Sunday, November 19, 2017

BELAJAR MENULIS : KATA LAIN DARI 'BERKATA' DALAM DIALOG

Kata-kata dialog: Kata lain untuk 'Berkata”

Menulis dialog yang efektif dan menarik memiliki banyak elemen. Bukan hanya karakter yang diucapkan tapi bagaimana mereka mengatakan itu yang terenting. Atau bagaimana kamu menunjukkan siapa yang sedang berbicara, “Katanya” atau “ Dia berkata” akan menjadi membosankan jika terlalu sering digunakan. Baca kata lain untuk kata serta tip untuk menjaga dialogmu alami dan mengasyikkan:
Pertama, apa itu 'tag dialog'?
Tag (seperti tag nama) mengidentifikasi. Sebuah tag dialog adalah kelompok kata-kata berikut kutipan yang dikutip (misalnya 'dia berkata'), mengidentifikasi siapa yang berbicara dan / atau bagaimana mereka berbicara. Kata lain untuk 'berkata' adalah sebagai berikut :
  1. ·         Volume (misalnya berteriak, menjerit, mendesis.berbisik)
  2. ·         Nada atau nada (misalnya, menjerit, mengerang, mencicit)
  3. ·         Emosi (misalnya, menggerutu, membentak, mengejek, memohon)

Hubungan antara elemen suara ini juga penting. Aneh rasanya, misalnya, untuk karakter ' ang sedang ‘mencibir' mengucapkan kata-kata 'aku cinta kamu', karena kata 'mengejek' berkonotasi penghinaan yang bertentangan dengan cinta.
Mengingat ada banyak kata kerja yang bisa menggantikan kata 'berkata', apakah kamu bisa menemukan yang lebih kuat, lebih emotif dan menggunakannya?
Tidak selalu. Berikut adalah beberapa tip untuk menggunakan tag dialog seperti kata dan penggantinya dengan baik:

1. Gunakan semua tag dialog secukupnya
Masalah dengan tag dialog adalah menarik perhatian penulis. Semakin kita membaca 'katanya' dan 'dia berkata', semakin kita sadar akan penulis yang menciptakan dialog. Kami melihat penulis menghubungkan siapa yang mengatakan apa –
Bandingkan dua versi percakapan yang sama ini:
#1 "Sudah saya katakan," kataku sambil melotot.
     "Yah, saya tidak mendengarkan, bukan!" Katanya.
      "Ternyata tidak," jawabnya.
#2 Sekarang bandingkan ini dengan yang berikut ini:
    Aku melotot padanya. "Sudah saya katakan sudah."
  "Yah, saya tidak mendengarkan, bukan!"
  "Sepertinya tidak."

Bagi beberapa orang, ini soal preferensi gaya. Meski begitu, sulit untuk membantah bahwa versi pertama lebih baik dari yang kedua. Pada tahap kedua, membuat sebuah aksi yang mencolok daripada menambatkannya ke dialog memberi kita perasaan karakter yang lebih kuat sebagai akting, makhluk yang sepenuhnya terkandung.
Demikian pula, dalam jawaban pembicara pertama, kita tidak memerlukan tag yang memberi tahu kita nada suaranya (bahwa itu singkat, sarkastik, atau bermusuhan). Singkatnya, fakta itu hanya dua kata, menyampaikan nadanya dan kita bisa menyimpulkan karakternya masih gila.
Menggunakan tag dengan hemat memungkinkan pembaca Anda untuk menarik kesimpulan dan imajinasi. Pembaca bisa mengisi ruang kosong, diminta lebih halus dengan petunjuk yang Anda tinggalkan (tanda seru atau rujukan, runcing yang runcing).

2. Gunakan 'kata' hemat, kata lain untuk dikatakan lebih dari itu
Kata 'berkata', seperti 'bertanya', tidak memberi warna dan kepribadian pada ucapan karakter. Dalam percakapan antar karakter, alternatif untuk kata bisa memberi tahu pembaca:
Keadaan emosional atau mental masing-masing dari orang-orang fasih
Seperti apa hubungan antara karakter (misalnya, jika satu karakter selalu terkunci di sisi lain, ini akan menunjukkan bahwa karakter tersebut mendominasi dan mungkin tidak baik terhadap yang lain)
- Berikut adalah kata-kata dialog yang bisa Anda gunakan, bukan 'berkata', dikategorikan menurut jenis emosi atau skenario yang mereka sampaikan:
Marah              :Teriak, teriakan, teriak, bentak, diperingatkan, ditegur.
Kasih sayang   : Dihibur, dihibur, diyakinkan, dikagumi, ditenangkan.
Kegembiraan   :Teriak, teriak, mengoceh, menyembur, berseru.
Takut               : Berbisik, terbata-bata, tergagap, tersentak, terdorong, mendesis, mengoceh, berkata tanpa cela.
Penentuan       :Disinggung, dipaksakan, dipelihara, diperintahkan.
Kebahagiaan   : bergumam, tersipu, tertawa.
Kesedihan       : Menangis, bergumam, terisak, mendesah, meratap.
Konflik       mencemooh, menegur, mendesis, memarahi, menuntut, mengancam, menyindir, meludah, melotot.
Mengarang      : Diakui baik, mengalah, setuju, meyakinkan, menenangkan, menyetujui, menyetujui.
Hiburan           :Tergoda, bercanda, tertawa, terkekeh, terguncang, terkikik, pulas, terbahak-bahak, terkikik, meraung.

Meskipun ada banyak kata lain untuk dikatakan, ingatlah:

Terlalu banyak yang bisa membuat dialog Anda mulai terasa seperti ringkasan kata kerja pidato emotif. Gunakan tag dialog warna-warni untuk penekanan. Mereka adalah garam dan rempah-rempah dalam dialog, bukan seluruh makanan. Gunakan tag dialog emotif untuk penekanan. Misalnya jika semuanya sudah tenang dan karakter tiba-tiba menjadi ketakutan. 


resource : https://www.nownovel.com

Thursday, November 16, 2017

#1 BELAJAR MENULIS : CARA MENDESKRIPSIKAN TEMPAT DAN KARAKTER PADA NOVEL




Belajar bagaimana mendeskripsikan tempat dan orang secara jelas adalah keterampilan vital bagi semua penulis fiksi. Kata deskriptif yang efektif menunjukkan mood dan karakter disamping penampilan. Deskripsi terbaik menarik kita dan membuat kita tetap penuh perhatian, menempatkan kita dalam sebuah adegan. Berikut adalah 5 tip untuk menulis tempat dan karakter yang mudah diingat:

1. Gunakan kata sifat bagus (bukan hanya 'bagus')

Kata 'bagus' itu sendiri adalah contoh bagus dari kata sifat yang bagus. Ini tidak mencolok, kebalikan dari deskriptif. Jika seorang teman pergi berlibur dan menggambarkan Colosseum sebagai 'Indah', Anda tidak akan lebih bijak bagaimana rasanya berdiri di arena kuno dan luar biasa. Demikian pula, jika seseorang menggambarkan teman baru mereka kepada Anda sebagai 'Indah', Anda tidak akan tahu banyak tentang kepribadian atau penampilan mereka.

Kata sifat bagus melakukan pekerjaan ekstra. Jika si pengelana mengatakan 'sangat menakjubkan, sangat menjulang', Anda akan merasakan perasaan Colosseum yang ditimbulkan dan rasa skalanya.

Saat Anda menggambarkan suatu tempat atau seseorang, pikirkan tentang kekhasan kata-kata yang Anda pilih. Anda mungkin berkata, 'Pria itu pendek' namun pembaca mungkin bertanya pada diri sendiri 'seberapa pendek?' maka penulis harus bisa menggambarkan dengan gambar wujud pendek seperti apa.

2. Gunakan kata-kata yang menggambarkan lebih dari sekedar tampilan

Penulis yang memiliki khayalan tinggi, ketika mengenalkan karakter sering mendeskripsikan orang dengan warna mata mereka sendiri. Hal ini tidak efektif sebagai deskripsi untuk dua alasan : Warna mata tidak memberikan kita informasi tentang personal karakter (meskipun mata merah mungkin menunjukan seorang karakter yang telah menangis) , alasan kedua mengapa warna mata itu sendiri tidak efektif adalah bahwa bagian fisik kurang menunjukan keragaman.Penulis yang memiliki khayalan tinggi, ketika mengenalkan karakter sering mendeskripsikan orang dengan warna mata mereka sendiri. Hal ini tidak efektif sebagai deskripsi untuk dua alasan : Warna mata tidak memberikan kita informasi tentang personal karakter (meskipun mata merah mungkin menunjukan seorang karakter yang telah menangis) , alasan kedua mengapa warna mata itu sendiri tidak efektif adalah bahwa bagian fisik kurang menunjukan keragaman.
Entah Anda sedang mendeskripsikan bangunan tua yang bobrok atau karakter lincah dan sigap, gunakan bahasa deskriptif yang menyampaikan sifat atau karakter beserta penampilannya. Di sini, misalnya, Donna Tartt menggambarkan dosen Yunani Julian di Hampden College di The Secret History:

"Matanya bagus, jujur, lebih abu-abu dari pada warna biru."

Meski Tartt termasuk warna, penekanannya adalah pada apa yang mata Julian katakan tentang kepribadiannya, tidak hanya penampilannya.

Demikian pula, Tartt menyampaikan banyak karakter dalam menulis tentang tempat. Inilah deskripsi rumahnya yang mewah dan luas:

Sambil berjalan ke perpustakaan, aku menarik napas dengan tajam dan berhenti: rak buku berlapis kaca dan panel gothic, terbentang lima belas kaki ke langit-langit yang berwarna hijau dan plester. Di bagian belakang ruangan ada perapian marmer, besar seperti kuburan, dan gasolier bertulang - yang meneteskan prisma dan senar manik-manik kristal - berkilau dalam suasana redup. (P.89)

Deskripsi Tartt menyampaikan karakter rumah secara akut, kontras dengan kehangatan luas dan suasana tak berpenghuni dengan kemegahannya (alat kelengkapan ringan yang menetes dengan prisma ').


3. Berlatih bagaimana menyaring tempat dan deskripsi karakter melalui sudut pandang karakter
Salah satu fungsi penting deskripsi dalam narasi adalah memberi informasi tentang karakter sudut pandang yang sedang dideskripsikan. Karakter yang menakutkan memasuki pesta rumah yang ramai mungkin menggambarkan kebisingan dan tindakan yang dianggap kewalahan. Seorang ekstrovert, di sisi lain, mungkin menggambarkan adegan yang persis sama dengan yang menarik dan memberi energi.
Perbedaan ini menjadi penting dalam novel multi-perspektif dimana ada beberapa sudut pandang karakter. Menampilkan adegan yang sama dari sudut pandang karakter yang berbeda berarti membuat pilihan deskriptif yang berbeda.
Sebagai latihan tulis adegan 500 kata, misalnya demonstrasi mahasiswa di kampus. Jelaskan pemandangan dari sudut pandang salah satu pemrotes yang aktif, lalu gambarkan pemandangan yang sama dari sudut pandang akademis yang letih dari pinggir lapangan yang skeptis. Pikirkan bagaimana masing-masing menggambarkan sekeliling dan pengamat atau peserta mereka.

4. Bangun deskripsi sepanjang ceritamu
 Untuk memberi kemampuan menulis deskriptif Anda, bangunlah deskripsi Anda. Jika sebuah rumah terlihat terbengkalai dan terbengkalai dari luar, gambarkan tanda-tanda lebih lanjut dari pengabaian ini pada interior.
Demikian pula, jika Anda menggambarkan detail yang mencolok tentang karakter pada pengenalan pertama, bawa detailnya kembali bila relevan. Dalam The Secret History, Tartt pertama kali menggambarkan karakter sombong Bunny demikian:

"Dia mengenakan jaket yang sama setiap hari, wol cokelat tak berbentuk yang dilipat pada siku dan pendek di lengan baju, dan rambutnya yang berpasir terbelah di sebelah kiri, sehingga cakar yang panjang jatuh di atas satu mata yang berkacamata. Bunny Corcoran adalah namanya, Bunny entah bagaimana mendekati Edmund. Suaranya nyaring dan membunyikan klakson, dan dibawa ke ruang makan. "(Halaman 18)

Seperti suara 'klakson', cara Bunny mengumumkan kedatangannya digambarkan kurang ajar dan invasif. Dengan membangun deskripsi karakter dari waktu ke waktu, Tartt menunjukkan karakter Bunny yang invasif dan tidak reflektif. Bangunan deskriptif ini memperdalam kesadaran karakter kita. Pembaca hampir bisa memprediksi bagaimana Bunny akan berperilaku dalam situasi tertentu.

5. Bangun kosakata kata-kata yang kaya untuk menggambarkan orang dan tempat

Secara aktif memperluas kumpulan kata-kata deskriptif dan sinonim yang Anda miliki di toolkit Anda.
Misalnya, karakter bisa dibagi menjadi empat tipe yang disederhanakan. Sanguine (ceria), melankolis (sedih), apatis (santai) dan kolerik (cepat marah). Berikut adalah kata sifat untuk menggambarkan setiap jenis, dengan asal dalam tanda kurung:
Semakin anda bisa memahami setiap karakter, maka anda akan bisa membuat cerita dengan penokohan yang variatif. 

Karena sejatinya jiwa dari sebuah novel adalah penokohan dan latar sebuah cerita. 


https://www.nownovel.com/blog/how-to-describe-place-character/

Wednesday, November 15, 2017

SURAT UNTUK NATA : He is come


Hai Nata, Apa kabar?
Masih sering menunggu hujan datang? 
sudah lama aku tidak berkirim surat padamu, mungkin sudah ratusan hujan jatuh di atap rumahku, dan mereka tak lagi menyakitkanku.
Jika kamu bertanya bagaimana kabarku, aku baik. Bagaimana hujan tak lagi terdengar menyakitkan, cukup menunjukan kalau aku sangat Baik. 
Jika kamu bertanya dimana aku sekarang, aku masih di tempat yang sama. Belum kemana-mana.

Tapi. 
Perasaanku yang sudah tak lagi sama.

Aku tidak lagi memikirkanmu, aku tidak lagi merindukanmu, tidak lagi menunggumu bertanya aku sedang dimana. Tidak lagi berharap kamu datang, dan menggenggam tanganku lalu kamu bawa pergi.

Ada seorang lelaki yang mendatangiku, dia seorang Alien dari planet Mars. Aku rasa dia datang dengan membawa Misi khusus dari Planetnya. Semacam mencari tahu bagaimana kehidupan makhluk bernama Manusia di Planet yang berbeda dengannya. Dia datang di kala hujan sedang deras-derasnya, lalu mendarat di Bumi dengan mata kesepian dan bibir tersenyum. Mungkin dia canggung, karena ini misi pertamanya mendarat di luar angkasa. Bisakah kau merahasiakannya Nata? aku tidak mau NASA tahu lalu membawanya pergi. Karena dia membawa begitu banyak energi yang bisa meledakkan Bumi. Cukup kamu saja yang tidak kembali, dia jangan.

Tentu saja, aku bercanda.

Aku menyebutnya begitu karena dia benar-benar seperti Alien yang datang ke Bumi tanpa Ufo-nya , dia mengulurkan tangan dan ingin sekali membawaku ke Planet entah berantah yang hanya ada aku dan dia di dalamnya, tanpa pernah dia memberi signal sebelumnya kalau dia akan datang padaku. Aku berfikir, mungkin dia punya teleskop yang memiliki magnifikasi 700x untuk mengintaiku di Bumi. Karena aku adalah makhluk yang cukup proposional untuk dijadikan bahan penelitian di Planetnya. 

Ya, itu hanya imajinasiku. 

Tapi bagaimana bisa ada seorang yang ingin mengajakku pergi, tapi mengenalku saja belum? Dia mengulurkan tangannya di tempatku menunggumu, menawarkan dirinya menjadi tempat bersandarku, menginginkanku menjadi teman hidupnya, tanpa sebelumnya mempersilahkan diriku mengenalnya. Bahkan dia bilang, dia sudah cukup mengenalku sejak lama dan cukup tahu tentangku yang membuatku semakin mengamini imajinasiku sebelumnya bahwa dia adalah Alien dengan Teleskop bermagnifikasi 700x. 

Nata, mungkinkah kamu percaya jika ada orang yang benar-benar bisa memahamiku tanpa mengenalku sebelumnya?
Mungkinkah kamu percaya ada seseorang yang bisa mencintaiku tanpa alasan yang menguntungkan untuknya?
Mungkinkah ada seseorang yang dengan yakinnya menyebutku orang baik padahal dia belum pernah ngopi bersamaku lama-lama?

Tidak mungkinkan?

Dia pasti sedang mabuk jamur. Itu yang aku pikirkan. 

Namun kenyataannya,

Dia bisa meyakinkanku, dia begitu teguh dengan keyakinan yang entah dia dapat dari mana. Dia datang tanpa keraguan ke tempatku berdiri, lalu menawarkan diri untuk berjalan bersamaku menuju kepastian. Matanya yang teduh dan tangan hangatnya membuat keraguanku dan segala macam pertanyaan dalam benakku runtuh. Apa aku sedang dihipnotis?

Aneh, ketika aku yang tidak mudah percaya pada orang lain, bisa percaya dengan semua yang dia katakan. Setiap kata-katanya semacam sihir, dia mampu menerobos dinding yang susah payah aku bangun agar aku bisa berhati-hati padanya. Setelah cukup lama aku tersadar, dia tidak sedang bicara dengan otaknya tapi hatinya. Tidak butuh ratusan hari, dia masuk dalam otak juga kotakku.

Mungkin kamu berfikir aku gila, tapi aku benar-benar tidak sabar untuk menunggu, bagaimana kisahku akan berjalan setelah ini. Mungkin aku naif, tapi aku sungguh-sungguh penasaran bagaimana tangan Tuhan bekerja untukku. Mencari tahu alasan mengapa Tuhan menghadirkan dia dalam hidupku dengan penuh rahasia. 


Nata, jangan cemburu. Aku tak akan lagi menulis kisah tentangmu, tapi aku akan menulis surat padamu, menceritakan satu persatu padamu bagaimana petualangan hidupku dimulai. Bersama Alien. Maksudku Feby Olgarian.

Monday, October 23, 2017

DECEMBER WISH : Raka Datang


           

Kara sedang duduk memeluk lutut di depan kue Tart ber-angka dua puluh lima. Dia menatap lilin itu sejak tiga jam lalu. Dia sengaja membeli kue beserta lilinnya untuk merayakan hari ulang tahunnya sendirian. Ini adalah Desember yang ke Tujuh tanpa Raka.
            Raka pernah berjanji akan kembali di bulan Desember. Sudah tujuh tahun Kara menunggu,. 
Haruskah dia menunggu lebih lama? Tidak, Kara tidak mau menunggu lagi. Dia harus segera move on dari janji Raka, seharusnya dia mengabaikan saja janji Raka itu. Karena nyatanya, dia tidak pernah kembali bahkan dia tidak pernah muncul, meskipun hanya sekedar bertanya kabar di facebook. Raka benar-benar menghilang. Menghilang dari hidup Kara.
            Kara sudah memutuskan untuk berhenti menunggu, dan berdoa semoga Raka baik – baik saja dimanapun dia berada. Lalu ditiup lilin berangka dua dan lima yang nyaris habis dan meleleh diatas kue tart berwarna putih dengan hiasan bunga lily diatasnya. 
             Kara menangis sekancang – kencangnya dalam gelap, sendirian. Sekuat tenaga menguasai diri, namun sia-sia. 

              “Kar” Raka mengalihkan pandangan Kara dari manik – manik yang sedang asik dia susun .
         “apa?” Kara berusaha memfokuskan diri antara manik – manik dan Raka. Dia sedang merangkai manik – manik menjadi gelang.
            “Apa kamu gak mau les tae kwon do atau silat gitu?” Tanya Raka, Kara pikir ini adalah cara Raka mengejeknya namun tidak ada raut jahil di wajahnya. Kara berusaha menjawab dengan raut wajah datar.
            “Nggak. Kenapa?”
           "habis ini kamu kuliah kan? Kamu harus bisa jaga diri Kar, jangan kenalan sama cowok asing sembarangan, cari temen cewek yang bisa dipercaya, nggak popular nggak apa-apa yang penting tulus, jangan ikut – ikutan pergaulan yang aneh-aneh selama kuliah, soalnya di kampus bakal ada kegiatan macem – macem, demo lah, konser lah,dan…”
            “Kan ada kamu Ka..kita bakal satu kampus kan?” Kara menyela, Kara merasa aneh dengan kecerewetan Raka. Mereka bersahabat sejak SMP,Raka memang cerewet sejak dulu, tapi tidak pernah se-cerewet ini seolah – olah dia akan per,,,
            “Tunggu. Kamu nggak akan kemana –mana kan Ka?” tembak Kara begitu menyadari makna dari kata – kata Raka. Kara menatap mata Raka yang spontan melebar, lurus-lurus. Seketika Raka gugup, bibirnya bergerak – gerak tidak jelas, bingung harus ngomong apa. Kara mengeraskan rahangnya begitu menyadari jawaban dari ekspresi itu. “Mau pergi kemana?” Tanya Kara berusaha untuk tetap biasa saja.
            “Manhattan” sahut Raka membuat Kara menelan ludah. Manhattan, bukan salah satu kota kecil di Indonesia, tapi Amerika. Kara tidak menimpali, dia menunggu Raka mengatakan kelanjutannya “Ayah dipindah tugaskan disana” Raka mengalihkan pandangan dari mata Kara yang sudah berkaca – kaca.
            Lutut Kara lemas. Tangannya yang tak lagi fokus, tertusuk jarum dari tangannya sendiri. Kara berjingkat kesakitan. “Awwh”
            “ceroboh banget sih” dengan panic Raka menarik tangan Kara dan menghisap darah dari jari Kara. Kara meraung kesakitan.
            “Sakiiit..” jeritnya membuat Raka semakin panik. Padahal hatinya jauh lebih sakit dari jarinya.
            “Iya..iya..maaf” kata Raka, “Aku janji, Desember aku balik dan nemuin kamu”
            “Desember kapan?”
            “pokoknya Desember”
            Tangis Kara mereda, dia kembali menatap Raka. Dia ingin bilang ‘jangan pergi Raka’, namun sebagai anak Diplomat yang memang sering pindah – pindah negara, Kara tidak bisa mencegahnya.
              Akhirnya semua lilin mati, mengahiri doa dan harapan Kara soal Raka akan datang. Kali ini doanya berbeda, dia tidak ingin mengharapkan Raka, dia meminta pada Tuhan agar diberikan hati yang sangat luas untuk menerima kenyataannya bahwa hidupnya kedepan tidak akan lagi ada Raka.

#
            “ Selamat Ulang Tahun Kara!” Suara Tami, sahabat Kara sejak kuliah. Kara menatap Tami sekilas. Dia teringat janjinya pada Raka yang masih disimpannya baik-baik. Dia tidak berkenalan dengan lelaki asing dan hanya berteman dengan perempuan yang tulus.
            “ Thank you Tam” Kara tersenyum, dia meletakan tas pada kursi. Banyak pesanan bunga hari ini. Kara membuka usaha Toko Bunga dengan Tami sebagai karyawannya. Melihat bunga bisa menenangkan hatinya terlebih ketika dia sangat merindukan Raka. Tidak. Kara sudah berjanji untuk menyerah.
            “Lihat tuh, di pojokan banyak bunga ucapan selamat ulang tahun”
            “iya”
            “Cuma iya doang?”
            “terus?” Kara mengambil beberapa bunga yang akan dia rangkai.
            “Ya tanggepin kek mereka, Apa doamu tahun ini? Masih mengharap Raka datang?” Tanya Tami skeptis,’Raka datang’ adalah doa yang sangat keras diucapkan oleh Kara dulu saat ulang tahun yang ke 19.
            “Kepo,” rutuk Kara. Dia berusaha keras untuk tidak salah gunting bunga mawar putih di tangannya. “Udahlah Tam, jangan ngobrol terus, pemesan hari ini harus dikirim lebih pagi soalnya jalanan macet ada pawai budaya”
            “Siap Bos!” sahut Tami yang langsung pindah posisi.

            Kara menghela nafas pendek. Benar, jauh dari lubuk hatinya dia masih berharap Raka kembali. Dia hanya ingin mengatakan kalau Kara sangat mencintainya dan merindukannya.
            Pandangan Kara teralih ke arah bucket bunga Lily di pojokan. Lily? Lily adalah bunga favorit Kara dan tidak ada yang tahu selain Raka. Segera Kara mendekatinya dan membaca kartu kecil di bawahnya ‘ Hi, My Kara’. Kara mendekap mulutnya dengan tangan kanan. Mungkinkah Raka datang?

Thursday, October 12, 2017

#4 BESTENEMY : Last or Forever




Sudah sepuluh hari, Pandu tidak masuk sekolah. Tidak ada temannya yang tahu mengapa dia tidak bersekolah. Rana ingin mengabaikan cowok itu, bodo amat dia sekolah atau tidak, namun sisi dirinya yang lain merindukan Pandu. Aneh.
“Kenapa sih Ran, kamu ngelamun terus? Ayah kamu sakit lagi? Kosan belum bayar? PR belum selesai?” cerocos Tama yang khawatir sahabatnya satu itu sering tiba-tiba tak bernyawa.
“Nggak.” Sahut Rana tak bertenaga. Seharusnya dia senang, tidak ada cowok iseng dan menyebalkan lagi di hidupnya, tapi mengapa malah sebaliknya? Hidupnya terasa sepi. Bukankah, Rana ingin membunuh Pandu kalau Tuhan mengijinkan pembunuhan? Tapi kenapa sekarang dia ingin Pandu di sini?
Setiap hari, lebih dari dua puluh kali Rana menoleh ke arah jendela di saat jam pelajaran. Dia berharap melihat Pandu sedang mengejeknya di sana atau menatap anak itu penuh kemarahan karena keisengan Pandu. Entahlah,..
#
“Hai Ran,” Sapa Tinus, teman sekelas Pandu. Rana menatapnya curiga, ngapain anak laki-laki itu menghampirinya di kantin? “Hai, Tam.” Rana langsung mengerti begitu melihat tatapan penuh cinta Tinus pada Tama.
“Jadi kalian pacaran?” Tanya Rana to the point begitu Tinus menempelkan pantat di bangku kantin. Karena kaget mendengar pertanyaan Rana, Tinus melepas pegangan mangkoknya tiba-tiba, dan terbanting di atas meja. Rana memperhatikan gerakan Tinus aneh.
“Ummmmm,” gumam mereka sama salah tingkahnya.
“Selamat.” Rana tersenyum. Tepatnya berusaha tersenyum. Setengah mati dia berusaha untuk tidak bertanya tentang Pandu pada Tinus. Meskipun pada kenyataannya, jemarinya tidak berhenti bergerak dan bibirnya buka tutup seperti ikan mujair.
“Pandu nggak ada kabar Ran?” Tanya Tinus. Kepala Rana memutar cepat kearah Tinus. apakah dia ketahuan sedang memikirkan Pandu? namun dirinya yang lain berharap, anak laki-laki ini memberinya kunci jawaban 'dimana Pandu'. Rana menggeleng. 
“Ngapain dia harus ngabarin aku?” Sungut Rana, emang dia siapanya Pandu?
“Kan kamu cewek kecengannya Pandu.” Tinus terkekeh.
“Sok Tahu,” Rana meneguk teh manis miliknya, “Anak laki-laki nggak akan bertindak kejam pada perempuan yang dianggap kecengannya.”
“Tapi beneran kok,” Tinus memperjelas. “Lagian, dia ngerjain kamu soalnya kan cuma pengen cari perhatian doang. Dia cuma ingin berinteraksi sama kamu Ran, ah kamu nggak peka.” Ejek Tinus.
“Dengan mengunci aku di kamar mandi dan gagal ikut Audisi? dengan memberi kue ulang tahun kadaluarsa? Dengan membuat aku pingsan gara-gara kodok?” Rana tersenyum sinis, “Gila aja ada cewek yang bakal mau kalau digituin, aku yakin sih kalau bukan aku, mungkin dia sudah dilaporin ke Polisi kali.” Rana memutar bola matanya.
“Hahahaha iya, Rana juga harus mendekam seharian di perpustakaan gara-gara bukunya diambil Pandu.” Tambah Tama.
Tinus menjentikan ujung telunjuknya ke dahi Tama. “Itu bukan Pandu kali, tapi Gaby”
Dahi Rana mengerut, “Maksudnya? Jelas-jelas aku lihat buku ku di tangan Pandu. Pasti dia sengaja ngambil biar aku dihukum kan?”
Tinus menggeleng datar, “Waktu kamu di marahin pak Nyoto, Pandu ngeliatin dari jauh, terus nyari siapa yang ngambil buku kamu, dia ke kelas kamu untuk ngubek-ngubek isi tas anak sekelas. Tama waktu itu kan nemenin kamu di Perpus, makanya dia nggak tahu,” Tinus melirik ke arah Tama. “Ternyata Gaby yang ambil, soalnya dia takut dihukum gara-gara lupa bawa buku. Jadi, karena Pandu takut kamu bertengkar dengan Gaby dia yang ambil alih kesalahan Gaby.”
“Huuh??” seketika, kepala Rana seperti berisi udara.
“Lagipula, saat kue ulang tahun itu, cuma Pandu aja yang nyuruh kita bilang itu Kadaluarsa, padahal dia beli khusus buat kamu Ran,” Imbuh Tinus yang membuat dada Rana terasa ngilu mendadak. Ternyata, Pandu nggak bohong malam itu.
“Yah, tahu gitu aku abisin waktu itu, enak sih” seloroh Tama.
“Terus, soal aku dikunci di kamar mandi itu?” Rana menatap Tinus dengan wajah menyelidik.
“Itu si Pandu ada di luar pas kamu teriak-teriak, dia cuma nggak mau kamu malu karena ikut Audisi, suara kamu kan pas-pasan,”
“Thanks.” Rana menatap Pandu dengan tatapan segaris.
“Makanya, Pandu berusaha nyegah biar kamu nggak ikut Audisi. Kan Audisinya Outdoor, di depan Umum lagi. Lagian, Pandu ada di luar kamar mandi waktu itu, katanya biar kamu nggak sendirian. Menurutmu, Masa iya si Nata tahu kamu ada di kamar mandi Osis sore-sore? Itu bukan kebetulan Ran, Pandu yang telepon Nata suruh jemput kamu.”
“Eeh?” Seketika Rana merasa ada langit runtuh di atas kepalanya.
“Masalah kodok itu juga, dia cuma iseng sih, tapi dia takut banget waktu kamu pingsan. Dia kan yang bawa kamu ke UKS?”
“Kata Tama, si Nata?” Rana menoleh ke arah Tama.
“Pandu bilang jalang bilang dia, bilang Nata aja.” Tama nyengir merasa bersalah.
Namun, rasa bersalah di dada Rana lebih lebih besar lagi. Rana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ternyata, selama ini dia salah menduga. Pandu tidak sejahat yang dia kira selama ini.
“Ya kalau kamu nggak percaya, coba inget-inget sendiri deh Ran, bener nggak Pandu suka sama kamu?” Tantang Tinus.
 Seketika potongan-potongan ingatan tentang Pandu kembali bermunculan di benak Rana. Pandu yang tiba-tiba muncul di depan kosannya dan mengantarnya pulang, Pandu yang membawakan kue ulang tahun untuknya meski dia bilang itu kadaluarsa, Pandu yang tersenyum padanya, Pandu yang membiarkannya menjadi pen..de..ngar..per..tama..
Tiba-tiba Rana teringat soal CD.
“Tinus, Pandu pernah ngasih CD berisi lagu ciptaan dia.”
“Nah, itu dia, terbukti kan kalau selama ini Pandu suka sama kamu Ran?”
Mata Rana berkaca-kaca, entah dia menangis untuk apa. Karena dia bahagia kah? Karena dia merindukan Pandu kah? Atau hal yang lain? Mengapa rasanya sedih Pandu tidak di sini ketika Rana menyadari perasaan Pandu? Setelah Rana sudah mengutuknya sekian lama, dan baru tahu kalau dia...Salah.
Ambil aja Ran, kalau nggak mau nanti kamu nyesel..
Rana bergegas menuju ruang guru dan mencari wali kelas Pandu. Dia tidak tahan lagi untuk tidak mencari tahu soal Pandu. Namun, pandangan wali kelas itu berubah sendu setelah Rana bertanya,
 “Bu, Pandu kemana? Kenapa dia tidak pernah masuk?”
#

Suara Pandu  mengalun melalui speaker laptop milik Rana.  Namun, pikirannya tidak bisa fokus pada lagunya. Suara petikan gitar yang mengalun syahdu dengan suara Pandu yang berusaha dimasukan ke dalam nada. Pikiran Rana masih terpaku pada kejadian siang tadi di kantin dan saat dia menemui bu Murni, Wali kelas Pandu.
‘Pandu nggak sekolah lagi, sudah lama dia keluar dari sekolah’
‘Ibu pasti bohong kan?’
‘Untuk apa Ibu berbohong Rana?’

Rana seperti kehilangan dirinya semenjak bertemu dengan Bu Murni. Dengan jawaban yang Rana tidak mau meyakini gurunya jujur, Rana masih berharap Pandu sedang mengerjainnya kali ini, dengan menyuruh bu Murni berkata demikian. Sama seperti dia menyuruh teman-temannya bilang kalau kue yang diberikan pada Rana Kadaluarsa.
‘Pandu sedang ke luar negeri, lagi berobat kata orang tuanya, tapi masih belum tahu kapan balik ke Indonesia’
‘Sakit?Pandu Sakit?’
‘Iya, dulu sempet Orang tua Pandu minta Ibu untuk membujuk Pandu agar mau berobat, tapi dia menolak. Sekarang Ibu bersyukur Pandu sudah mau mengikuti permintaan orang tuanya untuk berobat’
‘Sakit apa?’
Dada Rana terasa nyeri begitu membayangkan dia tidak bisa melihat Pandu lagi. Ditambah, kelebat tentang Pandu berputar-putar di kepalanya. Senyum harta karun yang baru ditemukannya, sikap lembut Pandu yang membuatnya berdebar pertama kali dan kebenaran jika Pandu menyukainya membuat ruang kosan Rana terasa menyempit. Seperti ada yang memenuhi pencernaannya, membuat perutnya terasa tidak karuan.
RANA?
Rana langsung terkesiap menoleh  ke arah laptop begitu terdengar suara Pandu memanggilnya.
Uhuk,uhuk,” Berlanjut dengan suara Pandu yang terdengar pura-pura batuk. “Apa sudah merindukanku?” Rana mendekap mulutnya dengan kedua tangan, air matanya yang sedari tadi tertahan di balik bola mata, sukses mengucur hingga ke pipi. “Aku tahu, rekaman ini akan terdengar saat kamu mulai mencariku, hehe,..aku juga merindukanmu.
Ran, salam untuk ibu bapak kamu, maaf karena aku masih belum bisa menjagamu. Jika suatu hari aku bisa kembali, aku akan menepati janjiku.
Rana mengerang sekeras-kerasnya di ranjang miliknya. Seolah langit merasakan kesedihannya, hujan turun begitu deras mengiringi tangis Rana yang semakin kencang. Rana berjanji pada Tuhan, kalaupun Tuhan mengijinkan umatnya membunuh sesama, dia tidak akan membunuh Pandu, karena dia tahu kehilangan Pandu bisa sesesak ini.
Musik kembali mengalun, dan suara Pandu kembali memenuhi sisa ruang kosong diantara Rana yang masih menangis. Dada Rana semakin terasa sesak, begitu dia menyadari, kalau sepertinya dia juga mencintai Pandu, sangat.

Saturday, July 29, 2017

#3 BESTENEMY : Where are you?

Rana salah sudah berfikir kalau Pandu memiliki sisi lain, selain sisi menyebalkan dan selalu membuatnya marah. Rana salah sudah sempat berfikir untuk mencabut kata-katanya tentang dia tidak akan membunuh Pandu, jika Tuhan mengijinkan umatnya membunuh sesama. Rana akan repot jika Pandu masih di sekitarnya.
Rana tidak akan pernah lupa, ketika dia gagal ikut Audisi menyanyi karena Rana dikunci oleh Pandu di kamar mandi Osis. Dia membuat Rana meraung-raung sambil kelaparan di kamar mandi. Sepertinya, Bunda harusnya bilang ke pandu bukan untuk menjaga Rana, tapi untuk menjauh dari Rana dan tidak mengganggunya.
Kalau saja tadi Tama tidak membantunya menenangkan diri, Rana pasti bikin masalah lagi untuk Pandu. Untung ada Tama yang bilang, ‘Kamu harus berterima kasih pada Pandu, udah nganterin kamu pulang, seenggaknya jangan balas dendam untuk saat ini.’ untuk pertama kalinya kawannya itu bicara dengan sangat bijak. Dan Rana mau mendengarkan.
Rana berusaha memfokuskan diri pada soal fisika yang gagal dia kerjakan sejak setengah jam yang lalu. Pikirannya masih berputar-putar soal Pandu yang menyebalkan, Pandu yang tenang memboncengnya dan Pandu yang sudah ngomong asal. Tepat ketika, Rana berhasil memfokuskan diri, handphonenya berdering.
Rana melirik Handphonenya, lagi-lagi ‘Telolet’. Rana baru sadar, selain ibunya, ‘Telolet’ yang membuat handphonennya berbunyi. Tama paling hanya chat di Whatsapp, kalau nggak datang langsung ke kamarnya. Rana masih ragu perlu mengangkatnya atau tidak. Tapi, mengingat terakhir kali Pandu tiba-tiba muncul di depan kamar Kos-nya karena dia tidak mengangkat telepon, Rana memutuskan untuk mengangkatnya saja.
“ehem,ehem...Ya Hallo,” Sapa Rana malas dengan suara dibuat beda dengan aslinya. “Maaf, si Rana nggak ada, ini Nengsih pembantunya.” Rana berharap, Pandu percaya dan dia akan segera menutup teleponnya.
Hi,Nengsih,” Balas Pandu. Rana memutar bola matanya, gila nih cowok bego apa ya. Mana ada pembantu di Kosan?. “Si Rana punya Jaket nggak?”
“Punya.” Rana mulai bingung, untuk apa si telolet menanyakan jaket?
Bawain sini gih, kasihan si Rana kedinginan di depan kosannya.
“Buat apa ya?” Tanya Rana, tetapi dia sudah tidak terdengar suara. Rana yang tadi sebal, berubah penasaran. Apa maksdunya si Rana kedingingan di depan kosan?. Anak itu pasti ngaco. Keingin-tahuan selalu lebih tinggi dari harga diri, Rana akhirnya keluar membawa jaket. Entah apalagi yang dilakukan Pandu untuk mengerjainnya? Dan sialnya, ngapain juga dia keluar? Bawa jaket lagi? Tapi, Rana sungguh penasaran.
Rana celingukan di depan gerbang, dia menemukan Pandu di sana. Sedang memeluk lengan, duduk di atas motor.
“Mau ngapain?”
“Sini jaketnya.” Pinta Pandu, dengan nurut Rana memberikannya. “Tangan!”
“Tangan?” Rana sungguh tidak mengerti. Tapi Pandu segera membuatnya mengerti, begitu dia menarik tangan Rana dan memasukannya pada lubang lengan jaket milik Rana. Dengan cepat, Pandu sudah mengenakannya pada Rana.
“Apaan sih??” Sentak Rana. Sejujurnya, dia bukan berteriak karena kelakukan aneh Pandu, tapi karena detak aneh yang barusan terjadi. “Ngapain pake Jaket? Ini cuaca lagi panas? Kamu sakit ya??” Sungut Rana sebal. Malam ini angin memang berhembus cukup kencang, tapi dia nggak akan kemana-mana juga.
“Ikut aku yuk.” Ajak Pandu. Dia memakaikan helm pada Rana, tanpa menunggu persetujuan.
“Kemana???” Mata Rana melebar.
“Ke suatu tempat.” Pandu tersenyum. Rana terhipnotis lagi, dengan senyum langka yang seperti itu. Senyum sesungguhnya.
#
Rana menyesali dia terlalu mudah terhipnotis, bahkan oleh senyum begitu doang. Huuft. Rana memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak pergi jauh-jauh, dia pasti bisa sangat mudah terhipnotis orang-orang jahat. Mengingat para penipu berkedok hipnotis berkeliaran dimana-mana.
Sekarang dia sudah ada di boncengan Pandu, mengapa tadi kok dia mau kalau bukan dihipnotis? Kalau Nata yang ngajak, Rana nggak akan seheran ini.
“Kemana sih Ndu?” Pekik Rana, tapi Pandu tidak menyahut.
Rana memperhatikan jalanan yang mulai keluar dari wilayah kota. Tidak ada lagi lampu jalan. Hanya ada sorot lampu dari kendaraan yang masih berlalu lalang dan cahaya lampu dari rumah-rumah kecil. Jika kondisi normal, Rana akan berteriak-teriak dan mengatakan ‘Tolong, aku diculik!” Tapi, entah mengapa dia percaya saja pada Pandu untuk saat ini. Dengan dasar, mereka sudah kelas tiga, Pandu tidak akan berani macam-macam jika ingin lulus sekolah. Bener kan?
Motor Pandu berhenti pada puncak bukit, di parkiran warung kecil. Lalu mencopot helm-nya. Rana mengamati sekelilingnya, pemandangan kota dari bukit dan satu warung kopi. Ternyata ada tempat sekeren ini di kotanya? Rana berdecak dalam hati. Keren.
“Sini, helmnya.” Pandu sudah hendak mencopot clip Helm Rana, tapi Rana menghentikannya, membuat tangan Pandu berhenti pada clip di bawah tangan Rana yang melarang untuk dicopot. Rana menatap Pandu sungguh-sungguh.
“Kamu nggak ada niat memutilasi aku atau apa kan Ndu? Kita udah kelas tiga, kamu nggak akan macem-macem kan Ndu? Kamu pasti masih dendam gara-gara kecoa di sepatu Reebook kamu itu kan Ndu?” Tanya Rana dengan lugu.
“Pfft.” Pandu menahan diri untuk tidak tertawa, tapi akhirnya tertawa juga. Satu hal lagi, keajaiban dunia yang baru dilihat Rana : Pandu tertawa. Bukan tertawa jahil seperti biasa, tapi Tawa sesungguhnya ketika seseorang sedang senang. Pandu terkesiap begitu sadar Rana sedang mengamatinya tertawa.
“Sebelum aku mutilasi, mau kopi nggak??” Tanya Pandu. Mata Rana melebar. “Becanda kali, serius amat.” Pandu menutup kaca Helm, lalu tertawa lagi.
Rana yang tidak mengerti apa yang lucu turun dari motor. Dan masih menolak mencopot helmnya. Pandu sudah berjalan duluan ke sebuah bangku yang menghadap ke pemandangan kota dan laut, Rana mengikutinya dengan sedikit ragu.
“Anyways, meskipun di satu sisi aku percaya kamu nggak akan memutilasiku, sisi ku lainnya percaya kalau kamu juga akan melakukan hal-hal lain yang membuatku marah, seperti biasa.” Rana menatap Pandu dengan mata menyipit.
“Mau Mie nggak?” Tawar Pandu, mengabaikan protesan Rana.
“Mau.” Sahut Rana keceplosan, menjawab kelewat cepat, seharusnya dia pura-pura nggak mau atau apa. “Ummm..” Dia tidak tahu bagaimana memperbaiki kata-katanya. Pandu tersenyum lagi lalu masuk ke warung memesan sesuatu. Rana tidak tahu, mengapa dia begitu mudah terhipnotis senyum Pandu, dia bahkan ingin melihatnya lagi dan lagi, sehingga tanpa sadar dia berlaku bodoh.
Pandu kembali dengan dua gelas Milo Panas.
“Nih,” Pandu mengulurkan satu untuk Rana,” Tanpa sianida, next kalau kesini lagi baru pake Sianida”
“Emang akan ada ‘Next’?” Sindir Rana.
“Siapa tahu?” Pandu menghendikan bahu.
Pelan-pelan Rana menyesap Milo yang langsung menghangatkan rongga dadanya. Dengan suasanan dingin, di puncak bukit dengan pemandangan lampu-lampu kota , Milo hangat ini terasa seratus kali lebih enak.
“Kamu kok tahu ada tempat oke di sini?” Tanya Rana sembari sesekali menyesap Milo-nya.
“Tahulah, kalau lagi nyari inspirasi aku sering jalan-jalan.”
“Inspirasi? Emang kamu penulis buku?” Rana merasa penasaran, seperti menemukan bagian lain dari benua bernama Pandu.
“Penulis lagu?” Pandu seperti bertanya pada dirinya sendiri. Rana mengangguk mengerti. Rana mulai merasa nyaman duduk di tempat asing bersama seseorang yang satu jam lalu ingin dia tumpas dari muka Bumi. “Mau denger?” Tawar Pandu.
“Nggak.” Sahut Rana cepat. Ini pasti pertanyaan jebakan.
“Yaudah.”
“By the way, apa visi dan misi kamu ngajak aku kesini?” Akhirnya Rana bertanya juga, dibanding lagu ciptaan Pandu, Rana lebih penasaran mengapa Pandu tiba-tiba baik mengajaknya ke tempat ini dengan traktiran Mie dan Milo. Rana menatap Pandu curiga. Pandu pernah memberinya kue ulang tahun, namun setelah itu, Rana tahu kalau kue yang diberikan Pandu kadaluarsa. Seketika Rana muntah-muntah.
“Aku kayaknya perlu memastikan, kalau yang kamu pesen nggak kadaluarsa.” Rana hendak bangkit namun tangannya sudah dicegah oleh Pandu. Pandu tertawa.
“Rana-rana,Kue ulang tahun itu nggak beneran kadaluarsa kali. Aku yang nyuruh anak-anak buat bilang kalau itu Kadaluarsa.” Pandu tertawa lagi mengingat wajah Rana yang saat itu ketakutan kalau dia akan mati, gara-gara kue Kadaluarsa.
“Kamu tuh kenapa sih ndu, suka iseng? Kayaknya bahagia banget gitu bikin aku sengsara.”
“Soalnya kamu lucu sih.”
“Lucuuuu?” Mata Rana melebar. Apanya yang lebih lucu dari anak perempuan menangis meraung-raung di kamar mandi? Apa yang lebih lucu dari anak perempuan hampir tewas gegara kue ulang tahun kadaluarsa di hari ulang tahunnya? Dan anak perempuan yang pingsan gara-gara kodok?
Pandu menatap Rana, lalu tersenyum. Lagi-lagi Rana terhipnotis. Ada bintang di bola mata Pandu, ada sihir di senyumnya. Membuat jantung Rana berdegub tidak karuan.
“Makanya, aku ngajak kamu kesini.”
“Mau ngerjain akuu lagi? Biar kamu bisa lihat anak perempuan yang lucu karena kejang-kejang setelah minum Milo?”
“Iya, ngerjain kamu. Biar aku bisa lihat anak perempuan yang lucu karena sedang deg-degan.” Senyum jahil itu muncul lagi. Rana mematung sejenak, lalu memukul bahu Pandu sekencang-kencangnya.
“Nggak Lucu.” Rana berusaha memperbaiki posisi duduknya. Tepat setelahnya, Mie mereka datang, jadi Rana bisa pura-pura sibuk makan Mie. Meskipun, tubuhnya tidak bisa diajak kompromi, jantungnya berdetak tidak sesuai kerjanya.
“Ran?”
“Apa??” Sahut Rana galak.
“Ini CD lagu ciptaanku, kali penasaran boleh diputer.” Pandu menyodorkan kotak CD pada Rana yang sedang mengunyah Mie. Ragu-ragu, Rana menerimanya. “Udah terima!, nanti nyesel kalau kamu tolak, sebelum lagunya booming di Itunes. Bersyukurlah kamu menjadi pendengar pertama.”
Mata Rana menyipit, “Iyuuuh.” Tangannya menerima CD dan dimasukan ke Jaket dan melanjutkan makan tanpa suara, karena debaran di dadanya mulai mendominasi dirinya. Rana berusaha sefokus mungkin mengunyah Mie dan menelannya, dia takut gara-gara terlalu gugup dia lupa caranya mengunyah.
#
Rana menggeleng-geleng kepala saat sedang sikat gigi. Dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Saat dia bangun di depan gerbang kosan, tangannya melingkar dipinggang Pandu, dia tidak ketiduran dan memeluk cowok itu kan? Rana kembali geleng-geleng. Seingatnya, dia berpegangan pada ujung jaket Pandu, nggak mungkin dia tanpa sadar memeluk Pandu kan? Rana geleng-geleng lagi.
Rana menatap CD yang diberi Pandu sebentar, lalu memasukannya ke dalam laci agar dia tidak mengingat yang tidak-tidak. Sepertinya, ada yang perlu Rana jelaskan pada Pandu agar cowok itu tidak salah paham. Rana memencet nomor Pandu, tapi tidak ada yang mengangkatnya. Rana memutuskan, dia bicara langsung saja di sekolah.
“Pandu nggak masuk.” Sentak Brenda begitu Rana berdiri di kelas depan kelas Pandu. Mata Rana melebar.
“Kenapa nggak masuk?” tanya Rana ingin tahu.
“Mana aku tahu, capek kali berurusan sama kamu.” Brenda meniup-niup ujung kuku-nya yang tidak kenapa-napa. Rana yakin cat kukunya juga sudah kering.
“Atau capek ngadepin cewek genit kayak kamu?” Rana mengejek Brenda sebelum pergi. Membiarkan Brenda memasang wajah nenek lampir menahan sebal di belakangnya.
di beberapa langkah selanjutnya, Rana masih penasaran, Kemana anak itu?

Friday, February 10, 2017

#2 BESTENEMY : BESTFRIEND (?)

(Lanjutan)



Akhirnya Pandu ganti Baju dan tetap memaksa mengantarkan Rana. Gila aja, mereka harus berhenti di Distro hanya untuk membeli baju ganti Pandu. Tuh cowok memang super konsumtif. Nggak kaget sih, dia bisa bakar Reebook tanpa mikir, dan sekarang sudah ganti Yeezzy, yang diyakini Rana Orisinil. Seketika, Rana merasa iri dengan pandu yang sangat mudah. Apapun yang dia inginkan, bisa dia dapatkan tanpa usaha panjang. Berbeda dengan dirinya, yang jika menginginkan sepatu, dia harus nabung dulu, karena orang tuanya sudah cukup terbebani dengan biaya pendidikannya dan kakak-kakaknya. Meski, kakak-kakaknya sudah bisa membiayai kuliah mereka sendiri dengan kerja ‘part time’. Tapi, pengobatan ayah juga butuh biaya.
“Pokoknya, kamu nggak boleh keceplosan kalau kita bolos sekolah.” Rana berbicara sedikit berbisik agar tidak terdengar siapapun, meski gerbang dengan pintu rumahnya berjarak agak jauh.
Pandu mengangguk mengerti. Mereka sampai di rumah Rana yang cukup pelosok. Pandu menatap sekeliling yang berbeda dengan lingkungannya. Disini begitu tenang, dan damai. Tidak ada suara berisik selain suara ayam di sekitar kandangnya.
“Kenapa? Rumahku kampungan ya?” Sindir Rana, begitu mengajak Pandu memasuki pekarangan rumah.
“Nggak, nggak nyangka ada tempat sekeren ini di Banyuwangi. Selama ini aku cuma tahu kota aja, jadi ya belum pernah tahu ada tempat ‘se-hijau’ ini.” Pandu tersenyum lembut. Dua hal yang tidak bisa dipercaya Rana begitu saja hari ini, pertama, Pandu tiba-tiba mirip malaikat yang mau mengantarnya pulang dan ikut bolos. Kedua, anak laki-laki itu tersenyum. Rana berdoa, dia tidak sedang bermimpi. Karena, cukup melelahkan jika dia harus melakukan perjalanan dua kali.
Memang rumah Rana berada di kawasan perkebunan. Masih banyak pohon-pohon akasia besar di sini dan perkebunan cengkeh yang aromanya cukup menenangkan. Belum lagi tanaman sayu-sayuran di pekarangan rumah Rana yang ditanam di tanah, bukan di polibek.
“Assalamualaikum” Rana mengetuk pintu. Terdengar suara derap langkah terburu-buru dari dalam, Rana yakin itu kaki ibunya.
“Waalaikumsalam” Sahut dari dalam. Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka. Wajah ibu yang  terlihat lelah menyambut Rana setengah senang, setengah bingung.
“Loh, kok sudah pulang? Sekolah kamu gimana?” tanya Bunda, menyuruh Rana masuk dan Pandu. Rana mencium tangan ibunya. Dia melirik pandu, dan menyuruhnya melakukan hal sama. Mengerti yang dimaksud Rana, Pandu langsung mencium tangan ibu Rana.
“Libur, katanya gurunya ada rapat.” Dusta Rana sambil menggosok ujung hidungnya.
“Lah, dia siapa Ran?” pandangan ibu beralih pada Pandu.
“OJEK”
“Teman sekolah” Sahut Pandu dan Rana bersama-sama.
Ibu tertawa kecil, “Kamu Ran, masa temen dibilang Ojek”
Rana melirik Pandu, dan menunjukan dia tidak menyesali kata-katanya. Rana langsung buru-buru masuk kamar ayahnya, dia yakin sosok yang dirindukan ada di sana.
“Duduk dulu, siapa namanya?” Tanya ibu pada Pandu. Pandu nurut lalu duduk.
“Pandu bu.” Sahutnya berusaha sopan. Dia belum pernah bertamu ke rumah siapapun sebelumnya, jadi Pandu benar-benar merasa kaku.
“Yaudah, tunggu sini, habis ini makan dulu, kalian pasti belum sarapan.”
“Iya, makasih.” Pandu mengangguk dan mengamati ibu Rana yang pamit ke kamar, dimana Rana masuk tadi.
Pandu, mengamati sekeliling rumah Rana yang bercat putih. Rumahnya minimalis dan menenangkan. Meski kecil, rumah ini terkesan hangat dan damai. Berbeda dengan kondisi rumahnya yang sebaliknya.
Terpajang foto-foto Rana bersama 2 laki-laki yang lebih besar darinya. Pandu meyakini mereka kakak Rana. Dan seorang laki-laki tegas dan berotot di figura lain, itu ayah Rana. Dan foto gadis kecil, dengan wajah cemberut itu pasti Rana. Pandu seketika teringat ketika Rana sedang cemberut karena dia kerjai. Pandu tertawa kecil.
“Nggak usah ngeledek.” Suara Rana dingin, di belakang Pandu, membuat bulu kuduk Pandu merinding.
“Sorry.” Pandu belum bisa menghentikan tawanya.
“Makan dulu, Bunda udah nyiapin.” Rana menunjuk arah dapur dengan dagunya.
“Anyway, kamar kamu sebelah mana Ran?” Tanya Pandu pada Rana yang sudah berjalan mendahuluinya.
“Rahasia.”
#
Rana cukup lega kondisi ayahnya sudah baik-baik saja. Penglihatan ayahnya mulai berkurang sedikit-sedikit sejak Dia divonis Diabetes. Kemarin, dia jatuh di kebun cabe. Makanya tubuhnya melemah, suhu tubuhnya naik. Sekarang Ayah sudah baik, suhu tubuhnya sudah turun. Hanya butuh lebih banyak istirahat.
“Rana pamit ya Bun, kayaknya Rana bakal sering-sering pulang,” Rana menatap ibunya, “Atau Rana pulang aja ya, jadi sekolah bolak balik naik motor aja. Biar Rana bisa jagain Ayah.” Rana tidak bisa menahan bulir di sudut matanya. Ibunya tersenyum dan menyeka air mata yang jatuh ke pipi Rana.
“Jangan, lagipula kamu kan sudah kelas 3, habis ini lulus. Mending belajar yang Rajin, doain Ayah biar cepet sembuh setiap sholat.” Nasihat Bunda sembari membetulkan poni anak perempuannya. Rana mengangguk tanpa berkata-kata. “Yaudah, sana keburu malam. Bahaya, jalan kalau gelap banyak begal.”
Rana mengangguk kemudian mencium tangan ibunya. Pandu juga melakukan hal yang sama.
“Saya pamit juga bu.” Kata Pandu.
Ibu Nara mengangguk. “Nak Pandu,” Panggilnya lembut, Pandu menoleh. “Tolong jaga Rana ya.” Katanya menatap Pandu sungguh-sungguh. Pandu mengangguk kaku, sedangkan Rana sudah keselek air mata.
“Bunda jangan ngomong macem-macem.” Rana melirik Pandu yang tersenyum pasrah. Rana naik ke boncengan Pandu. “Rana bisa jaga diri kok.”
“Hati-hati ya.” Seperti tidak mau mendengar kata-kata Rana, ibunya meminta hati-hati pada Pandu. Pandu mengangguk, lalu melajukan motornya.
“Jangan dengerin Bunda, jadi biasa aja.” Gumam Rana pada Pandu, saat mereka sudah jauh dari rumah.
“Sudah terlanjur.” Sahut Pandu.
“Terlanjur apa??”
“Denger.”
Suasanan berubah hening. Perjalanan melewati hutan di bawah mendung, terasa lebih lambat tiba-tiba untuk mereka berdua.
#
Akhirnya Pandu ganti Baju dan tetap memaksa mengantarkan Rana. Gila aja, mereka harus berhenti di Distro hanya untuk membeli baju ganti Pandu. Tuh cowok memang super konsumtif. Nggak kaget sih, dia bisa bakar Reebook tanpa mikir, dan sekarang sudah ganti Yeezy, yang diyakini Rana Orisinil. Seketika, Rana merasa iri dengan pandu yang sangat mudah. Apapun yang dia inginkan, bisa dia dapatkan tanpa usaha panjang. Berbeda dengan dirinya, yang jika menginginkan sepatu dia harus nabung, karena orang tuanya sudah cukup terbebani dengan biaya pendidikannya dan kakak-kakaknya. Meski, kakak-kakaknya sudah bisa membiayai kuliah mereka sendiri dengan kerja ‘part time’. Tapi, pengobatan ayah juga butuh biaya.
“Pokoknya, kamu nggak boleh keceplosan kalau kita bolos sekolah.” Rana berbicara sedikit berbisik agar tidak terdengar siapapun, meski gerbang dengan pintu rumahnya berjarak agak jauh.
Pandu mengangguk mengerti. Mereka sampai di rumah Rana yang cukup pelosok. Pandu menatap sekeliling yang berbeda dengan lingkungannya. Disini begitu tenang, dan damai. Tidak ada suara berisik selain suara ayam di sekitar kandangnya.
“Kenapa? Rumahku kampungan ya?” Sindir Rana, begitu mengajak Pandu memasuki pekarangan rumah.
“Nggak, nggak nyangka ada tempat sekeren ini di Banyuwangi. Selama ini aku cuma tahu kota aja, jadi ya belum pernah tahu ada tempat ‘se-hijau’ ini.” Pandu tersenyum lembut. Dua hal yang tidak bisa dipercaya Rana begitu saja hari ini, pertama, Pandu tiba-tiba mirip malaikat yang mau mengantarnya pulang dan ikut bolos. Kedua, anak laki-laki itu tersenyum. Rana berdoa, dia tidak sedang bermimpi. Karena, cukup melelahkan jika dia harus melakukan perjalanan dua kali.
Memang rumah Rana berada di kawasan perkebunan. Masih banyak pohon-pohon akasia besar di sini dan perkebunan cengkeh yang aromanya cukup menenangkan. Belum lagi tanaman sayu-sayuran di pekarangan rumah Rana yang ditanam di tanah, bukan di polibek.
“Assalamualaikum” Rana mengetuk pintu. Terdengar suara derap langkah terburu-buru dari dalam, Rana yakin itu kaki ibunya.
“Waalaikumsalam” Sahut dari dalam. Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka. Wajah ibu yang  terlihat lelah menyambut Rana setengah senang, setengah bingung.
“Loh, kok sudah pulang? Sekolah kamu gimana?” tanya Bunda, menyuruh Rana masuk dan Pandu. Rana mencium tangan ibunya. Dia melirik pandu, dan menyuruhnya melakukan hal sama. Mengerti yang dimaksud Rana, Pandu langsung mencium tangan ibu Rana.
“Libur, katanya gurunya ada rapat.” Dusta Rana sambil menggosok ujung hidungnya.
“Lah, dia siapa Ran?” pandangan ibu beralih pada Pandu.
“OJEK”
“Teman sekolah” Sahut Pandu dan Rana bersama-sama.
Ibu tertawa kecil, “Kamu Ran, masa temen dibilang Ojek”
Rana melirik Pandu, dan menunjukan dia tidak menyesali kata-katanya. Rana langsung buru-buru masuk kamar ayahnya, dia yakin sosok yang dirindukan ada di sana.
“Duduk dulu, siapa namanya?” Tanya ibu pada Pandu. Pandu nurut lalu duduk.
“Pandu bu.” Sahutnya berusaha sopan. Dia belum pernah bertamu ke rumah siapapun sebelumnya, jadi Pandu benar-benar merasa kaku.
“Yaudah, tunggu sini, habis ini makan dulu, kalian pasti belum sarapan.”
“Iya, makasih.” Pandu mengangguk dan mengamati ibu Rana yang pamit ke kamar, dimana Rana masuk tadi.
Pandu, mengamati sekeliling rumah Rana yang bercat putih. Rumahnya minimalis dan menenangkan. Meski kecil, rumah ini terkesan hangat dan damai. Berbeda dengan kondisi rumahnya yang sebaliknya.
Terpajang foto-foto Rana bersama 2 laki-laki yang lebih besar darinya. Pandu meyakini mereka kakak Rana. Dan seorang laki-laki tegas dan berotot di figura lain, itu ayah Rana. Dan foto gadis kecil, dengan wajah cemberut itu pasti Rana. Pandu seketika teringat ketika Rana sedang cemberut karena dia kerjai. Pandu tertawa kecil.
“Nggak usah ngeledek.” Suara Rana dingin, di belakang Pandu, membuat bulu kuduk Pandu merinding.
“Sorry.” Pandu belum bisa menghentikan tawanya.
“Makan dulu, Bunda udah nyiapin.” Rana menunjuk arah dapur dengan dagunya.
“Anyway, kamar kamu sebelah mana Ran?” Tanya Pandu pada Rana yang sudah berjalan mendahuluinya.
“Rahasia.”
#
Rana cukup lega kondisi ayahnya sudah baik-baik saja. Penglihatan ayahnya mulai berkurang sedikit-sedikit sejak Dia divonis Diabetes. Kemarin, dia jatuh di kebun cabe. Makanya tubuhnya melemah, suhu tubuhnya naik. Sekarang Ayah sudah baik, suhu tubuhnya sudah turun. Hanya butuh lebih banyak istirahat.
“Rana pamit ya Bun, kayaknya Rana bakal sering-sering pulang,” Rana menatap ibunya, “Atau Rana pulang aja ya, jadi sekolah bolak balik naik motor aja. Biar Rana bisa jagain Ayah.” Rana tidak bisa menahan bulir di sudut matanya. Ibunya tersenyum dan menyeka air mata yang jatuh ke pipi Rana.
“Jangan, lagipula kamu kan sudah kelas 3, habis ini lulus. Mending belajar yang Rajin, doain Ayah biar cepet sembuh setiap sholat.” Nasihat Bunda sembari membetulkan poni anak perempuannya. Rana mengangguk tanpa berkata-kata. “Yaudah, sana keburu malam. Bahaya, jalan kalau gelap banyak begal.”
Rana mengangguk kemudian mencium tangan ibunya. Pandu juga melakukan hal yang sama.
“Saya pamit juga bu.” Kata Pandu.
Ibu Nara mengangguk. “Nak Pandu,” Panggilnya lembut, Pandu menoleh. “Tolong jaga Rana ya.” Katanya menatap Pandu sungguh-sungguh. Pandu mengangguk kaku, sedangkan Rana sudah keselek air mata.
“Bunda jangan ngomong macem-macem.” Rana melirik Pandu yang tersenyum pasrah. Rana naik ke boncengan Pandu. “Rana bisa jaga diri kok.”
“Hati-hati ya.” Seperti tidak mau mendengar kata-kata Rana, ibunya meminta hati-hati pada Pandu. Pandu mengangguk, lalu melajukan motornya.
“Jangan dengerin Bunda, jadi biasa aja.” Gumam Rana pada Pandu, saat mereka sudah jauh dari rumah.
“Sudah terlanjur.” Sahut Pandu.
“Terlanjur apa??”
“Denger.”
Suasanan berubah hening. Perjalanan melewati hutan di bawah mendung, terasa lebih lambat tiba-tiba untuk mereka berdua.
#
Rana belum sempat berterimakasih pada Pandu kemarin. Karena Rana terlalu gengsi untuk melakukannya. Dia membiarkan Pandu pulang dengan meninggalkan senyum jahilnya. Berbeda dengan senyum ‘sungguhan’ yang dia temukan pertama kali saat di rumahnya. Anak itu pasti berulah lagi.
Rana ingin mengucapkannya sekarang, jadi dia memutuskan untuk mencari Pandu di kelasnya. Bukan hanya Rana yang heran dia mencari Pandu, tapi juga teman-teman di sekitar mereka. Tapi, Rana ‘Bodo amat’
“Ngapain nyari Pandu? Mau bikin ulah lagi?” Tanya Brenda, teman sekelas Pandu dengan nada skeptis.
“Sorry ya, bukan urusan kamu.” Sahut Rana membuat Brenda semakin Keki.
“Mana Pandu?” Tanya Rana akhirnya.
“Bilang dulu mau apa!” Sergah Brenda.
“Hyaduh, Lama ya, Minggir!” Seru Rana pada Brenda yang menghalangi jalannya.
“Minggir. Minggir. Emang ini jalan nenekmu??” Brenda melotot.
“Anyway, ini juga bukan jalan nenekmu kelleus.” Balas Rana. Brenda mengerang sebal. Belum pernah ada anak di sekolah ini yang berani menyentaknya.
“Mau cari gara-gara sama aku?” Brenda menggulung lengan seragamnya, siap untuk mencekik Rana.
“Aku nyari Pandu, bukan nyari gara-gara.” Sungut Rana mulai kesal. Dia mengambil langkah cepat untuk segera pergi dari Brenda, anak perempuan itu cukup merepotkannya. Namun, tubuhnya oleng saat kerah belakangnya terasa ditarik.
“Aaaaaak!!” teriak Rana, namun tubuhnya ternyata tidak sampai lantai. Dia melirik Pandu yang memegangi punggungnya. “Ah sial”
“Kamu beruntung kali”. Sahut Pandu terkekeh sambil membantu Rana berdiri tegak. Rana menatap Pandu dan Brenda bergantian sama sebalnya. “Ada apa nyari? Kangen ya?” Ledek Pandu. Mata Rana spontan melotot.
“Idih, GR gila.” Rana berkacak pinggang.
“Terus, apa?” Tanya Pandu. Brenda yang masih berada di antara Pandu dan Rana menatap bingung.
“Mau...eemm..mau...eemm...” seketika mulut Rana kelu. Dia menggaruk-garuk dahinya. 
“Mau nggak ndu jadi pacarku?” dengan wajah Jahil Pandu menatap Rana, Rana melotot. Wajah jahil itu berubah sok melankolis, “Tapi Sorry ya Ran, Ak...”
Bruuugh!
Belum selesai Pandu bicara, Rana sudah menendang tulang kering Pandu dengan sepatu boots-nya. Salah sendiri ngomong sembarangan.
“Sorry ya Ndu, bikin kecewa. Aku nggak akan ngomong gitu. Aku Cuma mau bilang makasih buat kemarin,” Cerocos Rana, Pandu masih memeluk kakinya yang ngilu. “Bye!”

Rana segera pergi dari sana sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, karena tiba-tiba udara berubah panas. Entah karena dia gugup atau karena tatapan anak-anak lain ke arahnya. (bersambung)