya pada Tobi. Tapi, Nara khawatir, Tobi akan ilfeel menjadi temannya lagi, keakraban diantara mereka tidak sama lagi, kebawelan Tobi tidak sama lagi. Nara benar-benar takut kehilangan sosok Tobi. Lalu, Nara memutuskan untuk mengikuti Tobi ke Jogja, agar dia bisa menemani Tobi hingga dia terbang dan entah kapan kembali. Agar Nara bisa merasakan, hangatnya kehadiran Tobi untuk terakhir kalinya. Yakin idenya benar-benar bagus untuknya, Nara langsung pesan tiket kereta di tanggal yang sama dengan Tobi.
            Nara masih belum menemukan alasan untuk menjawab pertanyaan Tobi, “ kamu nggak ngikutin aku kan?”. Tanya Tobi curiga. Nara langsung gugup dan pura-pura tertarik dengan botol aqua.
“ ya enggaklah, aku ada acara tahu di Jogja”. Dusta Nara, dia tidak mau Tobi merasa Nara menjijikan karena mengikutinya hingga ke Jogja. Nara ingin memanfaatkan 12 jam kedepan untuk membuat kenangan manis bersama Tobi yang tidak akan cowok itu pernah lupakan.
“ acara apa ?”. kejarnya.
“ Rahasia”. Nara menjulurkan lidahnya,mengejek Tobi dan membiarkan cowok itu penasaran. Tobi masih menatap Nara penuh Tanya, dengan cuek Nara duduk dan mengeluarkan Ipod-nya dan memasangnya di kedua telinganya. Tatapan mata Tobi masih terpaku padanya, Nara bukannya tidak bisa merasakan itu, dia hanya tidak ingin 12 jam perjalanan ini menjadi perpisahan kaku dan membuat Tobi tidak mau mengenal Nara lagi.
“udah makan?”. Tanya Tobi lembut, Nara menoleh Tobi dengan wajah tidak tahu apa-apa.
“ apa?”. Nara melepas kedua earphone-nya, merasa kalau Tobi baru saja mengatakan sesuatu.
“ mbak, bisa minggir? Ini tempat saya”. Seorang ibu-ibu bersama balita dalam gendongannya berdiri di samping Nara. Nara minggir, tapi kelihatannya ibu-ibu itu kerepotan karena di belakangnya anaknya yang lain yang berusia 4 tahunan juga ikut duduk. Nara jadi terjepit di dekat Jendela. Tobi menarik tangan Nara, dan menyuruhnya duduk di sebelahnya. Dengan nurut Nara duduk dengan tenang. Benar saja, ibu-ibu itu terlihat lega begitu Nara pindah duduk.
“ Kamu tadi ngomong apa?”. Tanya Nara, kembali mengulang pertanyaannya pada Tobi. Tobi melirik Nara sebentar.
“ kok nggak bilang sih kalau mau ke Jogja, tahu gitu kan bareng ke stasiunnya”. Kata Tobi, Nara nyengir.
“ Kejutan bos”. Sahutnya bohong, tapi dia sungguh-sungguh mengejutkan Tobi.
“ sudah makan? Pasti belum”. Kata Tobi, dia mengambil sesuatu di dalam tasnya. “ nih makan, Cuma punya satu sih jadi jangan minta lagi”. Tobi mengulurkan coklat pengganjal perut yang dia siapkan untuk perjalanannya. Nara menatap Tobi berkaca-kaca, jarang-jarang cowok ini se-dermawan ini.  Sebagai seorang cowok, Tobi cukup pelit. Nggak heran kalau dia jarang punya pacar dengan durasi lebih dari tiga bulan.
“ Tengkyu bos”.

Tobi memandang Nara malas, “ Biasa aja kali”. Tobi tersenyum simpul lalu kembali menggunakan handphonennya. Beberapa menit berlalu dengan Tobi membaca sambil mendengarkan lagu dan Nara menghabiskan coklat. Cukup begini saja, duduk sebelahan dengan Tobi, Nara sudah bahagia. Cinta memang sesederhana ini.

Beberapa kali Nara mengganggu konsentrasi Tobi, sepertinya Nara benar-benar memanfaatkan sisa waktunya bersama Tobi. Meskipun sebal, Tobi meladeni Nara juga. Nara yang berceloteh tentang apa saja. dia tidak mau membiarkan Tobi tertidur karena masih banyak hal yang ingin ia ceritakan. Nara berdoa dalam hati, kereta ini akan membawa mereka ke sebuah tempat yang tak berujung. (bersambung)

Sabtu, 23 April 2016

Cerbung : 12 Jam #part1


Nara berlari sekuat tenaganya, meskipun udara di paru-parunya terasa menipis, dia tidak peduli kalaupun harus pingsan sesampainya di kereta. Pokoknya dia tidak boleh terlambat naik kereta.
            Karena terlalu deg-degan, Nara tidak ahal Stasiun masih 2KM lagi. Waktu sudah menunjuk 05:45 yang artinya 15 menit lagi keretanya datang. Tidak ada waktu untuk menunggu tumpangan, Nara memutuskan untuk menempuhnya dengan berlari. Apapun yang terjadi, Nara harus bisa naik kereta yang akan membawanya ke kota Gudeg, Yogjakarta.
            Yogjakarta, Kota yang yang diidam-idamkan Nara untuk berkunjung. Namun, meski dia sangat ingin pergi kesana, Jogja bukan itu alasan dia harus bangun shubuh dan berangkat ke stasiun yang berjarak 35 KM dari rumah. Bukan untuk berwisata seperti yang diidam-idamkannya, ataupun kuliah. Karena Nara sudah berkuliah di Universitas swasta di Banyuwangi. Juga bukan karena ada bazar buku besar-besar yang mematok harga 10.000 dari penerbit favorit Nara, tapi karena…Dia.
            Nara berhasil menapakkan kakinya ke kereta tepat ketika suara peluit petugas berdenging nyaring, ketika beberapa orang sudah duduk di bangku mereka dengan manis. Dan suara “Guzessss…Guzeessss…” yang mulai bergerak. Nara berusaha memperbaiki nafasnya yang terengah-engah, paru-parunya terasa kering, namun dia masih tersenyum begitu melihat Tobi, cowok yang sedang duduk di sebelah carrier dengan headset di kedua telinganya. Iya, Cowok itu. Alasan Nara berangkat ke Jogja dengan uang tabungan yang pas-pasan dan minim pengalaman.
            “ aku mau ke Penang”. Kata Tobi, ketika Tobi dan Nara duduk di bangku kantin kampus. Nara mengalihkan perhatiannya dari cola yang sedang dia teguk, pada Tobi yang terlihat tersenyum namun menyembunyikan kekalutan.
 Dengan polos Nara memfokuskan diri pada Tobi.” Penang itu dimana? Flores? Bali?”.
Tobi menyesap batang rokok lalu menghembuskan asapnya asal. Kebiasan Tobi yang tidak disukai Nara, merokok di sembarang tempat. Sambil terbatuk-batuk Nara mengibas-ibaskan asap rokok Tobi yang mengganggu dirinya. “ Penang itu Malaysia dodol”. Ejek Tobi, Nara berbeda dengan Tobi yang hobi travelling. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di rumah, paling jauh dia hanya ke malang, itupun karena ada pelatihan kependidikan anak usia dini. Selain kuliah, Nara adalah seorang guru PAUD.
“ Malaysia?”.  Nara melotot, Tobi memang suka travelling. Sekitar 60% bagian Indonesia pernah dia kunjungi, tapi keluar negri ini untuk pertama kalinya. “ Travelling lagi?”. Ada nada kecewa dalam pertanyaan Nara, karena itu artinya dia akan kehilangan cowok itu lagi. Susah signal, males ngehubungin, nggak punya paket data, dan alasan-alasan lain yang membuat Nara tidak bisa menghubungi Tobi. Yah meskipun seminggu atau dua minggu saja, tapi tidak ada kabar dari Tobi sebentar saja hidup Nara bisa berantakan. Badmood,Unmood,baper..dan penyakit kejiwaan lainnya.
Tobi adalah sahabatnya, sahabat yang dia cintai diam-diam. Cowok yang bisa membuat Nara bahagia meski duduk santai di kantin dengan dua cola dan asap rokok. Tobi sahabatnya sejak pertama masuk bangku kuliah, mereka akrab semenjak Tobi meminjam buku catatan, hingga akhirnya mengerjakan tugas bersama, bertengkar, saling mengejek, saling curhat dan akrab. Cowok yang hanya bisa Nara cintai diam-diam, karena alasan klasik. Nara tidak mau hubungannya berubah karena ketidaknyaman Tobi kalau dia tahu perasaan Nara. Sama halnya dengan Nara, Tobi menjadikan Nara sahabat terbaiknya.      
Mendengar Tobi akan pergi lagi,perasaannya mendadak hampa. “ berapa lama?”. Tanya Nara masih kaget,“oleh-oleh ya..”. Nara berusaha untuk tidak terlihat sedih. Menyisipkan senyuman palsu, dan menahan berat di dadanya.
Tobi tertawa pelan, “ Oleh-oleh? Aku nggak travelling di sana, tapi kerja, ya kerja sekaligus travelling sih..ya kira-kira setahun,dua tahun…”. Tatapan Tobi terfokus ke udara. Nara menatap Tobi seksama, memperhatikan apakah dia sedang bercanda atau sungguhan. “ aku udah mempersiapkan diri udah lama, paspor-ku baru jadi kemarin. Aku pengen mengexplore Malaysia dan Brunei”. Jelasnya, membuat Nara yakin kalau Tobi sedang tidak bercanda.
“ Kapan?”. Tanya Nara yang menggantung di udara.                                                           
“ bulan depan”. Tobi tersenyum, mematikan rokoknya ke asbak lalu meneguk cola miliknya. “ nanti aku bawain oleh-oleh kalau aku udah pulang, doain nggak Cuma bawa oleh-oleh..tapi juga istri”. Tobi mengacak rambut Nara yang hanya bergeming seolah tak bernyawa. Gadis itu masih mencerna semuanya pelan-pelan. Tobi akan ke Penang setahun atau dua tahun, yang artinya…mereka akan berpisah dan mungkin selamanya. Kemungkinan Tobi bertemu dengan bule cantik, sangat besar. Ditambah Tobi adalah tipe cowok yang suka dengan cewek-cewek cantik dan seksi. Berbeda dengan dirinya, yang jauh dari kata fashionable, yang tidak bisa membedakan Stiletto dan wedges,yang berfikir semua jenis celana dalam bentuk apapun adalah sama, Celana.
“ Oh,..”. Nara kehilangan semua kosa-kata yang pernah dia pelajari seumur hidup, Nara tidak punya ide untuk sekedar mengolok Tobi atau membuat lelucon.
“ aku pergi dulu Ra,..mau ke pak Jiwo yang mensponsoriku ke Penang”. Pamit Tobi, Nara hanya mengangguk seadanya. Nara memutuskan, mulai hari ini dia akan membenci pak Jiwo.

         
Nara kembali menggerakan kakinya ketika ada penumpang kereta lain yang ingin melewatinya. Nara memilih untuk berjalan maju, menghampiri Tobi yang duduk sendirian di dekat jendela entah sedang mendengarkan lagu apa. Nara mengabaikan ekspresi tak percaya Tobi saat dirinya menaruh ranselnya di bak atas. Nara duduk di depan Tobi begitu tasnya sudah diyakini nyaman di atas. Nara tersenyum, sepertinya Tobi masih belum sadar sepenuhnya kalau gadis di depannya adalah Nara. Sahabat terbaiknya. 

Kamis, 21 April 2016

Tour of #HAPPINESS_PROJECT : Menurutmu bahagia itu apa? #1



Happiness, everybody can define based on what they feel and know,..maybe it would be different, but it doesn't matter,..

Setiap orang bisa mendefinisikan apa itu bahagia, Bahagia bisa didefinisikan berdasarkan kondisi yang sedang mereka alami. Biasanya, bahagia mereka artikan sebagai kebalikan apa yang mereka rasakan saat itu, atau harapan yang mereka ingin wujudku, tapi bisa jadi bahagia adalah rasa syukur dengan apa yang sedang dialami atau miliki.

the first one i wanna to ask is,...me.
a simple happiness depend on me is,....

Bahagia itu, ketika kita merasa tenang dan cukup.

ya, bagiku, memiliki banyak hal tidak menjamin seseorang akan merasa bahagia. aku pernah berada di situasi, aku memiliki semuanya, aku memiliki hidupnya yang sempurna, orang tua yang baik, harta yang berkecukupan, teman-teman yang menyenangkan dan pacar yang setia. what else? seharusnya aku bahagia bukan? faktanya, aku tidak merasa bahagia, anggap saja aku kurang bersyukur, aku berusaha menerima dan bersyukur tapi ada rasa gelisah yang menghantui setiap hari. aku merasa tidak tenang,..

aku juga mengenal seseorang yang menurutku sudah memiliki segalanya, harta yang berlebihan dan keluarga yang sempurna, tapi dia selalu saja merasa kurang, mencari dan terus mencari , tidak bisa menikmati hidup karena dia terlalu takut apa yang dia miliki bisa berkurang.

bahagia itu sederhana, kalau kita bisa menikmati kesederhanaan, merasa cukup dan merasa tenang.

Bagiku, cukup dengan kamu disisiku, bersama buku dan kopi, bicara banyak hal tentang perjalanan di tepi pantai dan senja,..sudah membuatku bahagia. jangan lupa mencariku kalau sudah pulang nanti, nata...


Senin, 18 April 2016

Surat untuk Nata : What if...



Hi Nata,...
apa kabar?
masih sering merindukanku? atau masih bersenang-senang dengan dia...?

Kamu tahu Nata apa yang kamu cari dalam hidup?
kamu pernah menjawab, kebahagiaan dan ketenangan jiwa- lah yang kamu cari.
dan bagaimana jika, kebahagiaan dan ketenangan jiwa-ku adalah kamu?
haruskah aku pergi mencarimu?

Nata,..aku tahu,..
duniaku dan duniamu sesuatu perbedaan yang berjalan beriringan, memahamimu sama sulitnya seperti bangsamu memahami bangsaku, perempuan, tapi aku masih sering penasaran, apakah kamu pernah memikirkanku seperti aku yang selalu memikirkanmu? seperti yang dilakukan betina ketika sedang jatuh cinta,..

Nata, bagaimana jika,..
kamu satu-satunya tempat yang ingin aku singgahi seumur hidup? satu-satunya tempat yang hanya bisa aku lihat dari jauh tanpa ingin beranjak dan mencari tempat lain, haruskah aku menunggumu datang menjemputku dan memasuki duniamu bersama-sama?

Nata, bagaimana jika,..
kamu satu-satunya yang ingin aku sentuh, mengingat, betapa aku merasa tabu pada makhluk sebangsamu.

Nata, Bagaimana Jika..
kamu satu-satunya yang aku inginkan untuk menemaniku menyeduh teh di pagi hari setelah hari yang panjang dan malam yang menenangkan, duduk bersama pada kursi kayu, dengan teh beraroma kayu manis, bicara tentang hal-hal yang bisa membuat kita tertawa.

Nata, Bagaimana Jika,.
kamu sosok yang aku inginkan untuk mendekap tubuhku yang mengigil ketika hujan datang, merasakan hangatnya dekapmu, dan mendengar detak jantungmu sambil terlelap.

Nata, bagaimana Jika,..
kamu satu-satunya yang aku inginkan untuk mendengar ceritaku tentang anak-anak, dua anak kecil laki-laki yang akan memanggilmu ayah. atau satu anak perempuan? akan aku ceritakan padanya, tentang dirimu yang membuatku jatuh cinta hingga menggebu-gebu.

Nata, bagaimana jika,..
kamu satu-satunya yang aku inginkan mengenggam tanganku ketika aku gelisah, ketika kita berjalan di keramaian, ketika kita berjalan dikegelapan. ya, aku ingin bersamamu bahkan disaat tergelap, menemanimu tanpa lelah , mengusap keringatmu, mendengarkan desahanmu, menjadi tempat bersandarmu ketika kamu lelah.


Namun, Bagaimana Jika,..
aku bukan yang kamu inginkan?

Nata,..
bagaimana jika...

Minggu, 10 April 2016

SEPOTONG MARSHMALLOW : PART II

Dania meremas lipitan rok seragamnya. Tatapan matanya tidak bisa berpaling begitu saja, jantungnya berdegub lebih keras dan lututnya tiba-tiba terasa ngilu. Meski begitu, dia tidak bisa pergi begitu saja, ada rasa yang menyuruhnya untuk tetap tinggal dan menunggu Damar menyadari kehadirannya. 
“ oh, Jum?”. Damar melambai pada Dania begitu menyadari kehadiran Dania. Dania tidak kunjung merespon, dia mengerjap-ngerjapkan matanya, berharap hal ini tidak terjadi untuk kesekian kalinya.
“ hai…”. Sahut Dania datar. Biasanya dia akan mencak-mencak marah, setiap Damar memanggilnya Jum dari Juminten, kali ini dia tidak bisa berkata apapun.
“ mau pulang? Aku masih sibuk  nih, mau nunggu apa pulang duluan?”. Tanya Damar dari tempat duduknya. Dania menggeleng. Dia tidak mau membiarkan Damar berduaan dengan gadis itu terlalu lama, apalagi sampai mereka pulang bareng.
“ aku tungguin,..”. Dania duduk di bangku kosong dekat Damar.
“ ya udah”. Kata Damar lalu kembali sibuk dengan anak perempuan itu. Dania belum pernah melihat gadis bermata sipit dengan pipi chubby dan berambut lurus panjang ini sebelumnya. Apa dia anak baru?
“ kamu dijemput?”. Tanya Damar lembut pada anak itu, Dania hanya bisa mendengus di balik punggung Damar. Bahkan Damar tidak repot-repot menjelaskan siapa anak perempuan itu. Mau protespun dia tidak punya kuasa melakukannya. Aaah…
“ Nggak tahu, ayah nggak bales sms-ku, dia pasti lupa lagi deh”. Gerutunya, “ tapi nggak apa-apa kok kalau kalian mau pulang duluan”. Dengan manis, gadis bernama Angela itu tersenyum pada Damar dan Dania. Dania melirik pada Damar, ingin tahu reaksi Damar. Expressinya perpaduan antara cemas dan sok baik.
“ nggak apa-apa kok ngel,..kasian lo sendirian di sini, kita bisa nemenin”. Kata Damar, Dania masih lega karena Damar menyebut ‘kita’. “ anyway, lo laper nggak? Biasanya nih anak bawa makanan...Marshmallow”. Damar melirik Dania yang langsung membalas dengan  tatapan tidak terima, karena Marshmallow-nya tidak ingin dia bagi ke orang lain. “ kalau sekolah tidak membawa Marshmallow, dia bisa berubah jadi Hulk”. Mata Dania menyipit pada Damar yang mengejeknya barusan.
“ udah habis”. Dusta Dania dingin.
“ nggak kok, nggak apa-apa”. Angela terkikik kecil, melihat Ekspresi Dania yang tidak rela menyerahkan Marshmallow-nya. Angela menutup buku di depannya, lalu memasukannnya ke dalam tas. Dania tersenyum lega, akhirnya hari ini berakhir juga. “ aku pulang duluan kalau gitu”.
“ udah dijemput?”. Tanya Damar. Angela menggeleng.
“ bisa naik angkot”. Sahutnya santai.
“ gue anter aja, sebelum hujan..”. Damar memandang langit dari Jendela perpustakaan yang gelap. Dania menatap Angela dan Damar bergantian dalam hening. “ udah nggak usah sungkan, Dania bisa nunggu sebentar”. Damar menoleh Dania, “ iya kan jum?”. Tanyanya pada Dania, Dania langsung memasang wajah angker.
“ Jum???” 
“ yuk..”. Damar menarik lengan Angela, Angela masih menatap Dania ragu  . sadar akan tatapan tidak enak pada dirinya, Dania memaksakan diri untuk tersenyum.
“ nggak apa-apa kok ngel, biar Damar anterin, nggak lama kan?”.
“ ya udah deh, baik-baik di sini ya Dan”. Kata Angela, Dania mengangguk. Damar menarik lengan Angela keluar perpustakaan, mengabaikan Dania yang masih berharap Angela pulang sendiri bersama bapaknya.
“ dia udah biasa sendirian, dia cewek strong, kadang dia itu…”. Suara Damar menghilang di pintu keluar. Dania hanya menatap pintu keluar kosong. Ada yang sakit, tapi tidak berdarah. Dania ingin menangis, namun air matanya tidak bisa keluar. Rasanya perih, meski ini bukan yang pertama kali, rasa sakitnya naik satu level setiap patah hatinya terulang.
1 jam, 2 jam,3 jam,…Damar tidak kembali, sekolah sudah benar-benar kosong, namun Damar tidak kembali. Dania menangis sejadi-jadinya, bukan karena takut sendirian atau pulang kebasahan karena hujan deras, namun untuk kesekian kalinya Dania dilupakan oleh Damar.
Dania membuka pintu minimart, pikirannya sudah mulai kosong karena terlalu lelah untuk berfikir atau memikirkan apakah Damar melupakannya atau dia terjebak hujan dan tidak bisa menjemput Dania. Tapi , sebelumnya meskipun hujan Damar tidak pernah tidak menjemputnya. Kecuali,..ketika dia sedang bersama anak perempuan. Dania tersenyum miris, herannya, dia masih mengharapkan cowok itu.
“ Dania!”.
Air mata Dania nyaris tumpah lagi, ketika dia merasa mendengar suara Damar. Benarkan dia mulai Gila! Dania benar-benar butuh Marshmallow sebelum dia berteriak-teriak di tengah hujan sambil meneriakan nama Damar. Buru-buru Dania memasuki Minimart dan mendapatkan sebungkus Marshmallow-nya.
“ Tunggu!”. Sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Dania buru-buru mengecek apa yang dia sentuh barusan. “ bener kan dugaanku kamu disini”. Dania bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia sudah gila? Dia bahkan melihat Damar di minimart ini, dengan hoodie yang sudah basah kuyup, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Damar untuknya. Hujan-hujanan. Air mata Dania sukses tumpah, dia benar-benar sudah gila.
“ kok nangis sih Jum?!”. Tubuh Dania ditarik keluar Minimart. Namun tangis Dania tidak kunjung berhenti. Dania tidak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang membanjiri wajahnya. “ dasar cengeng…”. Ejek Damar. Damar menangkupkan kedua tangannya di pipi Dania, membuat gadis itu tidak punya pilihan selain menatap cowok di depannya. Dania meraba pipinya, ada tangan dingin disana. Dania sadar, dia belum segila yang dia kira. Ini sungguhan tangan…Damar.
“ ngap..ngap..pain..kamu di sini?”. Tanya Dania sambil sesenggukan.
“ badan kamu panas, kamu sakit?”. Damar menyentuh kening Dania yang basah karena hujan. Damar mengajak Dania minggir dan mengambil payung yang tadi ditinggalkan Dania di depan Minimart.
“ Damar..kamu ngapain di sini?”. Ulang Dania penasaran.
“ kamu ngapain nangis di sini? Habis berantem? Berantem sama siapa? Sini kasih tahu orangnya “. Damar menggulung lengan bajunya. Dania tertawa kecil, Damar memang paling bisa membuatnya tertawa di saat apapun. Hal-hal kecil yang membuat Dania lupa kenapa dia menangis lima menit yang lalu.
“ kamu..”. jawab Dania pelan. Lalu tertawa kecil.
“ masa aku berantem sama diri sendiri sih jum…”. Damar pura-pura merajuk. Mata Dania mulai berkaca-kaca, “oke..oke..iya maaf”. Kata Damar akhirnya, mengakui kesalahannya. “ tadi aku nyari sesuatu makanya balik ke sekolahnya terlambat..”.
“ nyari apa?”.
Damar merogoh sesuatu dari tas-nya, sebuah toples. Kembali Dania berkaca-kaca. “ Angela itu anak Om Samuel, kakaknya ibu. Dia baru aja masuk ke sekolah kita, jadi aku harus bantuin dia, aku nggak mau dia ngadu yang macem-macem tentang aku di sekolah, makanya aku sok-sokan bantuin dia mencari bahan belajar di perpustakaan”. Jelas Damar sambil mengulurkan toples di tangannya. “ kamu bilang Marshmallow-mu habis kan?”.
Dania kembali menangis, kali ini tangis berbeda, bukan tangis sesak melainkan tangis terlalu bahagia. “ kok nangis lagi sih Jum?”. Damar mengacak-acak rambut Dania.
“ Maafin aku Damar…”. Kata Dania sambil menangis histeris.
“ Maafin aku juga,..udah buat kamu nunggu lama”. Kali ini Damar membelai kepala Dania lembut. “ Jadi kamu cemburu?”.
“ cemburu apa?”.
“ cemburu sama Angela,..”.
“ Nggaak”.
“ bohong”
“ nggak “
“ iya deh nggak,..ayo pulang nanti kamu sakit”. Damar merangkul Dania di bawah payung pelangi, Dania memeluk setoples Marshmallow termanis sedunia. Jatuh cinta itu ketika kamu tertawa sedetik setelah menangis karena orang yang sama. Sama seperti mengunyah Marshmallow, manis dan asamnya lumer di mulut bersama-sama. Selamanya Dania akan jatuh cinta pada asam manisnya Marshmallow dan juga pada Damar pemanis dan pemberi asam dalam hidupnya.
“ tumben ujan-ujanan? Cuma nganter ini doang buat aku? Kamu manis banget sih”.
“ banget lah…”.


Jumat, 08 April 2016

SETOPLES MARSHMALLOW : #PART 1

            



            Dania mengunyah Marshmallow terakhir di dalam toples, stock terakhir yang dia punya malam ini. Dia mengangkat toples bening berukuran 1 kg itu tinggi-tinggi, berharap akan ada Marshmallow yang tersisa. Dania mendesah, dia kehabisan Marshmallow untuk kesekian kalinya, ketika kondisi hatinya sedang hancur-hancurnya.
            Dania menghela nafas, mengusap air mata yang mengering , menyisakan sisa sembab di kelopak mata dan juga ingus. Dania meraih kotak tissue yang juga sisa selembar. Dia mengerang sebal. Lagu – lagu pilu terdengar nyaring dari Radio, seolah menertawakan Dania yang sedang patah hati untuk yang kesekian kalinya. Kesal, Dania melempar Radio dengan kotak tissue sampai terguling dan terjatuh dari meja, namun lagu ‘Ekspetasi’ dari Kunto Aji tidak kunjung berhenti, masih tetap terdengar meski samar-samar.
            Dania bangkit dari ranjangnya, menarik hoodie dari bahu kursi belajar , lalu keluar. Dia harus membeli sebungkus Marshmallow , sebelum gila.
            Ini bukan patah hati yang pertama, ini adalah patah hati yang kesekian kalinya. Dania bahkan tidak bisa menghitungnya. Hanya, setiap kali patah hati, Marshmallow adalah moodboster terbaik yang bisa menyelamatkan mentalnya dan meredam luka di hatinya. Dania menggambil payung, memakai sandal Swallow lecek kesayangannya dan hendak berjalan keluar rumah.
“ kemana sayang?”. Teriak Bunda dari dapur, begitu melihat kilatan Dania menuju pintu depan.
Minimart”. Sahut Dania seadanya ,lalu menutup pintu. Dania seperti bukan Dania. Dania berubah menjadi pendiam dan dingin, tidak ada kata apalagi senyuman, Mood-nya benar-benar buruk.
Dania menatap langit yang mengguyur begitu derasnya, air di teras rumahnya sudah mengembung sampai di atas mata kaki, namun Dania masih melanjutkan tekadnya untuk membeli sebungkus Marshmallow ke Minimart yang berjarak satu kilo dari rumahnya. Dalam keadaan normal, Dania tidak akan hujan-hujanan demi sebungkus Marshmallow apalagi ditambah banjir, hanya masa-masa tertentu yang mendorongnya, dan kali Ini semua gara-gara Damar, sahabatnya yang dia cintai diam-diam.
“ Damar mana?”. Tanya Dania pada Joko saat pulang sekolah, teman sekelas Damar. Preman nyentrik, salah satu anak buah Damar.
“ DI PERPUSTAKAAN COYYYY”. Sahutnya lantang, padahal jaraknya hanya 2 meter dari Dania. Dania mendengus sebal , telinganya berdenging karena suara Joko yang tidak merdu, terdengar sangat keras.
“ biasa aja kali ngomongnya”. Sungut Dania sambil berjalan menjauh. Tumben Damar ke perpustakaan. Pegang buku saja dia bisa alergi, apalagi memasuki ruangan penuh buku seperti perpustakaan, bisa pingsan kali. Tidak mau berfikir panjang, Dania langsung berlari kearah perpustakaan, langit mendung pekat, dia tidak mau pulang hujan-hujanan.
            “Dam…”. Mulut Dania langsung terkatup begitu melihat Damar,..dan seorang anak perempuan. Dia terlihat sedang menemani anak perempuan itu mencatat entah dari buku apa. Mereka sepertinya sedang sibuk, belum pernah Dania melihat cowok ber-anting satu itu, seserius ini. 
(bersambung)