Jumat, 10 Februari 2017

#2 BESTENEMY : BESTFRIEND (?)

(Lanjutan)



Akhirnya Pandu ganti Baju dan tetap memaksa mengantarkan Rana. Gila aja, mereka harus berhenti di Distro hanya untuk membeli baju ganti Pandu. Tuh cowok memang super konsumtif. Nggak kaget sih, dia bisa bakar Reebook tanpa mikir, dan sekarang sudah ganti Yeezzy, yang diyakini Rana Orisinil. Seketika, Rana merasa iri dengan pandu yang sangat mudah. Apapun yang dia inginkan, bisa dia dapatkan tanpa usaha panjang. Berbeda dengan dirinya, yang jika menginginkan sepatu, dia harus nabung dulu, karena orang tuanya sudah cukup terbebani dengan biaya pendidikannya dan kakak-kakaknya. Meski, kakak-kakaknya sudah bisa membiayai kuliah mereka sendiri dengan kerja ‘part time’. Tapi, pengobatan ayah juga butuh biaya.
“Pokoknya, kamu nggak boleh keceplosan kalau kita bolos sekolah.” Rana berbicara sedikit berbisik agar tidak terdengar siapapun, meski gerbang dengan pintu rumahnya berjarak agak jauh.
Pandu mengangguk mengerti. Mereka sampai di rumah Rana yang cukup pelosok. Pandu menatap sekeliling yang berbeda dengan lingkungannya. Disini begitu tenang, dan damai. Tidak ada suara berisik selain suara ayam di sekitar kandangnya.
“Kenapa? Rumahku kampungan ya?” Sindir Rana, begitu mengajak Pandu memasuki pekarangan rumah.
“Nggak, nggak nyangka ada tempat sekeren ini di Banyuwangi. Selama ini aku cuma tahu kota aja, jadi ya belum pernah tahu ada tempat ‘se-hijau’ ini.” Pandu tersenyum lembut. Dua hal yang tidak bisa dipercaya Rana begitu saja hari ini, pertama, Pandu tiba-tiba mirip malaikat yang mau mengantarnya pulang dan ikut bolos. Kedua, anak laki-laki itu tersenyum. Rana berdoa, dia tidak sedang bermimpi. Karena, cukup melelahkan jika dia harus melakukan perjalanan dua kali.
Memang rumah Rana berada di kawasan perkebunan. Masih banyak pohon-pohon akasia besar di sini dan perkebunan cengkeh yang aromanya cukup menenangkan. Belum lagi tanaman sayu-sayuran di pekarangan rumah Rana yang ditanam di tanah, bukan di polibek.
“Assalamualaikum” Rana mengetuk pintu. Terdengar suara derap langkah terburu-buru dari dalam, Rana yakin itu kaki ibunya.
“Waalaikumsalam” Sahut dari dalam. Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka. Wajah ibu yang  terlihat lelah menyambut Rana setengah senang, setengah bingung.
“Loh, kok sudah pulang? Sekolah kamu gimana?” tanya Bunda, menyuruh Rana masuk dan Pandu. Rana mencium tangan ibunya. Dia melirik pandu, dan menyuruhnya melakukan hal sama. Mengerti yang dimaksud Rana, Pandu langsung mencium tangan ibu Rana.
“Libur, katanya gurunya ada rapat.” Dusta Rana sambil menggosok ujung hidungnya.
“Lah, dia siapa Ran?” pandangan ibu beralih pada Pandu.
“OJEK”
“Teman sekolah” Sahut Pandu dan Rana bersama-sama.
Ibu tertawa kecil, “Kamu Ran, masa temen dibilang Ojek”
Rana melirik Pandu, dan menunjukan dia tidak menyesali kata-katanya. Rana langsung buru-buru masuk kamar ayahnya, dia yakin sosok yang dirindukan ada di sana.
“Duduk dulu, siapa namanya?” Tanya ibu pada Pandu. Pandu nurut lalu duduk.
“Pandu bu.” Sahutnya berusaha sopan. Dia belum pernah bertamu ke rumah siapapun sebelumnya, jadi Pandu benar-benar merasa kaku.
“Yaudah, tunggu sini, habis ini makan dulu, kalian pasti belum sarapan.”
“Iya, makasih.” Pandu mengangguk dan mengamati ibu Rana yang pamit ke kamar, dimana Rana masuk tadi.
Pandu, mengamati sekeliling rumah Rana yang bercat putih. Rumahnya minimalis dan menenangkan. Meski kecil, rumah ini terkesan hangat dan damai. Berbeda dengan kondisi rumahnya yang sebaliknya.
Terpajang foto-foto Rana bersama 2 laki-laki yang lebih besar darinya. Pandu meyakini mereka kakak Rana. Dan seorang laki-laki tegas dan berotot di figura lain, itu ayah Rana. Dan foto gadis kecil, dengan wajah cemberut itu pasti Rana. Pandu seketika teringat ketika Rana sedang cemberut karena dia kerjai. Pandu tertawa kecil.
“Nggak usah ngeledek.” Suara Rana dingin, di belakang Pandu, membuat bulu kuduk Pandu merinding.
“Sorry.” Pandu belum bisa menghentikan tawanya.
“Makan dulu, Bunda udah nyiapin.” Rana menunjuk arah dapur dengan dagunya.
“Anyway, kamar kamu sebelah mana Ran?” Tanya Pandu pada Rana yang sudah berjalan mendahuluinya.
“Rahasia.”
#
Rana cukup lega kondisi ayahnya sudah baik-baik saja. Penglihatan ayahnya mulai berkurang sedikit-sedikit sejak Dia divonis Diabetes. Kemarin, dia jatuh di kebun cabe. Makanya tubuhnya melemah, suhu tubuhnya naik. Sekarang Ayah sudah baik, suhu tubuhnya sudah turun. Hanya butuh lebih banyak istirahat.
“Rana pamit ya Bun, kayaknya Rana bakal sering-sering pulang,” Rana menatap ibunya, “Atau Rana pulang aja ya, jadi sekolah bolak balik naik motor aja. Biar Rana bisa jagain Ayah.” Rana tidak bisa menahan bulir di sudut matanya. Ibunya tersenyum dan menyeka air mata yang jatuh ke pipi Rana.
“Jangan, lagipula kamu kan sudah kelas 3, habis ini lulus. Mending belajar yang Rajin, doain Ayah biar cepet sembuh setiap sholat.” Nasihat Bunda sembari membetulkan poni anak perempuannya. Rana mengangguk tanpa berkata-kata. “Yaudah, sana keburu malam. Bahaya, jalan kalau gelap banyak begal.”
Rana mengangguk kemudian mencium tangan ibunya. Pandu juga melakukan hal yang sama.
“Saya pamit juga bu.” Kata Pandu.
Ibu Nara mengangguk. “Nak Pandu,” Panggilnya lembut, Pandu menoleh. “Tolong jaga Rana ya.” Katanya menatap Pandu sungguh-sungguh. Pandu mengangguk kaku, sedangkan Rana sudah keselek air mata.
“Bunda jangan ngomong macem-macem.” Rana melirik Pandu yang tersenyum pasrah. Rana naik ke boncengan Pandu. “Rana bisa jaga diri kok.”
“Hati-hati ya.” Seperti tidak mau mendengar kata-kata Rana, ibunya meminta hati-hati pada Pandu. Pandu mengangguk, lalu melajukan motornya.
“Jangan dengerin Bunda, jadi biasa aja.” Gumam Rana pada Pandu, saat mereka sudah jauh dari rumah.
“Sudah terlanjur.” Sahut Pandu.
“Terlanjur apa??”
“Denger.”
Suasanan berubah hening. Perjalanan melewati hutan di bawah mendung, terasa lebih lambat tiba-tiba untuk mereka berdua.
#
Akhirnya Pandu ganti Baju dan tetap memaksa mengantarkan Rana. Gila aja, mereka harus berhenti di Distro hanya untuk membeli baju ganti Pandu. Tuh cowok memang super konsumtif. Nggak kaget sih, dia bisa bakar Reebook tanpa mikir, dan sekarang sudah ganti Yeezy, yang diyakini Rana Orisinil. Seketika, Rana merasa iri dengan pandu yang sangat mudah. Apapun yang dia inginkan, bisa dia dapatkan tanpa usaha panjang. Berbeda dengan dirinya, yang jika menginginkan sepatu dia harus nabung, karena orang tuanya sudah cukup terbebani dengan biaya pendidikannya dan kakak-kakaknya. Meski, kakak-kakaknya sudah bisa membiayai kuliah mereka sendiri dengan kerja ‘part time’. Tapi, pengobatan ayah juga butuh biaya.
“Pokoknya, kamu nggak boleh keceplosan kalau kita bolos sekolah.” Rana berbicara sedikit berbisik agar tidak terdengar siapapun, meski gerbang dengan pintu rumahnya berjarak agak jauh.
Pandu mengangguk mengerti. Mereka sampai di rumah Rana yang cukup pelosok. Pandu menatap sekeliling yang berbeda dengan lingkungannya. Disini begitu tenang, dan damai. Tidak ada suara berisik selain suara ayam di sekitar kandangnya.
“Kenapa? Rumahku kampungan ya?” Sindir Rana, begitu mengajak Pandu memasuki pekarangan rumah.
“Nggak, nggak nyangka ada tempat sekeren ini di Banyuwangi. Selama ini aku cuma tahu kota aja, jadi ya belum pernah tahu ada tempat ‘se-hijau’ ini.” Pandu tersenyum lembut. Dua hal yang tidak bisa dipercaya Rana begitu saja hari ini, pertama, Pandu tiba-tiba mirip malaikat yang mau mengantarnya pulang dan ikut bolos. Kedua, anak laki-laki itu tersenyum. Rana berdoa, dia tidak sedang bermimpi. Karena, cukup melelahkan jika dia harus melakukan perjalanan dua kali.
Memang rumah Rana berada di kawasan perkebunan. Masih banyak pohon-pohon akasia besar di sini dan perkebunan cengkeh yang aromanya cukup menenangkan. Belum lagi tanaman sayu-sayuran di pekarangan rumah Rana yang ditanam di tanah, bukan di polibek.
“Assalamualaikum” Rana mengetuk pintu. Terdengar suara derap langkah terburu-buru dari dalam, Rana yakin itu kaki ibunya.
“Waalaikumsalam” Sahut dari dalam. Beberapa detik berikutnya, pintu terbuka. Wajah ibu yang  terlihat lelah menyambut Rana setengah senang, setengah bingung.
“Loh, kok sudah pulang? Sekolah kamu gimana?” tanya Bunda, menyuruh Rana masuk dan Pandu. Rana mencium tangan ibunya. Dia melirik pandu, dan menyuruhnya melakukan hal sama. Mengerti yang dimaksud Rana, Pandu langsung mencium tangan ibu Rana.
“Libur, katanya gurunya ada rapat.” Dusta Rana sambil menggosok ujung hidungnya.
“Lah, dia siapa Ran?” pandangan ibu beralih pada Pandu.
“OJEK”
“Teman sekolah” Sahut Pandu dan Rana bersama-sama.
Ibu tertawa kecil, “Kamu Ran, masa temen dibilang Ojek”
Rana melirik Pandu, dan menunjukan dia tidak menyesali kata-katanya. Rana langsung buru-buru masuk kamar ayahnya, dia yakin sosok yang dirindukan ada di sana.
“Duduk dulu, siapa namanya?” Tanya ibu pada Pandu. Pandu nurut lalu duduk.
“Pandu bu.” Sahutnya berusaha sopan. Dia belum pernah bertamu ke rumah siapapun sebelumnya, jadi Pandu benar-benar merasa kaku.
“Yaudah, tunggu sini, habis ini makan dulu, kalian pasti belum sarapan.”
“Iya, makasih.” Pandu mengangguk dan mengamati ibu Rana yang pamit ke kamar, dimana Rana masuk tadi.
Pandu, mengamati sekeliling rumah Rana yang bercat putih. Rumahnya minimalis dan menenangkan. Meski kecil, rumah ini terkesan hangat dan damai. Berbeda dengan kondisi rumahnya yang sebaliknya.
Terpajang foto-foto Rana bersama 2 laki-laki yang lebih besar darinya. Pandu meyakini mereka kakak Rana. Dan seorang laki-laki tegas dan berotot di figura lain, itu ayah Rana. Dan foto gadis kecil, dengan wajah cemberut itu pasti Rana. Pandu seketika teringat ketika Rana sedang cemberut karena dia kerjai. Pandu tertawa kecil.
“Nggak usah ngeledek.” Suara Rana dingin, di belakang Pandu, membuat bulu kuduk Pandu merinding.
“Sorry.” Pandu belum bisa menghentikan tawanya.
“Makan dulu, Bunda udah nyiapin.” Rana menunjuk arah dapur dengan dagunya.
“Anyway, kamar kamu sebelah mana Ran?” Tanya Pandu pada Rana yang sudah berjalan mendahuluinya.
“Rahasia.”
#
Rana cukup lega kondisi ayahnya sudah baik-baik saja. Penglihatan ayahnya mulai berkurang sedikit-sedikit sejak Dia divonis Diabetes. Kemarin, dia jatuh di kebun cabe. Makanya tubuhnya melemah, suhu tubuhnya naik. Sekarang Ayah sudah baik, suhu tubuhnya sudah turun. Hanya butuh lebih banyak istirahat.
“Rana pamit ya Bun, kayaknya Rana bakal sering-sering pulang,” Rana menatap ibunya, “Atau Rana pulang aja ya, jadi sekolah bolak balik naik motor aja. Biar Rana bisa jagain Ayah.” Rana tidak bisa menahan bulir di sudut matanya. Ibunya tersenyum dan menyeka air mata yang jatuh ke pipi Rana.
“Jangan, lagipula kamu kan sudah kelas 3, habis ini lulus. Mending belajar yang Rajin, doain Ayah biar cepet sembuh setiap sholat.” Nasihat Bunda sembari membetulkan poni anak perempuannya. Rana mengangguk tanpa berkata-kata. “Yaudah, sana keburu malam. Bahaya, jalan kalau gelap banyak begal.”
Rana mengangguk kemudian mencium tangan ibunya. Pandu juga melakukan hal yang sama.
“Saya pamit juga bu.” Kata Pandu.
Ibu Nara mengangguk. “Nak Pandu,” Panggilnya lembut, Pandu menoleh. “Tolong jaga Rana ya.” Katanya menatap Pandu sungguh-sungguh. Pandu mengangguk kaku, sedangkan Rana sudah keselek air mata.
“Bunda jangan ngomong macem-macem.” Rana melirik Pandu yang tersenyum pasrah. Rana naik ke boncengan Pandu. “Rana bisa jaga diri kok.”
“Hati-hati ya.” Seperti tidak mau mendengar kata-kata Rana, ibunya meminta hati-hati pada Pandu. Pandu mengangguk, lalu melajukan motornya.
“Jangan dengerin Bunda, jadi biasa aja.” Gumam Rana pada Pandu, saat mereka sudah jauh dari rumah.
“Sudah terlanjur.” Sahut Pandu.
“Terlanjur apa??”
“Denger.”
Suasanan berubah hening. Perjalanan melewati hutan di bawah mendung, terasa lebih lambat tiba-tiba untuk mereka berdua.
#
Rana belum sempat berterimakasih pada Pandu kemarin. Karena Rana terlalu gengsi untuk melakukannya. Dia membiarkan Pandu pulang dengan meninggalkan senyum jahilnya. Berbeda dengan senyum ‘sungguhan’ yang dia temukan pertama kali saat di rumahnya. Anak itu pasti berulah lagi.
Rana ingin mengucapkannya sekarang, jadi dia memutuskan untuk mencari Pandu di kelasnya. Bukan hanya Rana yang heran dia mencari Pandu, tapi juga teman-teman di sekitar mereka. Tapi, Rana ‘Bodo amat’
“Ngapain nyari Pandu? Mau bikin ulah lagi?” Tanya Brenda, teman sekelas Pandu dengan nada skeptis.
“Sorry ya, bukan urusan kamu.” Sahut Rana membuat Brenda semakin Keki.
“Mana Pandu?” Tanya Rana akhirnya.
“Bilang dulu mau apa!” Sergah Brenda.
“Hyaduh, Lama ya, Minggir!” Seru Rana pada Brenda yang menghalangi jalannya.
“Minggir. Minggir. Emang ini jalan nenekmu??” Brenda melotot.
“Anyway, ini juga bukan jalan nenekmu kelleus.” Balas Rana. Brenda mengerang sebal. Belum pernah ada anak di sekolah ini yang berani menyentaknya.
“Mau cari gara-gara sama aku?” Brenda menggulung lengan seragamnya, siap untuk mencekik Rana.
“Aku nyari Pandu, bukan nyari gara-gara.” Sungut Rana mulai kesal. Dia mengambil langkah cepat untuk segera pergi dari Brenda, anak perempuan itu cukup merepotkannya. Namun, tubuhnya oleng saat kerah belakangnya terasa ditarik.
“Aaaaaak!!” teriak Rana, namun tubuhnya ternyata tidak sampai lantai. Dia melirik Pandu yang memegangi punggungnya. “Ah sial”
“Kamu beruntung kali”. Sahut Pandu terkekeh sambil membantu Rana berdiri tegak. Rana menatap Pandu dan Brenda bergantian sama sebalnya. “Ada apa nyari? Kangen ya?” Ledek Pandu. Mata Rana spontan melotot.
“Idih, GR gila.” Rana berkacak pinggang.
“Terus, apa?” Tanya Pandu. Brenda yang masih berada di antara Pandu dan Rana menatap bingung.
“Mau...eemm..mau...eemm...” seketika mulut Rana kelu. Dia menggaruk-garuk dahinya. 
“Mau nggak ndu jadi pacarku?” dengan wajah Jahil Pandu menatap Rana, Rana melotot. Wajah jahil itu berubah sok melankolis, “Tapi Sorry ya Ran, Ak...”
Bruuugh!
Belum selesai Pandu bicara, Rana sudah menendang tulang kering Pandu dengan sepatu boots-nya. Salah sendiri ngomong sembarangan.
“Sorry ya Ndu, bikin kecewa. Aku nggak akan ngomong gitu. Aku Cuma mau bilang makasih buat kemarin,” Cerocos Rana, Pandu masih memeluk kakinya yang ngilu. “Bye!”

Rana segera pergi dari sana sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan, karena tiba-tiba udara berubah panas. Entah karena dia gugup atau karena tatapan anak-anak lain ke arahnya. (bersambung)

Sabtu, 21 Januari 2017

BESTENEMY : The Most annoying people in the Rana's World is Pandu

Credit picture by : Pinterest, Angeul Cheung
“Jika Tuhan mengijinkan manusianya untuk membunuh manusia lain, maka dengan senang hati, aku akan membunuh anak laki-laki itu!” Rahang Rana mengeras, matanya melirik culas pada Pandu, cowok paling menyebalkan dalam hidupnya. Cowok itu sedang mengolok-ngoloknya di kejauhan, menjulurkan lidah dengan mata lebar, setelah memasukan kodok dalam tasnya. Rana meremas kepala kursi erat-erat. Kodok adalah makhluk yang paling dia hindari, dan anak laki-laki itu memasukan ke dalam tasnya tanpa merasa berdosa. “Sialan!”
   “Sabar Ran, Sabar.” Tama berusaha menenangkan Rana yang sudah hampir menghancurkan kepala kursi. Kayu yang sudah rapuh itu bisa saja remuk karena tenaga berlebih dari telapak tangan Rana.
   “Dia itu sengaja Tam! Sengaja!” Geram Rana. “Tuuuuh Kodoknya masih ada, cepat keluarin!” Jerit Rana. Tama yang juga takut kodok hanya melompat-lompat gelisah, antara mengambil kodok atau lari saja.
   “Itu Kodok Ran..”
“ Iya aku Tahu! Makanya aku suruh kamu ngeluarin dari Tas!!” Rana memekik, dia kadang sebal dengan tingkat kelemotan sahabatnya yang sebelas dua belas dengan hape cina.
“TAMA!AMBIL!!!” Perintah Rana saat sang kodok mulai lompat-lompat keluar tas mendekatinya.
“Biarin aja deh Ran dia keluar, nanti tinggal digusur pake sapu!!!”
“Masalahnya Kodoknya lompat ke aku!” Rana menatap ngeri Kodok yang mendekatinya. “TAMAAAAAAAA!!!”
BRuugh!
Rana terkapar dilantai, tidak sadarkan diri dengan kodok sedang melompat-lompat diatasnya. Mata Tama melebar melihat Rana yang sudah tidak bergerak.
“RANAAAAAA! Jangan tidur di situ!!!!!”
#
Rana berakhir di UKS. Dengan bantuan Nata, sang ketua kelas yang menggendongnya hingga UKS, kata Tama. Tama duduk di sebelah Rana yang sedang gemetar di ranjang UKS. Dia sudah duduk lebih dari 30 menit, namun Rana masih saja gemetar sejak sesaat setelah bangun.
“Aku nggak bisa maafin dia kali ini!” Gumam Rana dengan nada gemetar. Tama tidak tahu pasti bagaimana ekspresi Rana, namun melihat anak perempuan itu mencakar-cakar tembok, dia pasti menganggap tembok itu Pandu dan sedang kesal setengah mati. Tama memutar bola matanya.
“Ini bukan pertama kali kamu ngomong begitu.
“Pokoknya aku nggak akan maafin dia.” katanya lagi dengan suara lebih kejam dari sebelumnya.
“ Ya kamu sih Ran, pake acara masukin kecoa di sepatunya, dia pasti balas dendam ke kamu.” Tama mengingat Pandu yang juga langsung pucat begitu menginjak kecoa di sepatunya. Tama juga ingat, pandu langsung membuangnya ke tempat sampah dan membakarnya di tong. “Kalau kalian gini terus, sampai kiamat juga nggak akan ada perdamaian.
“ Aku harus balas dendam. Gumam Rana pada dirinya sendiri.
“Gitu aja terus sampai kiamat.
“Pokoknya, aku akan membuat dia kapok untuk berani ketemu apalagi ngerjain aku lagi.” Ulang Rana kali ini pada Tama. Dia memutar tubuhnya dan melihat Tama lekat-lekat. “Kalau ngeracun orang, dosa nggak?”
“Whatever lah, betewe ya…” Tama menatap langit-langit sembari berfikir, “Itu sepatunya si Pandu sayang juga dibakar, dia pulang terus pakai apa?”
“Bodo amat.
“Bener-bener sayang sekali.Tama masih memasang wajah berduka. Seolah yang dibakar pandu adalah sebuah ferarri.
Rana memilih diam. masa bodo dengan sepatu reebook yang dibakar di tong sampah oleh Pandu. Sepatu-sepatunya sendiri. Itu gara-gara Pandu, mengambil buku PR miliknya hingga Rana harus meresume buku setebal 5 centi. Buku sejarah, Mahabarata yang sama sekali tidak disukai Rana. Rana membenci pelajaran sejarah, karena kemampuannya memahami sesuatu yang tidak visual sangat butuh pemakluman.
“Terus, kita mau pulang kapan??” Tanya Tama yang satu kos dengan Rana. Dia sudah lapar, sangat lapar.
Rana menatap Tama penuh harap.
“Kodoknya udah diusir belum?”
“Udah, Nata tadi yang buang. Sahut Tama santai.
“Sungguh?”
Tama mengangkat dua jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V Suwer,Demi kodok”
“Kok demi kodok sih?”
“Bodo ah, Yuk Ran pulang.
“Bentar, lima menit lagi” Rana harus menghilangkan kepanikan, yang membuat tubuhnya dingin menggigil. Baru dia akan pulang.
#
Ran, Ayah sakit. Kamu kapan pulang?” Suara sendu yang dirindukan Rana terdengar mengiris hati. Rana seketika melonjak dari ranjang tidurnya.
“Sakit lagi Bun? Kok bisa sih? Ayah habis ngapain lagi?” cerocos Rana pada ibunya. Rumahnya berada di desa yang cukup jauh dengan kota, butuh waktu 2 jam naik motor. Karena rumahnya di desa, tidak ada SMU disana, jadi Rana bersekolah di kota dan tinggal di kamar kos yang sama dengan Tama.
“Rana pulang ya,” Pinta Rana. Lututnya sudah gemetar, dia takut terjadi yang  tidak-tidak pada ayahnya. Ayahnya memang memiliki sakit Diabetes sejak lama, namun dengan menjaga kondisi serta mengkonsumsi makanan yang sesuai anjuran dokter, kesehatannya tetap terjaga.
“Jangan Ran, Ayah sudah nggak apa-apa, kata pak mantri dia hanya kelelahan . Tapi, semisal kamu bisa pulang, tidak apa-apa, soalnya, nggak ada yang bisa jemput kamu.”
“Nggak apa-apa, pokoknya Rana akan cari cara untuk pulang, Rana mau ketemu ayah.” Tekad Rana, dia tidak akan tenang sebelum dia bertemu ayahnya.
“Yaudah, kalau bisa, akhir minggu saja pulangnya,”
“Iya bun,”
“Yaudah, jangan lupa jaga kesehatan, rajin belajar, dan sholat”
“Iya Bund”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Jantung Rana masih belum berdetak stabil, membayangkan ayahnya terbujur di ranjangnya sambil merindukannya. Rana adalah anak bungsu, perempuan satu-satunya. Semua kakak-kakaknya laki-laki dan mereka berkuliah di Malang dan Jogjakarta. Sebagai anak yang paling kecil dan dekat, Rana adalah anak kesayangan ayahnya.
Beberapa menit berikutnya, handphonenya kembali berdering. Ada nama “Telolet” di layarnya, Rana ragu untuk mengangkatnya atau tidak. Tapi, karena dia sedang tidak dalam kondisi yang baik, Rana memilih untuk tidak mengangkatnya. Telolet adalah nama yang dia berikan pada Pandu, ya, karena dia berisik.
Tidak ada hal yang bisa anak laki-laki itu lakukan selain mengganggunya, menelpon tidak jelas dan kadang hanya untuk membuat Rana kesal. Pernah di suatu siang, saat Rana tertidur pulas, Pandu menelpon.
“Woy, Ran, ngapain ?”
“Tidur”
“Oh, yaudah lanjutin”
“Jadi, kamu nelpon Cuma nanya itu?”
“Iya, bye”
Siang itu berakhir dengan Rana hampir membanting handphonennya sendiri, karena tidur siangnya sukses terganggu. Padahal, bagi Rana tidur siang adalah kewajiban yang tidak boleh dilewatkan. Untuk tetap mengkondisikan kepalanya baik-baik saja, dan mencegah stress. Tapi rasanya, selama Pandu masih hidup, tidur siang tidak membantu sama sekali.
Rana membanting tubuhnya ke ranjang lapuk yang spreinya baru diganti. Ibunya jauh-jauh datang seminggu lalu, hanya untuk mengganti Sprei. Sungguh ibu yang lur biasa.
Rana mencoba memejamkan mata meski sulit, karena pikirannya masih melayang pada Rumah. Rana rindu Ayah.
#
Hari ini, Rana memutuskan untuk tidak sekolah. Dia bolos. Dia harus pulang. Semalaman dia tidak bisa tidur kepikiran Ayah. Apapun yang terjadi dia harus bertemu dengan ayahnya. Ayahnya sudah sakit sejak dua tahun lalu, Rana benar-benar takut kalau kondisi ayah akan memburuk. Bunda juga tidak memberitahu lebih detail, semakin membuat Rana gelisah.
Rana sudah menitipkan surat sakit palsu keterangan dokter sebelah kos, pada Tama. Meski agak berat hati, Tama menyanggupinya. Untung dokter sebelah kos orangnya cukup baik dan mau mengerti kondisi Rana. “Salam buat ibu dan bapak ya Ran.” Kata Tama sebelum berangkat sekolah. Rana mengangguk.
Rana mengambil jaket di belakang pintu, mengenakannya dan memastikan dirinya siap. Rana menghela nafas pendek, sebelum akhirnya memantapkan hati untuk membuka pintu dan mencari ojek.
“Bolos ya?” Rana nyaris melonjak begitu melihat Pandu ada di depan kamar kosnya. Anyway, ini pukul 06.40 yang artinya bel masuk 5 menit lagi. Rana masih mengatur detak jantungnya yang berdegub lebih kencang, karena kaget.
“Kamu sendiri, ngapain kesini?” Tanya Rana dengan menunjukan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Pandu.
“Nyari kamu,” Sahutnya enteng, matanya menyapu pandang penampilan Rana. “Mau kemana? Bolos ya? Sama pacar? Hayo!” Pandu menunjuk-nunjuk Rana.
“Anyway, bukan urusan kamu” Sahut Rana dengan mata menyipit. Terlalu lama menunggu Pandu pergi, Rana mengunci pintu lalu melangkah melewati Pandu.
Tangan pandu mencengkeram lengan Rana, membuat Rana nyaris terjatuh karena tidak ketidaksiapan berhenti tiba-tiba.
“Pandu! Apa-an sih?” teriak Rana tidak suka.
“Aku kesini, soalnya kemarin kamu tidak mengangkat telponku” kata Pandu datar.
“Bodo amat. Lagian, pasti nggak penting banget,” Rana memutar bola matanya. Tapi Pandu tidak segera melepas lengannya, “Sorry, aku nggak punya waktu, kenapa juga aku harus repot-repot ngangkat telepon kamu.” Rana berusaha melepaskan genggamannya yang sepertinya semakin erat.
“Mau kemana?”
“Rahasia” sahut Rana sambil berusaha melepas tangan Pandu dari pergelangan tangannya.
“Mau kemana?” Ulang Pandu. Rana menghela nafas, kesal. Sepertinya pertanyaan ini nggak akan berakhir kalau tidak dia jawab dengan benar.
“Pulang,” Sahut Rana akhirnya. “Ayah sakit.”
“Naik apa?” Tanya Pandu lagi. Entah, anak ini kesurupan apa, Rana ingin tahu, tapi tidak punya waktu untuk bertanya.
“Ojek.” Rana meniup poninya, berharap tangannya segera dilepaskan dan dia bisa nyari Ojek untuk pulang. Namun, bukanya melepaskan tangan Rana, Pandu malah menariknya.
“Hey!!” pekik Rana yang bisa membuat kucing di sebelahnya terjingkat.
“Aku anterin.”
“Emangnya kamu nggak sekolah?”
“Enggak.” Sahutnya enteng. Rana berlari kecil, kemudian melompat dengan satu kaki untuk menjitak kepala Pandu. Otomatis tangannya terlepas karena Pandu memegang kepalanya.
“Apa sih?”
“Kamu, mau aku diomelin gara-gara bolos sekolah??Huuuh?” Rana melotot. Pandu menatap Rana tidak mengerti.