Selasa, 24 November 2015

FIKSI MINI : Di ujung Senja




Di ujung senja, matahari masih menampakkan dirinya. Namun matahari terbenam kali ini tidak sesempurna biasanya, bercak-bercak awan menutupi separuhnya, membuat sorotan cahaya jingga menyemburat keatas seperti sorotan lampu pijar.
Di sebuah dermaga kayu yang terpasang di sisi danau, shero mencelupkan kakinya  sampai di bawah lutut kedalam air, seraya menatap detik-detik perpisahannya dengan matahari. Menatap kosong semburat jingga itu dari balik gunung di seberang sana. kabut putih mulai menghiasi permukaan danau, dingin segera menyeruak ke dalam pori-porinya yang tak tertutup kain tebal.
Shero menarik nafas perlahan sambil menutup mata, lalu menghembuskan nafasnya lelah. Dia berusaha untuk melepas keluh dan sesak di paru-parunya. Dia ingin menangis, tapi dia seolah lupa caranya, jadinya dia hanya bisa merengek sebal pada dirinya sendiri.
“ apa yang harus aku lakukan?”. Shero memiringkan kepalanya dan menjatuhkannya pada bahu yang selalu ada di sampingnya. “ kenapa aku selalu membuat masalah, aku tidak bisa mempercayai kata hatiku sendiri”. Rengeknya lagi , masih dengan mata terpejam. Dia bisa merasakan bahu tegap nan hangat yang selalu dia gunakan untuk bersandar. 
“ kita cari tahu alasannya nanti”. Ujar suara lembut dari pemilik bahu tegap. “ mereka hanya tidak mengerti apa yang kamu rasakan dari sudut pandangmu”.
“ kenapa yang aku lakukan selalu salah?”. Tanya shero dengan rengekan yang lebih keras, tapi dia tetap tidak bisa menangis.
“ tidak ada yang salah sher, semua orang memiliki perannya masing-masing. Mungkin tuhan sedang menggunakanmu sebagai cobaan untuk orang lain”. sahutnya kalem, diiringi senyum kecil yang tak kasat mata tapi terdengar di telinga shero.
“ kenapa aku?”.
“ ya, karena kamu yang mampu melakukannya”. tuturnya kalem. Shero menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air. Merasakan sensasi dingin di telapak kakinya. “sudah, cepat pulang sana. mataharinya sudah habis”. Ujar suara renyah itu.
Shero memanyunkan bibirnya lalu mulai membuka mata, dan benar sang matahari sudah tinggal bercak jingga, menghilang bersama pemilik suara renyah barusan.

Shero mendesah pelan, lagi-lagi dia berhalusinasi. Halusinasi yang terasa nyata. Entah berapa kali sebulan terakhir semenjak shero mendatangi tempat ini shero mengalami kejadian serupa. Makanya dia sering datang kesini, setiap sore hari untuk sunset. Lalu berbicara dengan halusinasinya. Shero tersenyum melihat matahari yang sudah terbenam penuh meninggalkan berkas ungu, tanpa ada perintah, air matanya jatuh begitu saja.

Jumat, 20 November 2015

Cerpen : Good bye, Stranger.

“pagiiiiiiiiiiiiii….”. 
 Suara cempreng itu, selalu sukses menghancurkan pagiku setiap hari. Setiap kali mendengarnya, aku ingin lari secepatnya. Kalau bisa aku pengen punya kekuatan super yang bisa membuatku menghilang begitu saja. Tapi percuma saja, toh dia akan berlari mengejarku kemanapun aku pergi.
Sama seperti pagi ini. Gadis itu melambaikan tangannya padaku dengan ceria di jarak 5 langkah di depanku. Memekikan suara yang tidak merdu, malah mengganggu. Aku memilih pura-pura tidak melihatnya dan mengabaikannya sebisaku.                                                     
Namanya audrey, cewek ternorak yang aku ‘tau’ bukan aku ‘kenal’ selama 2 tahun ini di SMA. Aku tau namanya ,itupun saat teman-temanku menggodaku tentang tingkah lakunya yang selalu menempel padaku. Berkat dia semua anak mengira dia adalah pacarku, bahkan aku tidak bisa mendekati cewek-cewek yang aku suka gara-gara tingkahnya.
Aku masih mengabaikannya. Berjalan tenang seolah tidak mendengar apa-apa. Pura-pura tidak mendengar ucapan ‘selamat pagi’ yang dia teriakkan berulang-ulang. Aku bisa melihat anak-anak lain yang mencibirku dan menertawaiku berkat hal ini. Aku mendesis dalam hati.
Aku tidak menoleh sama sekali saat melewatinya. Agar dia sadar, aku mengbaikannya. Tapi, tentu saja tidak semudah itu. Sekarang dia malah melompat menghampiriku dan mengelilingiku dengan riangnya. Seolah aku adalah api unggun dan dia penari pengundang hujan. Aku meliriknya tak suka.
“selamat pagi! Selamat pagi! Selamat pagi!”. Serunya riang. Aku tidak tau dia sarapan apa setiap paginya, soalnya dia selalu tampak kelebihan nasi, melompat-lompat dengan riang, apa dia pikir dia kelinci? Dengan kuncir yang sudah mirip menara eiffel, dia lebih mirip anak sd dari pada anak SMA kelas dua. Dia selalu melakukan hal sama setiap pagi, meneriakiku, mengangguku, semacam itulah yang selalu aku abaikan. Tapi dia tidak juga berhenti melakukannya. 
Aku menghentikan langkahku lalu berbalik. Aku sudah tidak tahan lagi, dan dia nyaris terjengkang saat aku berhenti tiba-tiba. Dia terseyum dengan riang menatapku seperti anjing menatap tulang seandainya dia menjulurkan lidahnya. 
Entahlah apa yang dia harapkan dariku.
“ bisa nggak sih kamu jangan ganggu aku?!”. Pekikku dan melototinya kesal, melototinya lurus agar dia mengerti dengan cepat maksudku.
Dia melongo membekap mulutnya dengan matanya terbelalak menatapku. Aku mengernyit melihat tingkahnya itu. Mungkin dia pikir aku keterlaluan padanya. Biarlah aku tidak peduli. Aku bisa melihat air matanya yang mulai mengembung. Aku menahan diri agar tidak meredupkan tatapanku.
Aku lelah dengan terus mengabaikannya dan membiarkannya berkeliaran di sekelilingku. Selama ini aku diam karena aku malas meladeni dia, sepertinya dia pikir aku mau jadi temennya. Ogah. Aku membenci cewek norak yang mengerikan ini. Dia selalu menggangguku di segala hal dan dimanapun. Sekarang, aku harus bisa bersikap tegas.
Aku sudah muak dengan kelakuannya yang aneh, setiap pagi dia selalu sengaja menungguku di gerbang lalu mengangguku, di kelas dia selalu senyum-senyum nggak jelas kearahku yang membuatku risih, di lapangan saat jam olahraga, di lapangan saat upacara, di kantin, di semua lab. Dia selalu mengikutiku kemanapun dan aku tidak punya tempat bersembunyi. Makanya aku hanya bisa mengabaikannya tanpa bisa menghindar.
Hanya di kamar mandi saja dia tidak mengikutiku, tapi dia menunggu di depan kamar mandi. Kurang mengerikan apa coba? Dia selalu ada dimanapun .
Aku masih menekankan mata tajamku kearahnya, aku tidak peduli kalaupun dia akan menangis setelah ini, asal dia akan berhenti mengangguku. Tapi, aku mengernyit saat dia kembali melompat gembira.
“aaargh…Jonas ngomong sama aku..Jonas ngomong sama aku..horeeee!”. Dia bersorak dan melompat-lompat riang. Aku mendengus kesal, aku tak percaya dengan expresi gadis ini. Yang nyaris menangis bahagia setelah aku bentak. Dasar gila!
“hey!!”. Pekikku, menarik lengannya , membuatnya berhenti melompat. Memastikan dia menatapku dan memperhatikanku, aku yakin dia akan bersorak lagi setelah ini karena aku menyentuhnya. “mulai sekarang aku mohon sama kamu jangan ganggu aku lagi! Jangan deket-deket aku lagi! Jangan berkeliaran di sekitarku lagi! Kamu tuh berisik dan kamu itu penganggu. Aku nggak suka kamu deket-deket aku dengan suara cemprengmu dan sikap norakmu itu!”. Bentakku sebelum dia sempat bersorak lagi. Dia menatapku bingung. Mungkin dia sedang berfikir apa yang sedang aku katakan. Baguslah. Kalau dia mengerti semakin bagus.
Cewek itu membalas tatapanku.
“ tapi aku suka sama kamu”. Kata cewek itu polos, matanya besinar tulus. Gantian aku melongo. Aku memicingkan mataku. Sebisa mungkin aku tidak berteriak tapi tetap saja aku harus melakukannya.
“aku nggak suka sama kamu”. Tolakku sadis. Aku tidak akan memberikan harapan apapun pada gadis penganggu ini. Dia masih menatapku. Tangannya berusaha menyentuhku tapi aku berhasil menghindar.
“ kenapa?”. Tanyanya dengan nada bergetar yang sekuat tenaga dia samarkan.
“karena kamu itu mengerikan, jadi stop-berhenti ganggu aku lagi!”. Bentakku, dan berharap kali ini dia mengerti. Sekarang aku melihat matanya mengembung air yang ditahan sekuat tenaga untuk tidak jatuh. Aku sedikit merasa bersalah. Tapi aku juga tidak mau hingga masa-masa SMA-ku habis, gadis ini masih saja menggangguku, tepatnya menerorku.
Matanya tampak sedih, mata yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
“ oke”. Dia menyeka air matanya yang memaksa jatuh tapi bibirnya menyeringai. Entahlah, kali ini aku sungguh merasa bersalah. Tapi aku tidak boleh terkecoh dengan sikapnya itu atau aku akan terjebak lagi selamanya.
“ aku nggak mau lagi melihat kamu berkeliaran di sekitarku lagi, ingaat itu!”. Bentakku lagi dengan tegas tepat di depan wajahnya yang tertunduk. Lalu secepat mungkin aku berlalu meninggalkannya tanpa menoleh sekalipun.
Besoknya, dia benar-benar tidak muncul. Dia tidak ada di depan pintu gerbang dengan senyumnya dan kuncirnya yang menggelikan seperti anak kecil. Baguslah dia mengerti. Aku juga tidak berharap dia menggangguku lagi. Sama sekali enggak.
Di kelas, dia juga tidak muncul. Aku tidak melihatnya dimanapun, mungkin dia tidak masuk sekolah. Mungkin karena dia sakit pilek atau apa. Aku tidak peduli. Hari ini terasa…menenangkan.
Besoknya lagi dia tidak muncul, besoknya lagi. Besok besoknya lagi, besok besok besoknya lagi, dan ini berlangsung hingga seminggu.
Aneh, ada yang aneh.
Perasaanku terasa aneh. Seharusnya aku bahagia karena aku tidak perlu repot-repot mendengarkan suaranya yang cempreng dan tingkahnya yang norak. Tapi, kenapa terasa sepi, sekolah ini terasa sunyi meski banyak anak-anak yang berkeliaran disekitarku. Aneh.
Jangan-jangan saat aku memarahinya, dia meletakkan sesuatu di matanya yang membuatku terpikat padanya. Tapi aku menepis pikiran itu. Aku tidak mau mengakuinya, tapi aku merindukannya. Rindu, sampai dadaku terasa sesak. Hari-hari yang menenangkan ini begitu menyesakkan. Ada apa dengan ku?.
“ kamu tau nggak audrey?”. Aku menoleh ke belakang saat ada suara cewek yang menyebut nama cewek itu. Sebenarnya aku tidak mau peduli tapi aku penasaran. Jadi aku menguping saja.
“ tau, anak yang aneh itu kan?”. Sahut temannya. Ternyata bukan hanya aku yang menyebutnya aneh.” Kenapa memang?”.
“ aku denger kalau dia meninggal kemarin”. Kata cewek pertama yang membuat jantungku serasa jatuh ke perut. Aku menajamkan pendengaranku. Mungkin aku salah dengar.
“ kasihan ya dia,..”.
“ katanya sih dia sakit, nggak tau sakit apa. Masa nggak ada yang tau sih kalau dia meninggal?”. Suara anak kedua terdengar heran.
“ dia kan jarang bergaul, tiap hari dia kan nempel sama si Jonas mana sempet dia punya temen”.
Aku tertunduk mendengar percakapan mereka. Lututku terasa ngilu, sekuat tenaga aku tidak membiarkan tubuhku terjatuh. Aku memang tidak tau apa-apa tentang dia sama sekali, aku hanya sibuk mengabaikannya tanpa berniat mencari tau siapa dia. Saat tau dia selalu sendirian selama ini aku merasa jahat. Aku satu-satunya orang yang dia ikuti dan dia berharap aku mau menjadi temannya. Dan aku mengabaikannya.
Rasanya ada sesuatu yang mencengkeram hatiku saat ini dan memukul seluruh keegoisanku hingga ke titik terbawah. Aku merasa bersalah dan menyesal telah mengusir gadis itu terakhir kali. Bahkan aku membuatnya menangis di detik-detik terakhir hidupnya.
Tepat di saat aku mengangkat wajahku, aku melihat mading tepat di depanku. Dan tepat di depan mataku aku membaca sebuah nama ‘Audrey Anindita’ di bawah sebuah puisi.
Hallo, orang asing.
Kamu yang tidak tau siapa aku membantuku berjalan saat aku terluka. Saat orang lain pura-pura tidak melihatku kamu mengangkatku dan membantuku berdiri.
Hallo, orang asing.
Kamu yang tidak tau mengapa aku terluka, membantuku berjalan pelan-pelan. Membuatku sadar bahwa aku harus bangkit dari keterpurukanku bukan mengeluh karena tidak ada yang mengerti aku.
Tahukan kamu orang asing?
Kamu adalah kekuatanku untuk berdiri dan kamu alasan aku ingin hidup lebih lama. Belum pernah aku bahagia saat kamu datang mengangkatku waktu itu. Sehingga aku ingin terus bersamamu merasakan kebahagiaan yang sama setiap hari.
Audrey anindita

Aku baru sadar alasan kenapa dia menempel padaku setiap hari, menggangguku setiap hari, menyapaku setiap pagi. Dia hanya ingin bahagia di akhir hidupnya, dia ingin berteman denganku. Dan aku mengabaikannya. Aku merasa jahat, sangat jahat. Aku mencengkeram dadaku yang tiba-tiba terasa sakit.
Tanpa aku sadar, satu tetes air mata mengalir di pipiku. Aku menyekanya cepat-cepat. Tapi aku tidak bisa menghentikan sesak di dadaku. Pikiranku terbang di saat aku pertama masuk MOS, saat aku melihat seorang anak kecil terjatuh di pinggir lapangan karena dihukum senior dengan kaki berdarah, saat itu aku tidak melihat dia siapa, aku hanya membantunya berdiri mengantarnya ke UKS tanpa berkata-kata lalu pergi. Aku bahkan lupa tentang peristiwa itu. Aku tertunduk di depan puisi yang ditulis audrey untukku, kertasnya sudah kumal dan kecoklatan, aku menyesal tidak pernah membaca mading selama ini.
“maaf ya drey…”. Gumamku penuh sesal.
Untuk menebus kesalahanku, aku hanya bisa berdoa agar dia tenang dialam sana. seharusnya aku tidak mengabaikan siapapun yang datang dalam hidupku, karena mereka pasti mempunyai arti dalam hidupku. Mereka akan terasa berharga saat mereka sudah tiada, jangan menunggu menyesal untuk menghargai keberadaan seseorang, karena penyesalan muncul belakangan dan mungkin mereka tidak akan kembali saat penyesalan itu muncul. Sekarang aku benar-benar sangat menyesal karena sudah mengabaikan dia, Gadis cempreng pengganggu bernama Audrey Anindita.



Kamis, 12 November 2015

Surat Untuk Nata : HUJAN hari ini.

Hai, Nata apa kamu merindukan Hujan? kamu pasti merindukan Hujan, karena waktu itu kamu sering bertanya padaku apakah di rumahku sudah turun Hujan? dan waktu itu cuaca masih panas-panasnya.

Hari ini berita gembira untukmu Nata, hari ini biji-biji awan sudah memenuhi langit di atas kepalaku, pertanda kalau Hujan akan turun. Semua orang tersenyum menatap langit, sama sepertiku, karena hawa dingin akan kembali mampir, musim panas segera berlalu. Apakah kamu juga tersenyum menatap langit? Bukankah kita masih berdiri di bawah langit yang sama. Kamu, juga pasti bisa merasakan hujan pertama yang akan hadir hari ini, bukan?
Sentuhkanlah jemarimu, pada tetes-tetes hujan yang hari ini akan turun, karena aku menitipkan segala macam Rindu untukmu. Coba dengarkan dari Hujan, seberapa banyak aku merindukanmu?

Aku tau apa yang kamu tunggu dari Hujan, bukan milyaran tetes air yang menyenyakkan tidur siangmu, atau hawa dingin yang menyelamatkanmu dari kepanasan, Tapi Kabut. Iya, Bias Uap putih tipis-tipis yang kamu sukai.
kamu pernah bilang, kalau kamu jatuh cinta pada kabut. lalu, jatuh cinta sama aku kapan? *maintusukgigidipojokan

Kamu menyukai Kabut, Kabut membuatmu Jatuh cinta, nanti, aku akan belajar dari Kabut bagaimana membuatmu jatuh cinta. Hahaha.
Katamu, waktu itu kamu ingin memotretku di saat kabut, kamu ingin aku menjadi modelmu, setengah bertanya setengahnya tak percaya, aku bertanya, apakah kamu sedang bercanda? Dengan lugas kamu bilang, kalau kamu tidak bercanda. Kamu ingin memotretku dengan hadiah darimu, sebuah scarf.
Aku tersenyum tanpa bisa mengontrol diri, Kamu tidak akan tahu bagaimana aku merasa bahagia, sekaligus bingung, apa yang harus aku lakukan nanti untuk bergaya, kamu tahu persis aku bukan orang yang bisa bergaya, dan belum apa-apa aku sudah deg-degan. Bagaimana tidak, di saat kamu jatuh cinta, kamu ingin aku berada di sana. Baiklah aku baper dan ke-GR-an lagi untuk kesekian kalinya.

Nata, Hujan sudah turun!. Mengguyur deras. Membasahi seluruh bumi yang aku pijak, membawa aroma tanah masuk rumah, membuat kodok bernyanyi keras dan menghantarkan hawa dingin. Semua orang bahagia, terlihat dari PM yang mereka tulis. Apakah kamu juga bahagia?
Hujan deras hari ini, pertanda musim hujan baru saja dimulai, yang katamu kabut juga akan datang.Sama sepertimu yang sedang menunggu kabut karena kamu menyukainya, aku juga menunggu kabut, karena di saat itu kamu pernah berjanji untuk datang untuk memotretku dengan scraft darimu.

Tuhan, Jitak kepalanya kalau dia lupa, pliss.




Sabtu, 07 November 2015

Surat Untuk Nata : Cerita Sore




Hei Nata, Selamat kepada kamu yang sudah tidak lagi merasa sepi.
Jika kamu kesepian, cari saja aku, aku masih di sini, belum kemana-mana.

Sore ini aku melihat rumput hijau membentang, dengan pohon beringin berdiri di tengah-tengah. Cukup begini saja aku sudah mengingatmu dan merindukanmu. haha. Aku tersenyum kecut.
Sore-sore begini dengan kondisi lelah seperti ini setelah seharian dibius dengan hiruk pikuknya pekerjaan sepertinya akan menyenangkan kalau aku pergi piknik. Dan mengajakmu.
Sore ini aku ingin bercerita tentang aku dan impianku tentang kamu, tentang harapan yang tak pernah berhenti aku minta pada Tuhan, bersamamu sepanjang waktu.
Sore begini, tepat sebelum senja, ketika angin masih semilir membawa hawa segar dengan cuaca panas dan langit masih biru.
Aku membayangkan kita berada di bawah beringin di tengah rerumputan itu. sedang menikmati sore di atas tikar bermotif kotak-Kotak.
Aku duduk sambil membaca buku karangan Andrea Hirata yang berjudul Padang Bulan sambil bersandar pada lututmu yang sengaja kamu tekuk untuk punggungku dan kamu terbaring di sebelahku, setengah terlelap. Kamu mengenakan kaus putih polos favoritmu yang pernah kamu tunjukan padaku, dan celana jeans belel yang sering kamu pakai. Rambutmu yang sudah sebahu kamu ikat rapi ke Belakang, dengan karet hitam yang pernah aku berikan untukmu.
kamu terbaring dengan posisi terlentang, Lenganmu sebelah kiri kamu jadikan bantal, lengan kanan menutupi kedua mata. Karena matahari yang menembus ruam-ruam daun membuatmu silau. Kamu tahu, melihatmu terlelap tanpa sekat pasti akan menjadi hal favoritku.
hey Nata, melihatmu terlelap membuatku ingin ikut berbaring di sebelahmu yang tertidur, lalu diam-diam memandangimu terlelap dan kemudian membisikkan sesuatu di telingamu. Membisikkan pengakuanku padamu. Semua tentang perasaanku,bahwa di sisimu adalah tempat yang menakjubkan.
aku pasti akan terkikik sendiri, dengan wajah masam karena terganggu, kamu akan membuka setengah matamu, lalu tersenyum melihatku sedang menggodamu. Kamu membiarkan aku berbaring di sebelahmu dan kita bercerita tentang banyak hal. Tentang kita. Atau kita akan sama-sama terlelap di bawah senja dan terbangun untuk melihat matahari tenggelam bersama.

ya, itu hanya bayangan, bukankah aku terlalu berimajinasi?
tinggal di dunia imajinasi terasa menarik bagiku, karena di dunia nyata, kamu melupakan aku. Kamu yang sering membuatku merasa berarti, kemudian merasa bodoh.
Aku masih ingat Nata, kamu yang selalu bertanya aku sedang dimana lalu mengajakku melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Bagaimana kamu menatapku diam-diam dan aku mendapatimu sedang menatapku. Anggap saja aku Ke-GR-an, faktanya aku memang sedang keGRan, lalu aku Jatuh cinta padamu, kemudian patah hati.

Sama seperti ketika kamu memintaku menunggumu di Garis finish di Lomba lari pertamamu, Bisakah kamu memintaku untuk menunggumu di Garis Finish kesendirianmu? Dan aku akan menunggumu, entah dengan sabar atau sebal, yang pasti aku akan menunggumu, menunggumu berhenti berlari-lari dari hati ke Hati.


Kamis, 05 November 2015

Surat untuk Nata

kepada Nata yang tak pernah lelah namanya aku ceritakan pada Tuhan.

Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?
merindukanku? Hahaha, i am kidding. Itu salah satu harapan yang aku titipkan pada Tuhan, kamu akan merindkukanku setiap hari.
Hai Nata,
carilah aku kalau kamu kesepian, aku masih disini, di tempat yang sama terakhir kali kamu meninggalkan aku. Iya, di Hari terakhir musim Hujan.

Hai Nata, kalau kamu sedang bertanya apa yang sedang aku lakukan, aku sedang merindukanmu,
Seperti palangkaraya merindukan Hujan, Riau yang merindukan langit biru dan seperti kalimantan yang merindukan Udara bersih. Mungkin, Rinduku lebih dari itu. Mereka masih punya harapan, sedangkan aku?

Hai Nata,akhir-akhir ini aku sering memimpikanmu, apa kamu baik-baik saja? aku bercerita pada sahabatku tentang mimpi yang ada kamu di dalamnya. Temanku bilang, itu hanya godaan Jin. apa kamu percaya? apa kamu pernah mendengar tentang sesosok makhluk yang menjadi penunggu rumah atau kamarmu yang sering menatapmu kala kamu sedang terlelap, jika kamu percaya, sungguh aku iri pada makhluk yang ada di kamarmu. Bisakah aku menggantikannya agar aku bisa menatapmu lekat ketika kamu sedang terpejam. baiklah, aku ngelantur.
Temanku bilang, aku sedang disukai oleh sesosok Jin, dan Jin itu yang sering datang kedalam mimpiku dan menggodaku di sana. Jujur aku lebih suka hidup dalam mimpiku karena ada kamu disana. Baiklah aku neglantur lagi.
aku takut?
iya aku sangat takut. Sekaligus sebal. jika benar itu Jin, mengapa dia harus menggunakan sosokmu untuk menggodaku? tentu saja aku tergoda mentah-mentah, efeknya? aku gagal move on. Iya move on dari kamu. Aku semakin merindukan kamu. Jin itu tidak tahu bagaimana beratnya aku berusaha melupakanmu dan bagaimana lamanya aku menunggu aku bisa bernafas tanpamu. Dia membuat cerita yang begitu aku inginkan menjadi nyata.

Nata, temanku bilang aku harus banyak berdoa, sering membaca Al-quran di kamar agar Jin itu tidak menggangguku lagi, tapi, entah kenapa aku malah takut kehilanganmu untuk kedua kalinya di mimpiku. Jika di mimpiku aku bisa bertemu denganmu, haruskah aku membiarkan Jin bersosok dirimu itu berkeliaran saja di mimpku agar aku tetap bisa melihatmu dan menghancurkan Rindu yang semakin menggunung perlahan-lahan? Dan membuatku tidak ingin bangun selama-lamanya. Bagaimana mungkin aku ingin Bangun, jika di dalam mimpiku aku bisa memelukmu erat?
hahaha, tidak, aku hanya bercanda.
Tapi, Rinduku ini tidak pernah bercanda. Rinduku ini Nyata, seperti kamu yang nyata-nyata sudah pergi tapi aku masih berharap. Kamu pasti lupa Nata, kamu pernah bilang akan mengajakku pergi, iya kamu pasti lupa membawaku pergi. Kalau kamu sudah ingat janji itu, aku masih di sini, di tempat yang sama persis ketika terakhir kamu meninggalkan aku. iya, di sini. Masih ingat kan dimana? :'