Rabu, 23 Desember 2015

Gadis Berpayung


“ Selamat pagi Senta”. Sepasang mata bulat berbinar-binar setiap kali mengucapkan kata-kata itu. dan aku selalu membalasnya dengan mata menyipit. Kalau ada orang yang paling ingin aku hindari di dunia, itu adalah dia. Gadis bermata bulat, dengan rambut ikal pendek yang diikat sembarangan.
Dia selalu datang tepat pukul 6 pagi, dengan baju pendek selutut berwarna putih, tas kecil dan sepatu yang sama, setiap hari sambil membawa payung berwarna pelangi, padahal ini musim panas yang jarang hujan. Aku sempat berfikir, kalau dia memiliki sejenis gangguan mental. Aku rasa orang waras tidak akan melakukan apa yang sedang dia lakukan pada orang yang tidak dikenalnya. Seperti ini misalnya, muncul di depan rumahku dan menyapaku setiap pagi. Yang masih menjadi misteri, bagaimana dia tahu namaku?
Aku bergeser selangkah kekanan lalu mengambil ruang kosong untuk melewatinya, Pagi ini ada ulangan fisika, aku tidak cukup punya waktu untuk meladeni anak aneh yang lebih mirip pasien rumah sakit jiwa. Aku mempercepat langkah kakiku, aku tidak mau konsentrasiku buyar ketika aku belajar di dalam bus. Dari kejauhan, bus yang akan mengantarku datang, aku mempercepat langkahku dengan berlari, berharap gadis di belakangku tidak cukup cepat untuk mengejarku.
Hap!
Aku berhasil menapakkan kaki di atas bus tepat ketika bus mulai melaju, meninggalkan gadis aneh itu, di halte yang sedang menatapku kecewa di bawah payung. Sebelumnya, dia pernah mengikutiku sampai naik bus dan cukup menggangguku dengan menempeliku seperti koala. Dan terror ini, tentu tidak berakhir di sini.
Jovan celingukan ke belakangku, aku tau apa yang dia cari. Anak gadis aneh itu. “ dia nggak ikut?”. Tanya Jovan masih mencari-cari gadis berpayung, yang selalu mengikutiku sampai di sekolah, kurang mengerikan apa coba?. Jovan adalah teman baikku, teman sebangku. Dan jujur saja satu-satunya teman yang aku punya sekarang. Aku tidak suka bergaul, karena menurutku punya satu teman baik sudah lebih dari cukup. Aku tidak cukup punya banyak waktu untuk bergaul dengan yang lain, aku hanya ingin menghabiskan waktuku untuk belajar, ujian nasional sebentar lagi, aku tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku dan Andara. Hatiku berdesir mengingat nama itu.
“ besok seratus harinya Andara, kamu datang kan?”. Tanya Jovan, membuat aku kembali teringat gadis itu. Gadis manis pemilik senyum tercantik yang aku kenal. Andara Herdyta, dia juga temanku. Aku, dia dan Jovan adalah teman baik. Kami selalu kemana-mana bersama, Andara adalah sosok yang ceria, menyenangkan dan selalu ada buatku. Sandaran terbaik dan pendengar yang tak pernah bosan. Juga, pendukung yang setia.
“ lihat besok deh”. Sahutku sambil berjalan cepat menuju kelas, sengaja menghindari Jovan. “ aku masih belum menghafalkan rumus penerapan”.
“ Andara bakal sedih kalau kamu nggak datang lagi, empat puluh harinya kamu sudah tidak datang, masa sekarang kamu tidak datang lagi?”. Seloroh Jovan yang membuat jantungku seperti jatuh ke perut mendengar kata-katanya. Aku bukan tidak mau datang, aku hanya belum sanggup melepaskan gadis itu. Gadis yang saat ini memenuhi seluruh hidupku, hatiku dan otakku. “ Senta,...aku juga berat melepaskan Andara, tapi tolong,…untuk terakhir kalinya, biarkan dia pergi dengan tenang, jangan halangi dia seperti ini”. Cerocos Jovan. Aku tahu, mataku mulai berkaca-kaca, setengah mati aku berusaha untuk tidak menangis. Aku sudah berjanji untuk tidak akan menangis.
“ Van, aku harus belajar, jangan ganggu dulu, tolong”. Kataku untuk menghentikan Jovan yang terus nyerocos. Aku membuka buku fisika tebal yang penuh dengan coretan tangan Andara. “baiklah,..”. sahut Jovan pasrah. “anyway,.kamu sadar nggak sih? Kalau anak perempuan itu mirip Andara?”. Tanya Jovan yang berhasil mengalihkan perhatianku dari gambar kartunku yang di gambar oleh Andara.
“ Van, jangan ganggu konsentrasiku, tolong”. Pintaku. Aku tidak berfikir sama dengan Jovan. Andara bukan gadis sinting seperti anak perempuan itu.
“ oke baiklah,…”. Sahut Jovan akhirnya.
Jovan membuat konsentrasiku sukses pecah. Pikiranku jadi melayang pada gambar-gambar di tembok rumah yang digambar gadis itu dengan lancangnya. Beberapa kali aku mendapatinya sedang mencoret-coret tembok depan rumahku dan aku menghardiknya dengan kasar. Bukannya pergi, dia malah tersenyum. Gaya berjalannya, yang sedikit melompat-lompat sambil bersenandung, mirip seperti yang biasa dilakukan oleh Andara. Pernah di suatu pagi, hujan deras. Aku pikir dia tidak akan datang, dia malah menari di bawah hujan dengan payungnya, sama seperti yang dilakukan Andara, dia sangat menyukai hujan. Aku segera menggeleng, aku tidak mau menyamakan Andara dengan gadis aneh itu.
Aku menyipitkan mataku menatap gerbang, lagi-lagi gadis itu ada di sana. Sudah ku bilang teror ini tidak akan berhenti sampai halte, dan sudah aku bilang dia sangat mengerikan bukan?. Dia sedang duduk di lantai dengan cueknya sambil memegang payung, tidak peduli rok dari baju putih yang dia kenakan terkena lumpur. Aku mendengus sebal. Sampai kapan gadis itu akan terus melakukan hal ini. Menerorku seperti ini? Sampai detik ini aku tidak tahu alasan mengapa dia membuntutiku seperti ini.
aku ingin mengabaikannya saja, tapi pikiranku berubah begitu melihat beberapa anak mengganggunya. Wajahnya terlihat ketakutan ,tangannya memeluk payungnya erat. Kali ini aku mendengus sebal pada diriku sendiri, haruskah aku peduli tentang ini?
“ sorry, dia adikku”. Kataku di belakang empat anak laki-laki yang sedang mengganggunya. Aku menghela nafas pendek. Menyesal keputusanku untuk mendatangi gadis ini. Aku yakin setelah ini, dia akan memelukku gembira. Empat anak laki-laki itu tampak enggan padaku karena aku kakak kelas, lalu pergi setelah minta maaf. Benar, gadis itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“ tolong, jangan pernah datang kesini lagi, jangan menggangguku,…mungkin kamu pikir, kamu mengenalku, tapi sungguh aku tidak mengenalmu, sepertinya kamu salah orang”. Kataku panjang lebar, sepertinya aku harus mengatakan ini agar dia mau mendengarku dengan baik. Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Oh please, aku benci tatapan itu. Dia mengingatkanku pada tatapan Andara, ketika aku mengabulkan keinginannya.
“ terima kasih, senta…”. Ujarnya yang lebih terdengar seperti hembusan udara, tanganya meremas-remas payung. “ aku suka kamu”. Sambungnya. Aku mengerutkan dahi, tidak mengerti. Seorang gadis asing yang tiba-tiba menyatakan ‘suka’ padaku.
“ sorry,…”. Lirihku pelan. Aku tidak mau repot-repot berfikir untuk menjaga perasaannya. “ mulai sekarang jangan ganggu aku lagi!, kamu aku tolak”. Hardikku. Aku segera melangkahkan kakiku menjauh, dan gadis itu berusaha membuntutiku. Aku mempercepat langkah kakiku, kemudian berlari. Berharap, besok aku tidak melihatnya lagi.
“ anak yang kemarin bawa payung nggak datang?”. Tanya mama, dia sedang mengintip jendela. Aku tidak tahu, mengapa dia menanyakan gadis itu.
“ mana aku tahu ma”. Aku menghendikan bahu dan bersiap mengenakan mantel hujan, karena di luar sedang hujan deras. Mama menatapku penuh arti. “ ada apa?”. Tanyaku heran dengan tatapan mama. Mama menoleh keluar dan aku bergantian.
“ kemarin, orang tuanya kesini”. Tutur mama hati-hati, ada kecemasan dari nada bicaranya. Aku mengerutkan dahi. Mama menghela nafas sebelum bercerita. Gadis itu bernama Tara. Dia kecelakaan tiga bulan lalu, dia mengalami pendarahan parah. Namun, gadis itu selamat berkat transplantasi sum-sum tulang belakang. Aku mendengarkan cerita mama dengan seksama. “…dan pendonor sum-sum tulang belakang itu adalah Andara, karena operasi itu, gadis itu jadi hilang ingatan, dan orang yang selalu dia sebut adalah kamu…Senta”. Jantungku sepertinya sudah jatuh ke perut. Lututku gemetar.
“ hah? Apa?”.  Aku melongo tak percaya.

“ makanya kemarin, orang tuanya datang untuk menjelaskan, agar kita tidak salah paham,…dan sekarang dia dalam masa penyembuhan”. Imbuh mama. Entahlah, aku sepertinya kehilangan isi kepalaku. Otakku terasa hampa. Aku berlari ke depan pintu, melihat coretan-coretan yang pernah digambar gadis itu di tembok. Potongan ingatan tentang Andara dan gadis bernama Tara bergantian muncul di kepalaku. Gambar-gambar  itu menunjukan hal-hal yang aku sukai dan gambar-gambar wajahku dalam berbagai ekspresi . Sekarang aku mulai tahu, bagaimana dia tahu namaku dan tahu alamatku, karena Andara hidup dalam tubuh gadis itu. Aku tersenyum di bawah Hujan. Dan tidak sabar ingin bertemu dengan gadis bernama tara.

Selasa, 22 Desember 2015

THANK YOU SO MUCH 2015, FOR INCREDIBLE YEAR



terima kasih banyak,...
tentang begitu banyak pelajaran yang kamu hadirkan, moment-moment berharga, moment-moment menyakitkan dan pendewasaan.

2015,..
aku belajar tentang bagaimana bertahan pada keputus asaan. Aku belajar untuk menyikapi apa yang tidak bisa aku hadapi. Aku belajar bagaimana untuk berani memilih jalanku sendiri,..bisa dibilang aku belajar menjadi egois. Darimu aku belajar, memikirkan orang lain itu perlu, namun memikirkan kebahagiaan orang lain dan mengorbankan perasaanmu adalah kesalahan. Karena pada akhirnya mereka akan tetap terluka,..
melukai orang lain itu perlu, lalu membiarkan mereka menangis kemudian bangkit menjadi pribadi mereka yang lebih baik,.begitupun denganku.
2015,..
aku belajar bahwa tidak ada manusia yang benar-benar ingin mejadi jahat, seperti aku yang tidak ingin menyakiti orang lain, namun aku membuat banyak orang terluka. Aku berlajar tentang, bahwa kadang tuhan menjadikanmu orang jahat sebagai perantara saja, sama seperti ketika kamu menjadi orang baik untuk membalas kebaikan orang tersebut yang pernah mereka lakukan untuk orang lain. Karma? anggap saja begitu. Bagaiman ketika kamu berusaha melawan, kamu semakin menyakiti dirimu sendiri..
2015,..
mengajarkan bahwa yang terpenting di dunia ini bukanlah Harta, Tapi ketenangan Jiwa. Memiliki semuanya tidak menjadin kamu bahagia seutuhnya. Ketenangan Jiwa dan kebahagiaan yang nyata, hanya bisa kamu peroleh ketika kamu ikhlas...
2015,..
aku belajar tentang arti melepaskan, Kadang jika beban dipundakmu sudah terlalu berat untuk tetap kamu pertahankan, Maka lepaskanlah..
2015,..
aku belajar tentang perpisahan, belajar tentang cinta...
2015,..
Aku belajar tentang syukur dengan sederhana, begitu banyak hal yang Tuhan beri dan kadang aku lupa mensyukurinya,..Salah Satunya, ketika Tuhan begitu banyak menghadirkan orang-orang baik dalam hidupku ketika aku harus sendiri. Tentang malaikat yang sengaja Tuhan kirim, seolah Dia takut aku kesepian..
2015,..
aku belajar tentang berbagi, bahwa apa yang kita punya tidak seharusnya disimpan sendiri, rezeki tidak melulu tentang Uang, tapi teman Baik juga Rezeki bukan?
2015,..
aku belajar tentang melihat Manusia, Mana yang tulus dan mana yang tidak. Aku yang terlalu kalut dengan diriku sendiri, dan akhirnya bingung membedakan malaikat berwajah Iblis atau iblis berwajah malaikat, lalu memutuskan menjadi manusia saja untuk manusia lainnya, tanpa perlu berfikir apakah mereka baik juga pada kita atau tidak.
2015,..
aku belajar tentang patah hati yang sesungguhnya,...
mempelajari tentang Gejala dan rasa sakitnya lalu merekam di otakku, bukan untuk membalas dendam, hanya untuk pelajaran agar aku tidak mematahkan hati orang lain.
2015,..
aku belajar tentang kerja keras, tentang usaha dan berjuang, agar aku tidak lagi mudah putus asa...
2015,..
Aku belajar tentang berteman, teman yang baik tidak melulu berkata baik, kadang mereka motivasi dengan melukai hati kita, itu bukan karena mereka ingin menyakiti kita, namun menjadikan kata-kata mereka sebagai cambukan agar kita lebih kuat.
2015,..
Ada phobia yang aku simpan, dan berharap aku bisa mengatasinya di tahun 2016..
2015,..
begitu banyak petualangan, hal-hal menakjubkan, seolah Tuhan sedang mengalihkan pikiranku dari hal buruk pada hal baik,..
2015
Terima kasih atas segala Tangis dan tawa..

2016,..aku menunggu petualangan selanjutnya dalam hidupku :)

Hai Nata, aku berharap 2016, petualanganku masih tentang kamu.

Rabu, 02 Desember 2015

Surat Untuk Nata : Mirror




Aku patah hati lagi, patah hati yang kesekian kalinya padamu. hey Nata, apa gerak-gerikku membuatmu ngeri padaku? Seperti aku yang selalu ngeri pada laki-laki baik yang menyukaiku. Apa aku terlalu baik untukmu dan kamu merasa tidak cocok untukmu yang tidak baik?

Nata, sama sepertimu, aku tidak bisa jatuh cinta pada orang baik, aku selalu jatuh cinta pada orang yang bermasalah. Pada  si Tito, seorang anak broken home. Pada si playboy Daren atau pada si anak kecil berandal Aris.

aku jadi teringat tentang temanku yang pernah jatuh cinta padaku. Dia anak yang baik dan manis. Sikapnya tidak pernah melenceng dari kebaikan. Tuturnya lembut dan lucu. Dia teman baikku yang selalu ada ketika aku butuh pertolongan, dan aku masih berteman dengannya sampai sekarang. Dia anak laki-laki yang tahu segala hal tentangku, bahkan tentang hal terburuk dalam hidupku, dia tempat curhat yang baik, yang tidak menghakimi dan pemberi solusi dengan cara yang lembut. Kamu tahu, aku adalah anak perempuan pertama yang diboncengnya naik motor. hahaha, Benar, dia anak laki-laki yang sangat lugu.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya dia menyukaiku. Dia bilang, dia jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama. Sama seperti aku jatuh cinta padamu di pandangan pertama. Yang aku ingat, awal aku berteman dengan dia ketika kita sama-sama tidak punya kelompok kerja. Dan kita satu kelompok. Dia bercerita tentang dirinya dan keluarga yang memiliki usaha Roti, dan aku salah satu pengagum roti buatan keluarganya, sejak saat itu kita menjadi teman. Hanya itu yang aku ingat.
Dia sangat tahu bagaimana jatuh dan bangunnya hidupku. Bagaimana aku bergaul dengan teman-teman yang dianggap cupu, dan bagaimana aku patah hati lalu bangkit dan kemudian patah hati lagi.

Aku tahu dia menyukaiku, ketika aku kuliah di pertengahan semester, sekitar semester 4. Ketika aku dekat dengan seseorang. Dia membuat sebuah pengakuan kalau dia jatuh cinta padaku sejak kelas satu SMA. Dia bercerita bagaimana dia selalu mencariku di sela-sela anak-anak lain. Dia bilang, cukup sulit menemukanku karena ukuran tubuhku yang pendek, dan betapa bahagianya dia ketika bisa menemukanku diantara kerumunan. Setiap hari, dia tidak pernah melewatkan untuk tidak melihatku di kelas yang berbeda dengan kelasnya. Dia bilang, kalau semua anak tahu kalau dia menyukaiku selain aku sendiri yang tidak sadar. Aku bertanya apa yang membuat dia jatuh cinta padaku, katanya mataku tersenyum setiap kali melihatnya. Dan kalau kamu bertanya apa yang membuatku jatuh cinta padamu, cari saja aku, aku akan menjawabnya langsung di depanmu. :p

Nata, aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa jatuh cinta pada laki-laki sebaik itu. Laki-laki yang bahkan rela berangkat ke jogja untuk menghampiri aku yang sedang berjalan-jalan sendirian di sana, dan akhirnya aku pulang duluan ketika dia baru sampai di Jogja, yang sampai detik ini dia ungkit sebagai kesalahan fatalku. Laki-laki yang datang malam-malam, karena aku ngambek, ke tempatku bekerja yang berjarak lebih dari 20 km dari  tempatnya , setelah dia selesai bekerja. Anak laki-laki yang selalu mengambil gambarku dengan lensanya, yang menjadikan aku modelnya.

ini seperti cermin bagiku, bagaimana aku mencintaimu dan bagaimana aku dicintai. Apakah kamu melihatku sama seperti aku melihat temanku yang sedang jatuh cinta padaku? 

Aku senang, karena sampai detik ini, setelah apapun yang terjadi padaku, meskipun aku menjadi wanita bermasalah yang di benci olah dunia, dia tetap menjadi temanku. Dia tetap menjadi orang yang selalu mendengarkanku, mendengarkan ocehanku, tempat aku melampiaskan amarah dan tempat aku ingin mengutuk. yang bahkan ada disaat aku kelaparan. Yang tidak rela meninggalkan aku sendirian naik bus. Dia masih temanku yang masih sangat baik.

Nata, haruskah aku membuka hatiku untuk dia saja? Atau haruskah aku tetap menunggumu?

Iya kamu, yang bilang mau mengajakku piknik, kamu yang ingin aku peluk erat.
haruskah Nata?