Surat Untuk Nata : Teman.

Hei Nata, Yang sedang pamer foto kabut di Bromo.
kamu sengaja bikin aku pengen datang kesana? atau cuma mau ngingetin kalau ada janjimu ketika kabut datang nanti?
kepalamu sudah diijitak Tuhan belum?
tapi, mengapa masih belum ada kabut disini :(?

Aku berharap kabut juga cepat datang disini, agar kamu datang dengan lensamu. Lalu, tolong bawa aku pergi bersamamu setelah itu, kemana saja...asal sama kamu.
disini begitu banyak kepalsuan, aku mulai muak. Entah, Mereka yang palsu atau ekspetasiku tentang mereka yang berlebihan?

Aku pernah bilang padamu, dulu, ketika kita duduk berdua di bangku kayu di tengah keramaian sedang menunggu es kacang hijau pesananmu. kalau aku tidak punya banyak  teman, aku hanya punya sedikit teman dekat. Dan kamu bertanya "aku teman apa?". Dengan setengah salah tingah aku menjawab " Teman...dekat". Dan kamu hanya tersenyum simpul. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu saat itu, dan ekspetasiku saat itu mulai berlebihan.

waktu itu aku bilang, aku hanya punya satu teman perempuan yang aku anggap sebagai "teman", Kamu tahu mengapa aku sungguh-sungguh menganggapnya sebagai teman? Semua orang menganggapnya orang yang buruk,jahat,..apalah,apalah. Tidak ada orang yang menyukainya, tapi aku menyukainya dan menjadikannya sebagai teman. Kamu tahu Nata alasannya? Karena dia sangat jujur. Dia tidak bisa menyembunyikan emosinya. Dia akan marah-marah jika dia marah, dia akan memaki jika ada yang salah yang menyakiti perasaannya, dan dia akan mengatakan apa yang ada di otak dan hatinya. Awalnya, aku juga tidak menyukainya, karena sifatnya yang keras kepala dan mudah marah, tapi di sisi lain, dia adalah anak yang pantang menyerah dan pendengarku yang baik. Dia tidak pernah mengeluh meskipun harus menyetir Banyuwangi-jember,jember-Banyuwangi untuk menemaniku yang saat itu sedang stress. Dia tidak pernah pamrih apapun yang dia lakukan, dan dia tidak pernah bersikap pura-pura manis di depanku untuk membuatku mengganggapnya orang baik. Dia terlalu apa adanya, Itulah, mengapa aku suka menjadi temannya.

Sama seperti kamu Nata, Banyak yang bicara keburukanmu di depanku, bahkan kamu sendiri bilang kamu bukan orang yang baik. Tapi, kamu adalah orang yang jujur di mataku. Kamu tidak pernah bicara manis di depanku untuk membuatku senang, malah sebaliknya. Kamu selalu menjadi apa adanya di depanku. Selalu bicara pedas dengan gayamu, Tapi memberiku banyak arahan. kamu selalu bilang " kamu itu masih polos,..". malah kadang kamu menyebutku " anak kecil...". Kamu yang selalu mengajariku bagaimana menjaga kesehatan dan mengingatkanku bahwa mengutamakan kesehatan itu penting. Kamu yang selalu bertanya masalahku apa? lalu membuatku bercerita dengan air mata menderu. kamu yang sering mengomeliku karena kecerobohanku lalu mengajariku bagaimana melakukan banyak hal dengan benar. Kamu yang selalu seenaknya, lalu mengalah untukku...
Nata, apa ekspetasiku menyebutmu orang baik berlebihan?





Comments

Popular Posts