Senin, 21 September 2015

kepada kamu yang tidak pernah lupa aku Rindukan



kepada kamu yang Rindu ini tidak pernah sampai,

hai kamu sedang apa?
merindukanku?
kadang aku merasa terjebak dalam sebuah permainan yang tidak pernah berakhir,mungkin akan berakhir tapi aku tidak tau kapan akan berakhir.
sebuah permainan yang bernama Jatuh Cinta. pemainnya adalah waktu dan perasaan.
kamu dan aku, hanya Pion yang sedang mereka mainkan. atau hanya aku yang sedang dimainkan?
Jatuh cinta, Ketika waktu mempertemukan kita dan perasaan menangkap ku untuk jatuh cinta padamu. Dimana waktu kadang menempatkanku pada masa aku sangat bahagia hanya melihatmu. Lalu perasaan mulai memainkan tombolnya.
 Hanya melihatmu,tanpa harus bicara apalagi menyentuhmu aku sudah merasa bahagia. Lalu,waktu menghancurkan perasaan dan membuatku patah. Ketika waktu menghilangkanmu begitu saja.
Lalu waktu mempertemukan aku dan kamu,membuat perasaan tumbuh kembali,membuatku merasa bahagia ketika waktu membiarkan kita bicara tanpa sekat dan tertawa tanpa batas. Perasaan mulai tumbuh dan tumbuh, namun tidak butuh waktu lama,dia menunmbangkan perasaan dan membuatku hancur. seterusnya begitu. aku tidak tau kapan waktu akan berhenti mempermainkan kita. aku bisa mati kalau waktu terus saja menumbuhkan perasaan lalu membunuhnya begitu saja.
hai kamu, pernahkah kamu bertanya pada sang waktu kenapa dia memilihmu sebagai pionnya?
kadang, waktu membuatku ingin menyerah,begitu sulitnya untuk Jatuh cinta padamu. Perasaan tidak begitu kuat untuk melawan sang waktu,tapi dia sangat kuat untuk menghadapimu. Dia membuatku terlihat bodoh di depanmu, karena sesering apapun waktu menghancurkannya dia tidak pernah membiarkan aku menyerah. Dia tetap membuatku harus bermain denganmu. sekeras apapun aku memberontak,perasaan semakin kuat mendorongku,dia tidak tahu bahwa dia sebenarnya lemah.
kadang sang waktu,membuatnya berfikir bahwa dia harus berjuang untuk membuatmu jatuh cinta,lalu mengorbankan aku. Dia tidak tahu bahwa aku lelah, dia hanya berfikir tanpamu dia bisa mati dan aku juga akan mati tanpa perasaan.
hei kamu, bisakah kamu meminta sang waktu untuk bermain sejenak? atau biarkan sang waktu membuatku bersatu denganmu,agar sang perasaan tidak trus-trusan terluka.
hai kamu, Jatuh Cinta padamu adalah hal paling bahagia yang aku lakukan, dan melupakanmu adalah cara membunuhku diam2. Begitu hebatnya sang waktu membuat perasaan terbang lalu menjatuhkannya lalu membantunya bangkit melalui dirimu.
hei kamu,aku ingin waktu membantuku menyampaikan Rinduku padamu,sekali saja,apa kamu akan merasa senang? bisakah perasaan tumbuh di hatimu juga? agar kamu juga merasakan bagaimana waktu sedang bahagia bermain dengan perasaan kita.
tapi sayang,waktu hanya bermain dengan perasaanku. aku hanya bisa berharap sang waktu tidak pernah mengambilmu,tetap menjadikanmu pionnya yang akan terus bermain denganku,sampai aku benar lelah dan membuat perasaan menyerah, setidaknya tidak akan ada penyesalan meskipun waktu tidak mengijinkan kita bersama.
Hai waktu, bisakah kamu ijinkan aku memeluknya sekali saja? s



Sabtu, 05 September 2015

cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi #Ending

Semenjak Cris memeluknya-tepatnya membagi jaketnya pada Bali, Bali jadi sering merasa canggung dekat-dekat cowok ini. sekarang mereka turun dari kawah menuju lembah Paltuding dengan kecanggungan luar biasa. Bali jadi sering gagap mendadak setiap ditanya oleh Cris, selama perjalanan Bali hanya diam, cris sibuk memotret sekitarnya. Cris sangat terpesona saat matahari muncul tadi, dia bisa melihat bentangan danau berwarna biru di hadapannya.
“mas Angga?Vka?”. langkah Bali terhenti,Cris yang tidak tau Bali berhenti tiba-tiba , nyaris menabrak Bali.
“hey!”. Bentak Cris. Tapi niat mengomelnya diurungkan setelah melihat Bali tertegun di hadapan dua anak yang sedang mendaki dan sama kagetnya dengan Bali.
Vika dan Angga tampak salah tingkah, tadinya mereka berpelukan tapi langsung dilepaskan ketika Bali menyebut nama meraka.
“sorry Bali,aku nggak bermaksud buat…”. Vika tampak bingung dengan apa yang harus dia jelaskan.
“udahlah vika”. Angga menepuk bahu Vika. “sorry ya Bali, kita berdua udah jadian, dan sorry aku nggak suka sama kamu, aku sukanya sama Vika”, jelas Angga yang membuat Bali menatap mereka benci. Semudah itu?. Tapi sebelum air matanya mengembung,sebelum Bali melanjutkan langkahnya ke bawah. Bali tersenyum lebar..
“aku juga gak suka sama kalian”.
Sekali lagi Bali tersenyum, menguatkan hati, lalu pergi meninggalkan Vika yang tampak merasa bersalah dan Angga.
Cris memang tidak mengerti dengan peristiwa itu, tapi mengingat cerita Bali semalam tentang gebetannya yang bernama Angga dan sahabatnya yang bernama Cika. Cris sepertinya mengerti. Cris mendengus kearah dua anak itu lalu berlalu mengikuti Bali.
“lo nggak apa-apa?”. Tanya Cris saat mereka memasuki mobil. Bali masih tertegun lalu menggeleng.
“aku nggak apa-apa”. ujarnya datar, tapi tidak bisa menahan bendungan air di matanya. Cris mengulurkan sekotak tissue dari Dasbor.
“kalau mau nangis, nangis aja, gue akan pura-pura nggak denger dan gue nggak akan lapor ke manager lo”. tukas Cris, tidak lama, Bali meledak dia menangis sejadi-jadinya. Cris menghela nafas, lalu menghidupkan mesin mobil. tanpa berminat bertanya lebih lanjut, walau sebenarnya Cris ingin menghibur gadis ini, tapi dia tidak tau caranya.
Sampai Cris mengambil barang-barangnya di Hotel, sampai mereka ada di perjalanan menuju stasiun Bali masih diam. Dia masih berusaha menenangkan dirinya. Dia juga tidak tau kenapa dia bisa sesedih ini. Nino, sopir mereka menatap Bali bingung. Dia melirik Cris yang juga tampak diam duduk di belakang menatap keluar jendela.
“cowok kayak gitu nggak pantes lo pikirin”. Ujar Cris saat mereka turun di Stasiun. Aneh , dia merasa kesal melihat gadis itu diam, karena patah hati. Bali menoleh padanya dengan sisa air mata yang mongering di bawah kelopak mata.
“aku tau”. Sahut Bali datar. Cris mengigit bibir bawahnya tidak tau harus mengatakan apa lagi.
“lo kan cewek, cantik, menarik. Pasti banyak lah yang suka sama lo, dibanding siapa tadi? Gue yakin banyak yang lebih baik dari dia”. Cris tertawa kecil agar gadis ini ikut tertawa tapi ternyata nggak berhasil.
Bali tidak mengerti apa yang membuatnya sedih sebenarnya?. Sahabatnya yang menghianatinya? Gebetan yang menolaknya terang-terangan? Atau kepergian Cris?. Bali menatap Cris lurus-lurus.
“Thankz”. Sahut Bali singkat, dia juga tidak berminat mengatakan banyak hal apalagi salam perpisahan. Dia merasa tidak ingin berpisah dengan cowok ini.
“baiklah, waktunya gue pergi. Harus gue akui,…”. Cris mencoba menata kata-kata yang tepat yang ingin dia katakan. “gue nggak suka lihat lo nangis, gue lebih suka lihat lo marah, jadi sebelum pergi gue pengen bikin lo marah”. Cris nyengir, Bali tidak mengerti maksud Cris, hingga Cris memajukan tubuhnya dan mencium kening Bali cepat. Bali tertegun merasakan sesuatu yang menyentuh keningnya barusan. Butuh beberapa detik untuk menyadarinya.
“HEY!!”. Pekik Bali melotot pada Cris. Apa yang barusan dia lakukan?. Tapi sebelum Bali berniat memukul cowok itu, Cris sudah memasangkan topi miliknya pada Bali. Cris terkekeh merasa berhasil.
“gue akan kembali, jadi tunggu gue ya, dan jangan melirik cowok lain apalagi menangisi Angga, karena saat gue kembali gue mau lo jadi pacar gue”. Cerocos Cris cepat yang sulit ditangkap oleh Bali. Bali melongo. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia dengar.
“heh?ap-paa? pac..ar??”.
“dasar lemot”. Cris mencubit pipi Bali yang masih terbengong, gemas. “dagh!”. Dia melambaikan tangannya, tersenyum sebentar lalu berlari kearah peron. Keretanya sudah menunggu di sana.
Bali terbengong, menyaksikan kejadian yang sangat cepat itu, Cris mencium keningnya, Cris mengenakan topi miliknya pada Bali, mengatakan hal-hal yang menyenangkan dan mencubit pipinya dan sekarang dia sudah berada di dalam kereta. Bali tersadar, senyum cowok itu begitu cantik. Bali senyum-senyum sendiri.
“woy! Sampe kapan berdiri disitu?”. Teriak Nino yang mengaburkan kebahagiaan Bali. baru sadar kalau Bali berdiri di tengah jalan.  Bali berhambur kearah Nino dengan tersenyum lebar, sudah lupa sama patah hatinya yang tadi, sudah lupa sama penghianatan yang tadi, berkat Cristopher.
Bali kembali menatap stasiun, keretanya sudah bergerak. Dan dia berjanji akan menunggu Cris sampai dia datang lagi. semoga secepatnya. Bali ingin segera menatap lagi mata coklat dan Rambut yang kemerah-merahan.
The end.


Jumat, 04 September 2015

cerbung : Ada cinta di Banyuwangi #PART VII

Menit berikutnya, Cris menceritakan bagaimana saat dia dan Melisa bermain air di sungai. Melisa terjatuh dan kepalanya terbentur batu. Seketika Melisa meninggal di tempat. Cris shock berat melihat gadis yang disayanginya meninggal di pangkuannya. Sejak saat itu cris mengalami phobia pada sungai. Setiap melihat sungai, dia teringat kejadian saat itu.
“ so sorry to hear that”. Bali benar-benar merasa bersalah sekarang.
Cris mengangguk singkat lalu melanjutkan ceritanya, Bali hanya mendengarkan tanpa menyela sama sekali, membuat cris terus mengeluarkan uneg-unegnya tentang masa lalunya. Sepertinya, ini baru pertama kali Cris menceritakan bebannya pada orang lain.
Bali merasa tidak enak mendengar semua kejadian sedih itu. ngomongin soal pacar, Bali jadi teringat dengan mas Angga. Seharusnya malam ini adalah hari jadiannya dengan mas Angga. Berkat ?Vika, yah mungkin tidak bisa hari ini.
“sorry”. Gumam cris lagi, tidak menyangka bisa menceritakan hal yang paling ditutupinya selama ini pada gadis yang baru dikenal. Cris merasa sesak nafas, dia tidak sadar selama bercerita dia menaiki tanjakan. Sehingga nggak sadar kalau dia merasa lelah.
“minum dulu”. suurh Bali . “aku nggak bawa minum tapi,hehe”. Bali nyengir. Melihat cengiran itu cris merasa sedikit lebih tenang. Aneh.
“makasih, sorry tadi gue malah curhat”. Sesal Cris, merasa takut kalau cewek ini menilai dia cowok mellowdrama.
“nggak apa-apa, nggak baik juga di pendem sendiri, kamu harus menceritakannya juga ke orang lain”. ujarnya membuat Cris merasa semakin canggung. Ada yang aneh.
Setelah agak baikan mereka melanjutkan perjalanan di tengah gelap di antara banyak orang yang juga melakukan pendakian. Setelah mendengar keluh kesah cris yang kelelahan dan sikapnya jauh lebih lembut dari sebelumnya, Bali merasa nyaman dengan cowok ini. dia juga bisa menceritakan tentang gebetannya, mas Angga pada cris.
 seperti ada sihir yang menyentuh mereka. hingga mereka sampai di puncak.
Cris berdecak kagum melihat bentangan api biru di hadapannya. Bali bercerita tentang mengapa Api Biru itu muncul dan Cris memotretnya dengan lincah. Cris ingin turun tapi Bali menolak karena resiko yang besar. Bali melirik arlojinya yang menunjuk pukul 3 pagi.
“apa kita nunggu sunrise juga?”. Tanya Bali pada cris dengan suara decikan gigi yang tidak terlalu kentara, tubuhnya mulai gemetar, kedinginan. Cris mengangguk tanpa menoleh.
Bali mendesah lalu menggosok-gosokan kedua tangannya yang kedinginan. Melakukan gerakan-gerakan kecil untuk menghangatkan diri. Jadinya, Bali lebih mirip senam.
“lo kedinginan?”. Tanya Cris dengan dahi mengerut. Bali melongo. Menurut mu? Sahut Bali dalam hati. Apa dia nggak ngecek ponsel berapa derajat suhu udara saat ini disini? Jusf for info, 6 derajat celcius. 
“eh? Ngg-ak ter-lalu sih”. Ujarnya dengan nada gemetar yang tidak bisa dia sembunyikan. Kentara banget kalau bibirnya nyaris beku.  Tubuhnya menggigil. Cris menatap Bali cemas.
“ummm, jangan salah paham ya, tapi gue nggak mau lo mati kedinginan dalam tugas lo”. Cris mendekap tubuh Bali dari belakang, memberikan sedikit rasa hangat dari jaket tebalnya. Bali spontan terdiam, cowok ini memeluknya dan membuat seluruh tubuhnya malah terasa panas. Bali tidak bisa beranjak, dia seolah terpaku. Menikmati kehangatan yang dia rasakan saat ini, rasanya seperti mimpi. Dia malah bisa merasakan detak cowok itu di punggungnya, dan wangi gula dari tubuhnya.
“nanti setelah melihat matahari terbit, gue langsung Balik ke Jakarta. Jadi gue butuh istirahat sebentar. Nanti bangunin gue”. ujar cris tepat di sebelah telinga Bali, membuat tengkuknya terasa hangat. Bali mengangguk seperti robot karena grogi parah, dia baru sadar kalau hari ini hari terakhir Cris. Kenapa rasanya jadi nggak mau dia pergi?.

Cris menyandarkan tubuhnya di punggung Bali dan menaruh kepalanya di atas kepala Bali. tangannya melingkar di leher Bali. Rasanya benar-benar hangat. Bali berdiri sekuat tenaga agar cowok itu tidak terjatuh. Baru pertama kali Bali sedekat ini dengan cowok. Jantungnya berdetak begitu cepat, ada apa ini?. Sekarang Bali merasa dia tidak ingin matahari terbit selamanya. (bersambung)

Kamis, 03 September 2015

Cerbung : Ada Cinta di Banyuwangi #partVI

Sejak siang tadi cris tidak keluar dari kamarnya.  setelah kejadian di sungai tadi, cris tidak lagi galak atau bawel. Dia tidak bicara sama sekali tatapannya datar mengerikan. Bali tidak tau alasannya. Yang jelas Bali merasa takut juga merasa penasaran sekaligus. Terus mendakinya gimana?
Bali menatap resah ponselnya, Vika dan mas Angga dengan kompak memberitahu kalau mereka batal nonton kembang api bersama dengan alasan mas Angga bertugas dan Vika tiba-tiba meriang. Padahal dia sudah bersiap untuk pergi,  karena melihat tamunya tidak turun sedari tadi kemungkinan pendakian batal malam ini dan dia bisa menonton kembang api bersama mas Angga. Tapi,sudahlah.
Bali mendesis putus asa, sekali lagi dia menatap baju terbaiknya yang sengaja dia gunakan khusus untuk malam ini. Dia geletakkan lagi tas selempangnya asal dan duduk di balik meja resepsionis dengan lesu. Kenapa malam tahun baru dia sekacau ini? huuft.
Tepat ketika dia menggerutu, Bali terlonjak kaget begitu melihat cris tiba-tiba muncul dan sudah siap dengan jaket tebal, topi hangat dan ransel, berdiri tepat di depan resepsionist. Sejak kapan cowok ini ada disini?
“ayo, bukannya lo harus nganter gue?”. Tanya cowok itu tajam.
Bali gelagapan, “ini masih terlalu dini mas bro” sambil menunjuk jam dinding. “seenggaknya habis kembang api baru kita jalan”. kata Bali penuh emosi, yang hanya mendapat respon berupa dengusan singkat.
Cowok itu benar-benar tidak mengindahkan kata-kata Bali, dia tetap memilih melangkah kearah tropper seenaknya. Itu artinya tidak ada negosiasi. Bali tidak punya pilian selain mendesis dan menuruti tamunya, Bali mengambil jaket seadanya, sepatu boots juga tas kecilnya tadi. bukan tas ransel yang biasa dia gunakan untuk memandu tamu ke Kawah Ijen. Biasanya dia isi tasnya dengan air minum dan roti, tapi kali ini nggak sempat. Bali berlari buru-buru kearah tropper yang sudah dihidupkan mesinnya oleh Cris, sebelum cowok itu meninggalkannya, tanpa bayaran.
 “kamu baik-baik saja?”. Tanya Bali berhati-hati, wajah cowok ini dua kali lebih menakutkan dibanding saat pertama mereka bertemu. Cris tidak menjawab. cowok itu sepertinya terlalu focus mengemudi , Bali tidak mau mengganggu dan memilih diam juga menahan dingin.
Cris memarkir mobilnya di antara puluhan tropper lainnya, Paltuding benar-benar ramai malam ini. banyak tenda-tenda yang berdiri di area lapangan. Bali memeluk tubunya sendiri dan menahan diri agar giginya tidak bergesekan. “ kita harus menunggu sampai jam 2 baru kita bisa mulai mendaki” ujar Bali pada Cris yang sudah berdiri di sampingnya. Seperti biasa, Cris tidak menyahut dan neloyor pergi. Huft.
“tahu kan artinya kita harus nunggu empat jam-an lagi”. kata Bali gemetar, sambil berusaha mengikuti langkah Cris yang berjalan ke arah lapangan. “by the way, kamu mau kemana?”.
“ boleh gabung?” Cris berdiri di antara grombolan anak-anak camping yang sedang menyalakan api unggun. Seorang anak mengangguk lalu mengijinkan Cris duduk di tikar sebelahnya. Cowok itu menoleh pada Bali “ mau berdiri selama empat jam-an?”. Cris menepuk tempat kosong  di sebelahnya.
Bali langsung duduk di sebelah Cris. Pemandangan luar biasa ketika Cris cowok pemarah dan moody itu langsung akrab dengan orang baru, bahkan mereka bisa ngobrol banyak dan membuat Bali seolah Arca. Yang paling mengagumkan cowok itu bisa main gitar dan menyanyikan sebuah lagu Hero dari Family of the year dengan wajah ceria. Setelah itu dia tidak mengingat apapun.
Duarrrrr…..duaarrrrr…..
Bali merasakan kepalanya sakit terbentur tanah, sepertinya barusan dia terjatuh tapi entah darimana. Bali meringis kesakitan, begitu membuka mata semua orang menatap kearah langit yang sudah penuh dengan kembang api. Bali terkagum sesaat, segera dia mencari Cris. Cowok itu tidak jauh darinya sedang menatap langit sambil memutar sendi lengannya, seolah dia baru saja mengangkat beban berat.
“ happy new year!”. Sorak Bali pada Cris dengan mata mengantuk.
“ sudah terlambat lima menit”. Sahut Cris datar, Bali mengecek jam tangannya dan Cris benar. “ Gue pikir lo bakalan ngelewatin tahun baru tanpa kembang api”
Bali mendesis sebal, cowok jahat ini tidak membangunkannya ketika dia tau kembang api sudah mulai. Sekali lagi, untung dia tamu.
Pukul 2 tepat, mereka memulai pendakian berbekal senter kecil bersama puluhan orang lainnya. Bali berjalan sambil memeluk tubuhnya karena dingin.
“ lo nggak pake jaket naik gunung? Bener-bener pemandu tangguh” pujian yang lebih tepatnya sindiran dari Cris. Bali yakin cowok ini sedang tertawa mengejek.
“berkat orang moody yang aku pikir nggak jadi naik gunung dan tiba-tiba muncul jam 8, sorry for unwell preparation”. Bali berusaha tidak berkata dengan sinis. Tapi, memang benar salah dia kan?
Cris tidak segera membela diri, dia diam sejenak, mengatur nafas dan mulai bicara.
“gue cuma nggak suka ngeliat sungai”. Ujarnya lebih lembut, tatapan matanya yang tajam tadi terlihat sedih. Bali jadi merasa bersalah.
“hahahaha,…orang Jakarta gak suka main di sungai ya”. Bali memaksakan diri melucu, tapi malah garing. Cris diam lagi beberapa saat, menimbang antara dia ingin bicara dan tidak. Bali tidak ingin memaksanya bercerita, hanya rasanya ada yang mengganjal pada dirinya kalau tidak mendengarkan apapun yang membuat Cris sedih. Tapi lebih baik tidak mendengar apa-apa. "eng,..enggak usah ceri....".
 “pacar gue meninggal di sungai gara-gara gue,namanya melisa”. Kata Cris dengan pelan dan berat sebelum Bali menyelesaikan kata-katanya. Bali mendelik lalu mendekap mulutnya. Bali menyesal sudah mendengarnya.(bersambung)